oleh

Mengungkap Makna Nama Biinmaffo

Iklan Covid Walikota Kupang

Oleh Viktorius P. Feka

Staf Pengajar di Prodi PBI/Universitas Citra Bangsa (UCB), Kupang, NTT

Iklan Dimonium Air

 

KETIKA menyebut nama Biinmaffo, mungkin masyarakat Nusa Tenggara Timur (NTT) pada umumnya langsung mengenalinya, apalagi masyarakat Kabupaten Timor Tengah Utara (TTU) pada khususnya. Mungkin saja ada yang langsung mengasosiakannya dengan TTU. Ini benar. Sebab, Biinmaffo merupakan istilah lain untuk menyebut TTU. Sama halnya dengan Flobamora digunakan sebagai nama lain untuk menyebut NTT. Bahkan, nama Biinmaffo juga kerap digunakan dalam pelbagai perkumpulan atau komunitas orang TTU diaspora. Ada pula nama Biinmaffo dilekatkan pada nama-nama gedung, kantor, organisasi, dan sebagainya.

Pada perhelatan politik dan budaya di TTU, umpamanya, istilah biinmaffo pun acap disebut (dipakai). Malahan, pada perhelatan Pilkada TTU beberapa waktu lalu, ada secuil komentar yang menghendaki nama “Biinmaffo” perlu dikaji ulang dan tak perlu lagi dipakai karena tidak representatif. Bagi saya, pernyataan ini sangatlah naïf dan bertentangan dengan hakikat makna nama “Biinmaffo” itu sendiri. Karenanya, tulisan ini mencoba mengulas kedalaman makna dari nama  tersebut.

BACA JUGA: Pandemi dan Meningkatnya Kebutuhan Akses Data Internet

Sebelumnya, dalam sebuah diskusi ringan di Kota Kefamenanu, yang dipelopori Komunitas Simpang Sembilan (KS-9), Helidotus Anin menyinggung makna akronim “biinmaffo”. Menurutnya, kata tersebut tak hanya mengandung akronim semata, tapi juga menggurat makna: “di bawah naungan”. Ini benar adanya. Bila kita mencermatinya sungguh-sungguh dari sisi kebahasaan (linguistik), kurang lebih bermakna demikian, malah lebih dari itu. Secara faktual-etimologis, istilah “biinmaffo” merupakan akronim dari tiga kata, yaitu biboki, insana, dan miomaffo. Ketiga kata tersebut secara historis-politis menggambarkan tiga swapraja besar di TTU, yaitu Biboki, Insana, dan Miomaffo.

Ini sejalan dengan model analitis makna Ogden dan Richards (1936) tentang konsep (pikiran), simbol (lambang), dan referen (acuan). Biinmaffo merupakan konsep yang ada dalam pikiran, kemudian dilambangkan dengan kata “biinmaffo”, yang sesungguhnya merujuk pada wilayah Biboki, Insana, dan Miomaffo. Jadi, biinmaffo tak hanya merupakan istilah abstrak, tapi juga memiliki acuan konkretnya.

Baca Juga:  TNI/Polri Tegakkan Disiplin Prokes di Kantor BNI Kefamenanu

Dari sisi penyukuan, untuk kata biboki dan insana,  hanya diambil suku kata pertama, yakni bi– dan in-, sedangkan untuk kata miomaffo, diambil suku kata kedua dan ketiga, yakni maf– dan fo-. Proses penyukuan ini kelak menghasilkan kata baru “biinmaffo”—dikenal luas hingga kini. Dari sisi morfosintaksis, sesungguhnya dalam Uab Meto (bahasa Dawan) “biinmaffo” diturunkan dari “tbi in maffo”—kita (ada) di naungannya. Pembentukan kata “biinmaffo” untuk menyebut masyarakat TTU ini, disadari atau tidak, sangat linguistis. Proses pembentukannya, ternyata, dimulai dari tingkatan fonetik-fonologi (bunyi), morfologi, sintaksis, semantik, bahkan wacana. Sungguh hebat para pencetus istilah ini.  Namun, apakah istilah “biinmaffo” hanya merupakan hasil dari proses mikrolinguistik (intralingualisasi)?

Saya kira, tidak demikian. Sebab, kata tak sebatas konsep yang menunjuk acuannya saja, tapi lebih dari itu, kata melampui konsep sebagaimana pepatah Latin “Vox significat mediantibus conceptibus” ‘kata itu mempunyai makna yang melewati media konsep’ (lihat Ullmann dalam buku ”Pengantar Semantik” sebagaimana diadaptasi Soemarsono, 2007:67).Seturut pandangan ini, jelas bahwa penamaan biinmaffo tak sebatas konsep, tapi ada makna dan maksud lain di baliknya. Sebab, proses penamaan terhadap sesuatu yang ditubuhkan lewat bahasa senantiasa menyimpan amanat dan amanah di selubungnya.

Bila ditinjau dari sisi makrolinguistik (ekstralinguistik), para pencetus istilah biinmaffo, hemat saya, sedari awal memaksudkan masyarakat TTU hidup di bawah nilai-nilai luhur kebudayaan. Masyarakat TTU diharapkan merawat kerukunan hidup di antara umat manusia yang ada di wilayah Biboki, Insana, dan Miomaffo, sebagaimana ketiga wilayah itu menyatu dalam satu kata “biinmaffo”. Kerukunan kudu disertai tenggang rasa dan tepa salira. Siapa pun dia dan apa pun latar belakangnya harus tetap dipandang setara. Tak boleh ada perlakuan diskriminatif dan intimidatif. Masyarakat Biinmaffo (TTU) harus selalu ada di bawah naungannya. Lalu, siapakah yang dimaksud dengan –nya pada frase preposisional “di bawah naungannya?”

