oleh

Mahasiswa Tani Oesapa Sukses Ubah Lahan Sampah jadi Lahan Sayuran

Kupang, RNC – Lembaga swadaya masyarakat (LSM) CARE dan CIS Timor terus melakukan aksi kemanusiaan, tak hanya di bidang kesehatan, tapi juga di bidang ekonomi. Saat ini kedua lembaga ini fokus memberdayakan masyarakat melalui program Padat Karya Tunai Desa/Kelurahan (PKTD/K).

Program ini menyasar 200 kepala keluarga (KK). Rinciannya, untuk Kelurahan Tuak Daun Merah (TDM) dan Oesapa di Kota Kupang sebanyak 40 Kepala Keluarga, dan di Kabupaten Kupang sebanyak 80 KK yang tersebar di empat desa. Selanjutnya, ada 80 KK yang tersebar di empat desa di Kabupaten TTS.

Program ini bersifat padat karya tunai, di mana setiap pekerja diberi upah harian sebesar Rp 50.000,-/orang. Program ini bersifat jaringan pengaman sosial untuk menguatkan ekonomi rumah tangga dalam menghadapi pandemi virus corona yang masih juga mewabah.

Sebanyak 200 KK itu kemudian dibagi ke dalam 20 kelompok. Tiap kelompok terdiri dari 10 anggota. Setiap kelompok didampingi oleh seorang relawan CIS Timor dalam proses implementasinya. Sejak sosialisasi kelompok-kelompok ini sudah menyepakati kegiatan apa yang akan dilakukan berdasarkan situasi, kondisi dan kemampuan kelompoknya. Oleh karena itu, kegiatan padat karya di 20 kelompok itu bervariasi.

Di Kota Kupang misalnya, ada 2 kelompok yang melakukan kegiatan optimalisasi pekarangan rumah dengan menanam sayur. Dari 2 kelompok itu, salah satunya adalah kelompok mahasiswa tani yang berada di Jalan Jati Rosa, RT 12/RW 005, Kelurahan Oesapa. Sedangkan 2 kelompok yang lain menjahit masker dan menenun selendang. Kebanyakan anggotanya adalah kaum wanita.

Zarniel Woleka, Konsultan PKTD yang ditunjuk oleh Care dan CIS Timor untuk mempersentasi hasil monitoring dan evaluasinya, Selasa (20/10/2020), mengatakan ada cukup banyak nilai pembelajaran yang tidak saja didapatkan dalam program itu di Kota Kupang, tetapi juga di Kabupaten Kupang dan TTS. Ia mengatakan di Kabupaten Kupang ada kelompok yang membuat jebakan air dan ada yang budidaya hortikultura.

“Jebakan air ini sangat berguna dari sisi lingkungan dan ini berkorelasi erat dengan risiko bencana,” katanya. Menurutnya, walaupun dari sisi manfaat tidak didapatkan pada saat ini, tetapi ini memiliki manfaat jangka panjang.

Sementara itu, di Kabupaten TTS sebanyak 8 kelompok menjalankan padat karya dalam bentuk menjahit masker, membuat jebakan air dan budidaya hortikultura serta.

Terkait pembuatan masker, Sar mengatakan bahwa ini sangat berdampak ekonomis karena di TTS kebutuhan masker sangat tinggi. Masker yang dihasilkan oleh 4 kelompok sebanyak 1.000 buah dapat membantu peningkatan kebutuhan ekonomi rumah tangga di zaman pandemi ini.

masker
Seorang ibu yang masuk dalam kelompok binaan CARE dan CIS Timor sedang menunjukkan masker hasil karya mereka. (Foto: Ist).

Dari 10 kelompok yang didatangi, Sar mengatakan ada satu kelompok yang disebutnya dengan Kelompok Rentan Baru. Kelompok ini adalah Tani Mahasiswa yang berada di Jalan Jati Rosa, RT 12/RW 005.
Sar memberikan apresiasi kepada Care dan CIS yang sudah dengan cermat memilih kelompok ini karena menurutnya, kelompok yang terdiri dari mahasiswa ini pada pandemi covid itu benar-benar sangat susah dari sisi pemenuhan kebutuhan ekonominya karena mengalami kekurangan uang.

Mereka telah berhasil diorganisir untuk mengubah tempat tumpukan sampah menjadi lahan untuk budidaya hortikultura. Di atas lahan yang berukuran kurang lebih 600 m2 itu mereka berhasil mengolahnya menjadi pekarangan hortikultura. Dari usaha inilah mereka dapat bertahan hidup dengan menjual sayur hasil budidaya mereka.

BACA JUGA: Cara Daftar UMKM Online untuk Dapat Bantuan Rp 2,4 Juta

Diseminasi Kajian Pembelajaran Program Padat Karya Tunai Desa melalui metode zoom meeting dilaksanakan Selasa (20/10/2020), di mana masing-masing kelompok yang diwakili oleh seorang peserta menyampaikan hasil pembelajarannya. Dari TDM, misalnya, ibu Santinia mengatakan bahwa mereka yang awalnya tidak tahu menjahit masker akhirnya bisa tahu menjahit masker setelah ada sosialisasi dari Care dan CIS.

Pembelajaran lain yang didapatkan dari kelompok jahit ini adalah dengan kegiatan ini mereka melibatkan ibu-ibu yang tidak bisa menjahit, akhirnya bisa tahu menjahit. Dan lebih dari itu, mereka memberi dari kekurangannya dengan cara menyumbangkan 50 masker kepada kaum muda yang ada di wilayah itu untuk menambah kas kelompok kaum muda.

“Kami dapat memanfaatkan media sosial untuk menjual produksi kami. Terhitung per hari ini hampir 200 buah masker sudah berhasil dijual secara online,” kata Santinia.

Dalam pertemuan itu para peserta PKTD, khususnya kelompok Masker dan Tenun berharap agar pemerintah dapat membantu mereka dari sisi pemasaran. “Kami sudah menghasilkan tenunan dengan berbagai motif Timor, maka kami berharap agar pemerintah kelurahan dan Kota Kupang dapat membantu kami dari sisi pemasaran,” ungkap Serlince Anone Seran, Ketua Kelompok Feot Mese, Tenun Kelurahan Oesapa.

(*/rnc)

Komentar

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

News Feed