oleh

Merasa Tidak Nyaman, Pendamping PKH di Ngada Ini Mengadu ke Bunda Risma

Iklan Covid Walikota Kupang

Bajawa, RNC – Karolina Bhoki Lede, S.Pd, pendamping Program Keluarga Harapan (PKH) di Kabupaten Ngada, mengirimkan surat terbuka kepada Menteri Sosial Tri Rismaharini alias Bunda Risma, Gubernur NTT Viktor Laiskodat dan Bupati Ngada serta berbagai instansi terkait.

Dalam suratnya Karolina mengadu soal ketidaknyamanannya terkait penilaian kinerja yang tidak sesuai kode etik. Termasuk masyarakat dampingannya yang dipindahkan sepihak ke pendamping lain. Ia juga mengadukan Koordinator PKH Kabupaten Ngada bersama pendamping PKH yang terlibat politik praktis.

Iklan Dimonium Air

BACA JUGA: Jalan di Riung Rusak Parah, Warga Minta Perhatian Pemprov NTT

Berikut kutipan lengkap surat terbuka Karolina yang diposting di laman media sosialnya:

Senin (22 Februari 2021 Surat terbuka dari saya Pendamping PKH Kabupaten Ngada (Kecamatan Bajawa)
Kepada :
Yang saya hormati KEMENTERIAN SOSIAL REPUBLIK INDONESIA (Menteri Sosial, Ibu Tri Rismaharani)
Yang saya hormati Gubernur NTT dan Wagub, serta dinas sosial NTT
Yang saya hormati Koordinator Wilayah NTT III
Yang saya hormati Bupati Ngada (Plh Bupati Ngada)
Yang saya hormati Bapak Bupati Ngada terpilih
Dan juga yang saya banggakan media sosial sebagai wadah terbuka ketika saya merasa perlu membuat surat terbuka ini atas dasar ketidaknyamanan yang sedang saya alami saat ini.

Melalui surat terbuka ini saya ingin menyampaikan ketidaknyamanan saya yang sangat mengganggu saya selama ini. Berawal dari terlibatnya Koordinator PKH Kabupaten Ngada (KORKAB) dan salah satu SDM PKH (Pendamping PKH Kecamatan Bajawa Utara) dalam politik praktis tahun lalu. Tepatnya pada tanggal 04 Desember 2020 ketika saya dimintai keterangan mengenai SDM PKH berpolitik praktis dan mengintimidasi masyarakat dampingan saya, sejak saat itu KORKAB mulai membuat polemik di lapangan yang mana sasarannya adalah masyarakat dampingan saya. Dengan modus penilainan kinerja kerja yang mana tidak berjalan sesuai kode etik. Saat itu juga saya dikeluarkan dari group resmi SDM PKH Kab. Ngada dan group Informasi Pendamping PKH oleh admin KORKAB. Sebelum saya dikelurakan dari group saya diinformasikan bahwa salah satu masyarakat dampingan saya dipindahkan sepihak oleh KORKAB ke pendamping lain sehingga saat itu saya tidak bisa melakukan pemuktahiran data. Tidak habis di situ saja KORKAB dengan serta merta japri saya via WA bahkan mengancam saya secara langsung akan memecat saya. Sebelum mengancam saya KORKAB melakukan siraman rohani dengan mewartakan ayat-ayat injil kepada saya bahkan dengan beraninya membahas soal pribadi saya. Saya kira habis di situ saja tapi ternyata KORKAB diam2 membuat polemik di lapangan, membuat somasi tidak percaya terhadap saya. Bahkan saat semua bukti-bukti sudah saya rekam KORKAB masih tetap nekat membuat polemik2 baru. Tepatnya tanggal 10 Februari 2021 saya memenuhi surat panggilan dengan agenda pemindahan wilayah dampingan tapi setiba saya di kantor agennya lain. Di sana saya diwawancara oleh Kasie Pemberdayaan Komunitas Adat Terpencil (KAT). Anehnya saat itu ketika hasil wawancara diprint ada 2 lembar yang berisikan pertanyaan-pertanyaan yang tidak ditanyakan kepada saya bahkan sudah ada keterangan jawabannya. Saya disuruh tidak perlu membaca lagi langsung tandatangan namum saat itu saya bersih keras harus membaca dengan teliti. Pada akhirnya Kasie dengan cepat merampas lembaran hasil print sambil bilang aduh itu om salah print ketika saya tanya kenapa ada itu pertanyaan dan tiba-tiba sudah ada jawaban. Setelah semuanya saya revisi sebaik mungkin dan memakan waktu dari jam 11 hingga jam 3 akhirnya ditandatangani oleh saya dan Kasie sedangkan KORKAB tidak mau tandatangan. Sebelum Kasie tandatangan sempat terjadi adu mulut antara saya Kasie dan KORKAB karena mereka tidak memberi izin untuk saya pegang satu hasil wawancara sebagai arsipnya saya. Bahkan saya minta fotopun tidak dikasih. Katanya itu dokumen rahasia namun karena saat itu saya tetap bersih keras minta saya harus foto semuanya akhirnya merekapun kasih namum dengan terpaksa bahkan saat Kasie tanda tanganpun dengan terpaksa.

(Bukti ada kecurangan di sana sudah saya simpan baik-baik dalam bentuk video dan foto).

Kemarin tepatnya hari Minggu, 21 Februari 2021 saya menerima surat dari dua orang anak laki-laki yang katanya disuruh KORKAB namun saya dipaksa tandatangan terima surat pada tanggal 18 Februari 2021. Dalam isi surat saya dibilang tidak memenuhai panggilan untuk memberi keterangan sedangkan surat baru saya terima kemarin sore.
Saya langsung kontak KORKAB via WA dan katanya itu surat Kasie yang buat. Saya kontak Kasie via WA namun tidak direspon.

Saya bahkan sudah bilang ke Bpk Kadis DINSOS dan Pak Korwil kalau saya tidak akan mau ketemu KORKAB, bukan saya tidak kooperatif tapi bagaimana bisa saya ketemu orang yang jelas-jelas tidak profesional bahkan sumber polemik datangnya dari beliau.

Saya pernah melakukan pengaduan ketidaknyamanan yang saya rasakan ke pihak kepolisian namun tidak diterima saat itu jadi saya memilih diam. Namun ada saja caranya KORKAB yang sangat mengganggu saya. Dengan begitu percaya dirinya KORKAB bilang ke saya ingat Olin kita masih ada hubungan keluarga dalam urusan keluarga ma de ngaru azi bhai nge laga de ngaru kae dan ingat saya KORKAB nanti bukan saya yang pecat kau tapi PKH yang akan pecat kau.

Sungguh saya merasa tidak nyaman bahkan ketika ada pertemuan tertutup saya disuruh jangan kasih tahu siapapun kalau saat itu ada pertemuan dan saya dilarang untuk merekam. Kalau saya langgar berarti saya tidak melawan perorangan namum saya melawan instansi.

Sekian sepintas kronologis kejadian.
Mohon maaf jika saya salah.

Hormat saya,
Karolina Bhoki Lede, S.Pd

Tembusan:
Untuk semua media dan pers di Provinsi NTT

(*/rnc)

Komentar

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

News Feed