oleh

Kerugian Rp 4,1 Miliar, Empat Pegawai Bank NTT Resmi Ditahan

Iklan Demokrat

Kupang, RNC – Kejaksaan Negeri Kota Kupang menahan empat pegawai Bank Pembangunan Daerah Nusa Tenggara Timur (Bank NTT), terkait kredit tanpa agunan yang merugikan negara sebesar Rp 4,1 miliar.

Kepala Seksi Pidana Khusus Kejari Kota Kupang, Januaris Boli Tobing mengatakan, keempat tersangka yang ditahan itu adalah, Bonefasius Ola Masan, Yohana Bai Lao, Johan Gebu dan Yohanes Agus alias Tejo. “Tiganya ditahan di rutan sementara tersangka wanita ditahan di lapas wanita selama 20 hari ke depan,” ujarnya kepada sejumlah wartawan, Kamis (6/2).

Iklan Dimonium Air

Menurut Januaris, berdasarkan hasil perhitungan dari Badan Pemeriksa Keuangan dan Pembangunan Perwakilan Nusa Tenggara Timur bahwa akibat kasus dugaan korupsi itu, negara mengalami kerugian hingga Rp 4,1 miliar. “Dalam kasus itu, jaksa menetapkan enam tersangka. Enam tersangka itu terdiri dari empat pegawai Bank NTT dan dua dari pihak swasta, yakni Linda Liudianto dan Hadmen Puri. Keduanya saat ini sedang menjalani hukuman di Lapas Kupang. Kemungkinan akan ada penambahan tersangka. Untuk sementara enam tersangka, jika dalam perkembangan ditemukan ada keterlibatan pihak lain, maka bisa ada penambahan,” katanya.

Menurutnya, dalam proses pemeriksaan, salah satu tersangka atas nama Yohanes Agus alias Tejo, terkesan tidak kooperatif. Sehingga walau beralasan sakit, namun jaksa menjemput paksa untuk ditahan. “Alasan sakit tetapi tidak ada surat keterangan dari dokter. Setelah diperiksa dokter, yang bersangkutan dinyatakan sehat, sehingga kita tahan,” tandasnya.

Keempat tersangka dijerat pasal 2 ayat 1 UU No 20 Tahun 2001 Jo pasal 18 tentang perubahan atas UU No 32 Tahun 1999 tentang pemberantasan tindak pidana korupsi subsider pasal 3 UU Tipikor.

Orangtua salah satu tersangka, Yuliana Makandolu meminta jaksa segera menetapkan aktor utama di Bank NTT sebagai tersangka. Menurut dia, anaknya, Johan Gebu hanya jadi korban dalam kasus kredit fiktif di Bank NTT. Sebagai bawahan, Johan hanya menjalankan perintah atasan.

Baca Juga:  Kolaborasi Bank NTT dan PWI Cetak Wartawan Profesional melalui UKW

Sesuai pengakuan Johan, ada dua analisis utama yang berperan penting dalam kredit bermasalah itu. “Yohan dan Boby Rohi kenapa tidak jadi tersangka, karena mereka analisis utama. Ada Apa karena mereka ada orang dalam? Ini tebang pilih. Saya akan cari keadilan sampai di manapun. Jaksa harus adil,” katanya.

“Yuni yang cek itu jaminan, kenapa tidak jadikan dia tersangka. Wartawan harus tulis ini,” tambahnya. Untuk diketahui, enam tersangka dalam kasus kredit fiktif terdiri dari empat orang dari Bank NTT dan dua orang pihak swasta. Pihak swasta yang terlibat dan menjadi tersangka dalam kasus ini merupakan pihak yang mengajukan pencairan pada modal pinjaman.

Kasus dugaan tindak pidana korupsi penyaluran kredit Bank NTT Cabang Utama Kupang kepada PT Cipta Eka Puri sebesar Rp 5 miliar itu dilakukan saat pembangunan proyek NTT Fair. Pengajuan kredit yang diajukan oleh kontraktor/kuasa Direktur PT Cipta Eka Puri, Linda Liudianto kepada Bank NTT Cabang Utama tersebut hanya dengan jaminan 50 unit rumah yang ternyata fiktif.

Berdasarkan hasil PKN dari BPKP Perwakilan NTT yang diterima pada 3 Januari 2020, dalam kasus dugaan korupsi kredit fiktif pada Bank NTT negara mengalami kerugian hingga Rp4,1 miliar. (eko/merdeka.com/rnc)

Komentar

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

News Feed