oleh

Bupati TTS Epi Tahun Paling Bertanggung Jawab

Sabun Herbal Cyrus

SoE, RNC – Bupati Timor Tengah Selatan, Egusem Pieter Tahun merupakan orang yang paling bertanggung jawab atas pembangunan Rumah Sakit Pratama (RSP) Boking yang rusak parah. Baru setahun diresmikan oleh Bupati Epy Tahun tetapi RSP Boking yang menelan anggaran senilai Rp 17,4 miliar ini sudah rusak parah dan nyaris roboh.

“Hasil uji petik oleh Panitia Khusus (Pansus) DPRD TTS menemukan kerusakan parah pada RSP Boking yang baru diresmikan Bupati TTS, Epi Tahun, pada tanggal 21 Mei 2019 lalu. Apalagi, sejak diresmikan oleh Bupati Epi Tahun, RSP Boking memang sudah rusak. Karena itu, Bupati TTS Epi Tahun harus bertanggung jawab kenapa sampai mau meresmikan RSP Boking dalam keadaan rusak,” kata Wakil Ketua Pansus DPRD TTS, Uksam Selan kepada wartawan, Rabu (2/6/2020).

DPRD TTS, tegas Uksam Selan yang didampingi Ketua Pansus DPRD TTS, Marthen Tualaka, sangat menyayangkan keputusan Bupati TTS, Epi Tahun yang terkesan sangat memaksakan kehendak untuk meresmikan gedung RSP Boking padahal dalam kondisi rusak parah.

“Sebagai pemimpin yang bijak, seharusnya menolak untuk meresmikan RSP Boking karena kondisinya rusak parah. Ini justru terbalik? Ada apa sebenarnya? Masyarakat TTS bertanya-tanya, untuk kepentingan siapa Bupati TTS Epi Tahun mau meresmikan rumah sakit rusak,” kata Uksam.

Menurut dia, DPRD TTS melihat pembangunan RSP Boking mulai dari perencanaan, pelaksanaan hingga pengresmian sarat dugaan penyimpangan. Karena itu, salah satu rekomendasi Pansus DPRD TTS adalah merekomendasikan mendukung penuh proses hukum oleh Polres TTS.

“DPRS TTS memberi apresiasi yang tinggi dan mendukung penuh kinerja Polres TTS yang merespon dugaan korupsi pada proyek pembangunan RSP Boking ini. Proses penyelidikan harus dilakukan secara transparan dan terbuka. Jika tidak ada dugaan korupsi maka disampaikan kepada publik secara terbuka begitu juga sebaliknya,” tandas Uksam.

Pansus DPRD TTS lanjut Uksam, juga merekomendasikan agar pelayanan kesehatan di RSP Boking dihentikan dan dialihkan ke Puskemsmas Boking. Hal tersebut guna menghindari jatuhnya korban jika sewaktu-waktu gedung RSP Boking yang sebagian gedung sudah roboh kemudian ambruk dan memakan korban.

Selain itu, beber Uksam, Pansus DPRD TTS merekomendasikan agar Pemkab TTS segera menurunkan tim teknis dari dinas terkait untuk melakukan pemeriksaan secara teknis apakah gedung RSP Boking layak digunakan atau tidak. Sebab tenaga medis yang bertugas di RSP Boking diliputi perasaan ketakutan karena hampir setiap hari ada bagian-bagian dari gedung RSP Boking yang roboh.

Sebelumnya, Pelaksana Tugas (Plt) Direktur RSP Boking, Hardman Luat Sitorus mengakui jika RSP Boking sejak diresmikan dalam keadaan rusak parah. Alhasil, 10 ruang rawat inap yang dibangun dengan dana bersumber dari APBN ini tidak bisa dipakai hingga kini.

“Saat diresmikan oleh bupati memang gedung untuk ruangan rawat inap yang berada di bagian belakang sudah rusak. Jadi selama satu tahun beroperasi setelah diresmikan, kondisi gedung rawat inap tidak bisa dipergunakan sampai sekarang,” kata Hardman.

Hardman yang sebelumnya bertugas di RSUD SoE mengaku di tempat di RSP Boking bersama 21 tenaga medis lainnya bersamaan dengan pengresmian gedung RSP Boking tanggal 21 Mei 2019 silam. “Kita ditempat di sini, keadaan gedung sudah demikian adanya (rusak parah),” ujarnya.

Selama setahun bertugas, Hardman menyebut ada 1.000 lebih pasien yang berobat ke RSP Boking dan ada 16 pasien yang dirujuk ke RSUD SoE.

Meski statusnya adalah rumah sakit kata Hardman, namun RSP Boking selama setahun beroperasi tidak melayani pasien rawat inap. Kondisi ini dikarenakan 10 ruangan rawat inap yang ada dalam kondisi rusak terutama 4 ruangan di bagian belakang rusak parah.

“Waktu, kita terima kondisi rumah sakit sudah rusak parah seperti lantai yang amblas dan pecah, plafon yang roboh, tembok yang pecah-pecah dan sebagian pondasinya roboh,” katanya. (*/rnc)

Komentar

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

News Feed