oleh

Eliminasi Malaria di Sumba Barat Butuh Dukungan Lintas Sektor

Waikabubak, RNC – Dinas Kesehatan (Dinkes) Kabupaten Sumba Barat menyelenggarakan kegiatan “Evaluasi Kelompok Pendukung Desa Fokus Eliminasi Malaria Tahun 2022″ yang dibuka Wakil Bupati, John Lado Bora Kabba, S.Pd, Jumat (25/3/2022), di Aula Kantor Desa Kabukarudi, Lamboya.

Kegiatan itu bertujuan memonitor dan mengevaluasi pelaksanaan program pencegahan dan pengendalian malaria di kabupaten/kota, mengevaluasi pencapaian tahapan eliminasi malaria di daerah yang belum bebas malaria, membangun kemitraan lintas sektor terkait (pemerintah desa) dalam pencapaian eliminasi malaria serta mendorong pihak terkait menerbitkan regulasi tentang pencegahan dan pengendalian malaria, serta pemanfaatan Dana Desa dalam penanggulangan malaria.

Dalam sambutannya, John Lado mengatakan, Provinsi NTT sebagai Kawasan Timur Indonesia pertama yang kabupaten/kotanya berhasil mencapai eliminasi malaria. Sesuai hasil target yang ada, Provinsi NTT masih terus berupaya dalam proses penanggulangan malaria, karena masih terdapat 14 kabupaten/kota di daerah ini dengan endemis rendah, dua kabupaten/kota endemis sedang, dan tiga kabupaten/kota endemis tinggi.

Kabupaten endemis tinggi malaria masih terkonsentrasi di Sumba Barat, Sumba Timur, Sumba Tengah dan Sumba Barat Daya. Karena itu, pemerintah daerah berupaya melaksanakan fokus penanggulangan pada daerah dengan endemis tinggi malaria.

John Lado menerangkan, jumlah kasus malaria yang dikonfirmasi tahun 2020 sebanyak 15.341 kasus, lebih tinggi dari tahun 2019 sebanyak 12.909 kasus. Pulau Sumba dengan empat kabupaten menyumbang 95 persen kasus malaria, yaitu Sumba Barat Daya (8.496 kasus), Sumba Barat (4.391 kasus), Sumba Timur (1.639 kasus), dan Sumba Tengah (127 kasus).

“Karena itu, pemerintah berupaya melaksanakan fokus penanggulangan pada daerah dengan endemis tinggi malaria. Dinas Kesehatan telah melakukan upaya dengan mengadakan rapat teknis, serta melakukan pembentukan kelompok kerja untuk pengendalian dan pemberantasan malaria di Pulau Sumba. Salah satu tim pokja adalah tim Pemberdayaan Masayarakat Desa,” ungkap John Lado.

Menurutnya, diperlukan upaya yang menyentuh sasaran, yaitu masyarakat desa melalui Kelompok Pendukung Desa Fokus Eliminasi Malaria di Pulau Sumba. Desa fokus eliminasi malaria ini tentunya diharapkan menjadi contoh, untuk mendorong desa lain, sehingga mencapai desa eliminasi malaria. Desa fokus ini juga diharapkan dapat mengadopsi berbagai pendekatan, seperti gerakan sapu plasmodium dan gerakan cemara.

“Eliminasi malaria dilakukan secara bertahap, sesuai situasi malaria dan ketersediaaan sumber daya. Salah satu strategi percepatan eliminasi malaria, adalah dengan penguatan dukungan lintas sektor terkait, sektor swasta, institusi pendidikan dan lembaga penelitian di tingkat kabupaten,” ujar John Lado. Selanjutnya dilakukan penandatangan komitmen bersama untuk mendukung eliminasi malaria tingkat desa dan penyerahan kelambu secara simbolis kepada tokoh masyarakat Lamboya. (rcn22)

 

 

Komentar

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *