oleh

Mesti Menemukan Metode Pembelajaran yang Tepat saat Pandemi

Iklan Demokrat

Oleh Melkianus Pote Hadi
Akademisi

 

Iklan Dimonium Air

SETIAP daerah terutama wilayah pedalaman mesti mengevaluasi metode pembelajaran daring di tengah pandemi Covid-19 saat ini.

Penerapan metode pembelajaran daring di daerah pedalaman atau pelosok kurang efektif, terlebih lagi sebagian daerah ada yang belum terdapat jaringan internet.

Saya merasa cukup prihatin melihat anak-anak usia sekolah khususnya yang berada di daerah pelosok saat ini banyak yang tidak melaksanakan aktivitas belajar. Hal itu tentunya jika tidak diperhatikan, maka akan berdampak pada perkembangan anak-anak tersebut kedepannya, sebab belajar sangatlah penting bagi mereka untuk menggali ilmu pengetahuannya. Saya berharap setiap kepala daerah harus menentukan kebijakan atau mempertimbangkan supaya sekolah tatap muka bisa digelar menyesuaikan zona wilayah.

Siswa yang kurang beruntung kemungkinan akan menjadi yang paling terdampak. Sebagai contoh, anak-anak yang berasal dari keluarga yang kurang mampu kemungkinan besar akan tertinggal dibandingkan teman sebaya mereka yang lebih mampu yang memiliki akses lebih baik pada pembelajaran secara daring, sementara sebagian besar anak-anak berkebutuhan khusus tidak akan dapat mengakses layanan khusus.

Beberapa langkah yang dapat diambil untuk mengurangi dampak COVID-19 terhadap pembelajaran dan ketidaksetaraan yang diakibatkannya adalah:

1) Mengembangkan lebih banyak solusi untuk menjangkau siswa yang tidak memiliki internet
Menyediakan dan memberikan berbagai bentuk pendekatan pendukung pembelajaran, baik itu tanpa teknologi, berteknologi rendah, maupun yang berteknologi tinggi. Meskipun program TV pendidikan Kemendikbud telah dijadikan sumber utama, akan tetapi masih diperlukan juga dukungan secara lebih langsung. Di banyak daerah yang tidak memiliki koneksi internet, guru sudah melakukan kunjungan ke rumah siswa. Di manapun kunjungan semacam ini dapat dilakukan, maka pemerintah sebaiknya memberikan panduan tentang bagaimana melaksanakannya dengan aman dan menjelaskan bahwa dana BOS dapat digunakan untuk membayar transportasi guru.

2) Meningkatkan konektivitas internet dan melatih para guru untuk memberikan pembelajaran daring secara lebih efektif dan interaktif, Sebagian besar guru dan siswa tidak siap untuk berpindah ke pembelajaran secara daring yang terjadi secara tiba-tiba. Menurut Survei Cepat Kemendikbud tentang belajar dari rumah (27 April), guru mengidentifikasi tantangan utama mereka pada konektivitas jaringan internet dan dalam memantau kemajuan siswa. Saat ini pemerintah kita sangat mendukung pembelajaran dan meningkatkan ketahanan sistem melalui investasi pada kapasitas belajar-mengajar secara daring, penyimpanan data, dan infrastruktur tahan bencana. Sebagai contoh, setiap kecamatan memiliki sekolah yang dilengkapi dengan laptop / telepon pintar, internet, listrik, fasilitas air dan sanitasi, serta perpustakaan dengan bahan ajar cetak untuk kegiatan belajar secara mandiri.

Baca Juga:  Wali Kota Jeriko Perintahkan Vaksinasi Dilakukan di Tiap Kelurahan, Targetkan 70% Bulan Ini

3) Mengidentifikasi dan mendukung mereka yang tertinggal dengan metode pengajaran yang berbeda

Ketika sekolah dibuka kembali, berbagai upaya sebaiknya dilakukan untuk mengidentifikasi kesenjangan belajar para siswa, memberikan dukungan tambahan kepada siswa yang pembelajarannya paling terdampak secara negatif, dan membedakan metode pengajaran berdasarkan tingkat pembelajaran mereka. Baru-baru ini Kemendikbud mengumumkan akan menyelenggarakan penilaian untuk melakukan pembedaan metode pengajaran (detil mengenai pelaksanaannya akan menyusul). Pengembangan kapasitas profesional para guru yang berfokus pada metode pembelajaran yang berbeda-beda disarankan untuk menjadi bagian dari upaya ini. Penilaian formatif dan pengelompokan berbasis kemampuan ini dapat menjadi bagian permanen dari upaya peningkatan praktik pengajaran pasca Covid-19.

4) Mendukung siswa yang kurang beruntung untuk kembali ke sekolah

Pemerintah, baik di tingkat nasional maupun daerah, mengambil langkah-langkah tambahan untuk memastikan bahwa mereka yang paling rentan putus sekolah, seperti siswa dari keluarga yang kurang mampu dan anak-anak yang lebih tua yang membantu pendapatan rumah tangga, dapat tetap terdaftar di sekolah. Langkah pertama bisa berupa komunikasi dan sosialisasi yang jelas seputar pembukaan kembali sekolah, dengan penjangkauan khusus termasuk kunjungan rumah kepada mereka yang paling berisiko.