Baca Juga:  Bupati TTU Pimpin Apel Gelar Ops Ketupat 2021 di Mapolres TTU

Pertama, kata ganti kepemilikan “-nya” merujuk pada Uis Neno ‘Tuhan Yang Mahatinggi’. Ada pesan penting di sana yang harus dijalankan: harus senantiasa dibangun relasi spiritual dengan Tuhan. TTU harus selalu diarahkan kepada perencanaan dan perlindungan Tuhan. Keberhasilan pembangunan TTU hanya bisa terengkuh apabila pemimpin dan rakyatnya benar-benar mengandalkan Tuhan. Mengandalkan Tuhan berarti harus mewujudkan kebaikan, meminggirkan kejahatan;  memperjuangkan kemaslahatan rakyat, menguburkan keserakahan; mengutamakan keadaban, menaklukkan kebiadaban; memuja kejujuran, mengenyahkan kebohongan; meneduhkan hati, sebaliknya mengendalikan hawa nafsu. Tuhan mesti sungguh ditempatkan sebagai tokoh pertama dan utama yang menaungi segenap umat TTU.

Di sini terbersit ideologi ketuhanan. Bahwasanya warga TTU diberikan kebebasan untuk berjumpa dengan Tuhannya seturut iman dan kepercayaan masing-masing. Warga TTU diundang untuk hidup di bawah naungan iman dan takwa. Bila hidup dalam iman, takwa jua perlu diwujudnyatakan melalui kebaikan-kebaikan sejati. Sebab, Tuhan adalah sumber kebaikan itu sendiri.  Keimanan dan ketakwaan harus berjalan iring. Bila hanya satu yang dijalankan, sedangkan yang lainnya diabaikan, takkan tercapai keutuhan dalam Tuhan.

Kedua, kata ganti “nya” merujuk pada bat’unu ‘leluhur’. Bahwa mengetahui akar keberasalan TTU sangat diperlukan. Para peletak dan pendiri TTU harus dihormati, dikenang selalu. Warisan leluhur, seperti menjaga kerukunan di antara umat manusia, mesti dilestarikan. Amanah rakyat dari proses dan hasil politik harus dijalankan secara baik. Di sini terpatri ideologi kearifan lokal. Artinya bahwa penggalian dan pemanfaatan kearifan lokal harus dilakukan demi kebaikan bersama. Etnofilosofi warisan para leluhur harus dijadikan pedoman dalam pelbagai aspek kehidupan.

BACA JUGA: Bahasa di Tangan Media

Ketiga, kata ganti “nya” merujuk pada ana’plenat ‘pemimpin (pemangku kuasa)’. Baik/buruk kondisi pembangunan di TTU sangat bergantung pada pemimpinnya. Bahwasanya pemimpin mesti menjadi penaung atau pelindung bagi semua rakyatnya. Pemimpin tak boleh hanya berdiri di atas menara “yang dipertuan” yang hanya memberi titah, lalu meraih apa yang diingini. Tapi, lebih dari itu adalah menjadi teladan bagi rakyatnya dalam segala hal luhur. Pemimpin juga harus menjalin hubungan baik dengan rakyatnya. Rakyat mesti dijadikan mitra, bukan bawahan. Rakyat tak boleh hanya dipandang sebagai objek, tapi juga sebagai subjek. Pembangunan pun mesti diarahkan pada kemaslahatan bersama, bukan pada kelahapan pribadi. Di sini terpatri ideologi kemanusiaan dan kesejahteraan rakyat. Keadilan dan keberadaban mesti dijabarkan dalam pelbagai program pembangunan yang berfaedah.

Baca Juga:  Cegah Penyebaran Covid-19 saat Lebaran, Empat Posko Pemantauan di TTU Kembali Diaktifkan

Keempat, kata ganti “nya” bisa saja merujuk pada tob ‘rakyat’ atau aokbian ‘sesama’. Penamaan biinmaffo juga mengandaikan adanya rakyat. Tidak mungkin ada pemimpin tanpa rakyat. Sebaliknya, rakyat tanpa pemimpin akan memunculkan kekacauan. Karenanya, ada pesan penting di balik ini: rakyat dituntut untuk menjaga persatuan dan kesatuan di antara sesama manusia. Rakyat juga harus turut bertanggung jawab dalam menyukseskan pembangunan, serta menjaga keutuhan wilayah TTU. Keberhasilan pembangunan serentak keamanan dan ketertiban masyarakat tak boleh hanya dibebankan kepada pemimpin semata, tapi juga rakyat itu sendiri. Artinya bahwa setiap warga TTU mesti proaktif dalam arah dan aras pembangunan. Program pembangunan mesti dari rakyat, oleh rakyat, dan untuk rakyat. Di sini sesungguhnya tercetus ideologi kerakyatan.

Akhirnya, secara ringkas dapat ditarik benang merah bahwa penamaan biinmaffo memaksudkan setiap warga TTU supaya menjalankan nilai-nilai ketuhanan, mengekalkan warisan leluhur, menjalin hubungan yang baik di antara sesama manusia, menghormati pemimpinnya, dan menjadi subjek pembangunan. Setiap warga TTU dipanggil untuk kembali ke naungannya; bahkan mesti senantiasa ada di naungannya. Itulah “biinmaffo” sejatinya. (*)

 

Komentar

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

News Feed