oleh

Irigasi di SBD Terbengkalai, KSP Moeldoko Sentil Pemda

Kupang, RNC – Kepala Staf Kepresidenan Moeldoko sangat menyayangkan irigasi yang tak merata menjadi persoalan utama di Desa Anaengge, Kecamatan Kodi, Sumba Barat Daya, NTT. Akhirnya, lahan pertanian yang tergarap baru seribu hektare.

Padahal, dengan wilayah yang relatif datar dan subur, Desa Anaengge bisa menjadi tulang punggung pertanian untuk kabupaten Sumba Barat Daya.

“Saya harap pemerintah daerah setempat segera bisa menyelesaikan persoalan irigasi ini. Sayang sekali, potensi yang begitu besar tidak dimanfaatkan dengan maksimal,” ujar Moeldoko saat bertemu petani desa Anaengge Sumba Barat Daya, Sabtu (26/2) dilansir dari merdeka.com.

Sebagai informasi, desa Anaengge dan beberapa desa lainnya di Sumba Barat Daya, rata-rata memiliki sumber air melimpah. Hanya saja, pengaliran sumber air ke lahan pertanian tidak merata. Pembangunan pipa-pipa untuk irigasi tidak bisa menjangkau ke seluruh lahan milik petani. Pemerintah daerah Sumba Barat Daya mengaku tidak banyak memiliki anggaran.

Moeldoko mengatakan, persoalan irigasi menjadi atensi presiden Joko Widodo. Sebab, selama ini produksi pertanian dirasa kurang maksimal karena persoalan pengairan. Karena itu, pembangunan bendungan masuk dalam program prioritas nasional.

“Pemerintah pusat -gencar membangun bendungan untuk mengatasi masalah irigasi. Harusnya ini menjadi pendorong bagi pemerintah-pemerintah di daerah untuk melakukan hal yang sama,” tegasnya.

“Saya akan sampaikan kepada kementerian teknis terkait, agar bisa mendorong pembangunan irigasi di sini (Sumba Barat Daya),” lanjut mantan Panglima TNI ini.

Moeldoko lalu mengajak para petani untuk meninggalkan pola-pola lama dalam mengelola lahan pertanian. Diantaranya dengan melakukan pengelolaan yang profesional, terutama dalam mengitung biaya-biaya operasional yang dikeluarkan.

Menurutnya, selama ini kehidupan ekonomi petani tidak banyak berubah. Penyebabnya dalam penggarapan lahan mulai dari produksi hingga pascaproduksi hanya mengalir tanpa ada banyak perhitungan.

Baca Juga:  Tenang! Masih Ada Tiket PPPK untuk Nakes yang Dipecat Bupati Manggarai

“Masalah utama petani ya tidak mau berhitung. Mulai biaya produksi yang dikeluarkan seperti tenaga kasarnya, pupuknya, bibitnya atau yang lain. Jadi Ketika panen kaget, loh untungnya kok segini. Ini harus di rubah agar petani bisa kaya,” pesan Moeldoko.

Seperti diketahui, pertanian menjadi sektor ekonomi unggulan kabupaten Sumba Barat Daya. Dari 400 ribu jiwa lebih masyarakatnya, 85 persennya adalah petani penggarap lahan untuk tanaman padi dan jagung.

(*/mdk/rnc)

 

Download Apps RakyatNTT.com sekarang di https://rakyatntt.com

Komentar

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *