oleh

Kornelis Soi: Paket HOKI Pisah Tidak Apa-apa, Tapi Utamakan Tata Krama

Kupang, RNC – Kabar bubarnya Paket HOKI (Helmut Waso-Kornelis Soi) di Ngada rupanya bukan isapan jempol semata. Terbukti, alat peraga kampanye yang memuat gambar Helmut Waso dan Anis Tai Ruba (HW-ATR) sudah bertebaran usai keduanya melakukan pose bersama di Bukit Wolobobo.

Lantas bagaimana respon Kornelis Soi? Saat diwawancara RakyatNTT.com via sambungan selular, Kamis (16/7/2020) malam, Kornelis mengatakan, kebersamaan HW-ATR di Bukit Wolobobo dengan mengenakan pakaian adat Bajawa tidak mungkin sekadar selfie biasa. Namun, dia sangat menyayangkan karena sampai dengan saat ini belum ada pembicaraan empat mata antara dia dengan HW soal masa depan Paket HOKI. “Sampai dengan saat ini belum penyampaian langsung dari Pak Helmut. Jadi saya tidak bisa jelaskan kepada keluarga besar dan jaringan-jaringan pendukung,” sebut mantan Wakil Ketua DPD PDIP NTT itu.

Bubarnya Paket HOKI, bagi Kornelis, hal itu tidak jadi masalah. Hanya saja, prosesnya harus mengutamakan tata krama. Pasalnya, mereka pernah bersama dari rumah adat ke rumah adat untuk meminta restu leluhur, orangtua dan keluarga. Termasuk keluarganya di Langa. “Orang Bajawa itu orang berbudaya. Kita tidak bisa berpisah di tengah jalan hanya cukup dengan omong-omong di lorong atau di facebook. Kita pernah datang ke rumah adat, jadi harus kembali ke rumah adat kalau ada apa-apa,” ujarnya.

“Harus tetap pakai tata krama dan kedepankan etika supaya keluarga besar tidak tersinggung, dan jaringan-jaringan pendukung merasa dihargai. Apalagi kita sudah membuang waktu dan tenaga selama hampir satu tahun. Walaupun tidak banyak, tapi biaya pasti keluar. Jadi jangan memandang hal itu seolah-seolah tidak berarti,” sambung mantan anggota DPRD NTT itu.

Minggu lalu, kata Kornelis, DPC PDIP Kabupaten Ngada telah membuat surat resmi yang ditujukan kepada DPP dengan tembusan kepada DPD PDIP NTT. DPC melaporkan tentang bubarnya paket GUD-ATR setelah mendapat konfirmasi langsung dari GUD dan ATR. Dalam surat itu, DPC juga menjelaskan bahwa tinggal satu paket (HOKI, red) yang diproses sesuai ketentuan partai. Oleh karena itu, apabila HW ingin mengganti pasangan, seharusnya HW melaporkan secara resmi kepada DPC PDIP Ngada. Pasalnya, saat mendaftar di DPC PDIP Ngada, dia bersama HW mendaftar dalam bentuk paket.

“Sekarang, siapa yang mau lapor ke DPC tentang adanya perubahan ini. Tidak mungkin saya, karena saya konsisten. Kalau Pak Helmut ada pikiran mau sama-sama dengan ATR, ya beliau harus lapor ke DPC. Tapi itu pun tidak otomatis diterima karena ini berkaitan dengan usulan awal dari DPC dan pendaftaran sudah ditutup,” jelas Kornelis yang kini menjabat sebagai Wakil Ketua DPC PDIP Ngada Bidang Pemenangan Pemilu dan Komunikasi Politik.

Kornelis menambahkan, apabila struktur partai di atas (DPP dan DPD) mengarahkan adanya perubahan dari paket yang sudah diusul DPC, maka harus juga ada perintah tertulis. “Semua arahan dari struktur partai di atas harus tertulis supaya di bawah juga tahu. Masa komunikasi individu tertentu di struktur partai di atas tidak lewat DPC, tapi langsung kepada bakal calon. Ini organisasi jadi tidak hanya lewat telepon, terus langsung ubah paket,” ungkapnya. (rnc09)

Komentar

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

News Feed