Setiap institusi pun dituntut untuk memberikan inovasi terbaru untuk membentuk proses pembelajaran yang sangat efektif ini. Sayangnya, tak semua institusi pendidikan rupanya paham betul mengenai inovasi terbaru yang harus dipakai untuk melakukan pembelajaran selama pandemi. Kebanyakan dari mereka masih belum bisa menyesuaikannya karena terkendala sarana dan prasarana.

Selain itu pula ada beberapa Metode pembelajaran yang efektif di saat pandemi.

1. Project Based Learning

Metode project based learning ini diprakarsai oleh hasil implikasi dari Surat Edaran Mendikbud no.4 tahun 2020. Project based learning ini memiliki tujuan utama untuk memberikan pelatihan kepada pelajar untuk lebih bisa berkolaborasi, gotong royong, dan empati dengan sesama.

Baca Juga:  Pentingnya Penerapan Prokes dan Meningkatkan Imunitas Tubuh untuk Cegah Covid-19

Menurut Mendikbud, metode project based learning ini sangat efektif diterapkan untuk para pelajar dengan membentuk kelompok belajar kecil dalam mengerjakan projek, eksperimen, dan inovasi. Metode pembelajaran ini sangatlah cocok bagi pelajar yang berada pada zona kuning atau hijau. Dengan menjalankan metode pembelajaran yang satu ini, tentunya juga harus memerhatikan protokol kesehatan yang berlaku.

2. Daring Method

Untuk menyiasati ketidak kondusifan di situasi seperti ini, metode daring bisa dijadikan salah satu hal yang cukup efektif untuk mengatasinya. Dilansir dari Kumparan, Kemendikbud mengungkapkan bahwa metode daring bisa mengantasi permasalahan yang terjadi selama pandemi ini berlangsung.

Metode ini rupanya bisa membuat para siswa untuk memanfaatkan fasilitas yang ada di rumah dengan baik. Seperti halnya membuat konten dengan memanfaatkan barang-barang di sekitar rumah maupun mengerjakan seluruh kegiatan belajar melalui sistem online.

Nah, metode daring ini sangatlah cocok diterapkan bagi pelajar yang berada pada kawasan zona merah. Dengan menggunakan metode full daring seperti ini, sistem pembelajaran yang disampaikan akan tetap berlangsung dan seluruh pelajar tetap berada di rumah masing-masing dalam keadaan aman.

3. Luring Method

Luring yang dimaksud pada model pembelajaran yang dilakukan di luar jaringan. Dalam artian, pembelajaran yang satu ini dilakukan secara tatap muka dengan memperhatikan zonasi dan protokol kesehatan yang berlaku. Metode ini sangat pas buat pelajar yang ada di wilayah zona kuning atau hijau terutama dengan protocol ketat new normal.

Dalam metode yang satu ini, siswa akan diajar secara bergiliran (shift model) agar menghindari kerumunan. Dikutip dari Kumparan, model pembelajaran Luring ini disarankan oleh Mendikbud untuk memenuhi penyederhanaan kurikulum selama masa darurat pendemi ini.

Baca Juga:  Update Data Covid-19 RI 31 Agustus: Jatim Mendominasi, NTT 264 Kasus

Metode ini dirancang untuk menyiasati penyampaian kurikulum agar tidak berbelit saat disampaikan kepada siswa. Selain itu, pembelajaran yang satu ini juga dinilai cukup baik bagi mereka yang kurang memiliki sarana dan prasarana mendukung untuk sistem daring.

4. Home Visit Method

Seperti halnya metode yang lain, home visit merupakan salah satu opsi pada metode pembelajaran saat pandemi ini. Metode ini mirip seperti kegiatan belajar mengajar yang disampaikan saat home schooling. Jadi, pengajar mengadakan home visit di rumah pelajar dalam waktu tertentu.

5. Integrated Curriculum

Metode pembelajaran ini, ada kurikulum nasional, ada kurikulum yayasan, atau sekolah lokal. Ada korelasi untuk menemukan Metode pembelajaran yang satu ini tidak hanya melibatkan satu mata pelajaran saja, namun juga mengaitkan metode pembelajaran lainnya. Integrated curriculum bisa diaplikasikan untuk seluruh pelajar yang berada di semua wilayah, karena metode ini akan diterapkan dengan sistem daring. Jadi pelaksanaan integrated curriculum ini dinilai sangat aman bagi pelajar.

6. Blended Learning

Metode blended learning adalah metode yang menggunakan dua pendekatan sekaligus. Dalam artian, metode ini menggunakan sistem daring sekaligus tatap muka melalui video converence. Jadi, meskipun pelajar dan pengajar melakukan pembelajaran dari jarak jauh, keduanya masih bisa berinteraksi satu sama lain.

Sebenarnya, metode ini sudah mulai dirancang dan diterapkan awal abad ke-21. Namun, seiring dengan merebaknya wabah Covid-19, metode yang satu ini dikaji lebih dalam lagi karena dinilai bisa menjadi salah satu metode pembelajaran yang cocok untuk para pelajar di Indonesia.

Mengingat wabah pandemi yang tidak tahu pasti kapan berakhirnya, metode pembelajaran tersebut mungkin bisa anda jadikan opsi untuk para peserta didik anda. Dengan adanya metode-metode tersebut, diharapkan agar pendidikan di Indonesia tetap berjalan dengan baik dan berjalan lancar. (*)

Komentar

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

News Feed