oleh

Refleksi Luka Masa Lalu lewat Film Dokumenter “Luka Beta Rasa”

Iklan Demokrat

Kupang, RNC – Sudah cukup banyak riset dilakukan tentang bagaimana orang menjadi ekstremis, radikal, bahkan teroris di Indonesia, tapi masih sangat jarang riset dibuat tentang proses kebalikannya, seperti bagaimana dan mengapa berhenti menjadi ekstremis. Inilah proses yang disebut transformasi personal atau hijrah dari kekerasan menuju bina damai.

Berbeda dari yang dilakukan Narasi TV bersama Pusat Studi Agama dan Demokrasi Yayasan Wakaf Paramadina (PUSAD) menggandeng Komunitas Peace Maker Kupang (Kompak) dan Komunitas Film Kupang, yang menggelar diskusi bedah film dokumenter “Luka Beta Rasa,” di Room Cafe and Resto Squer, Oebobo, Sabtu (07/03/2020) sore.

Iklan Dimonium Air

Dalam film dokumenter yang diputar sebelum diskusi berlangsung, menceritakan mengenai kasus berdarah di Ambon. Di mana konflik ini dilatarbelakangi perbedaan agama dan menghadirkan konflik massa di kota berjuluk pela gandong itu. Dari hal tersebut terdapat biografi yang dikisahkan mantan tentara anak Ambon yang telah bertransformasi ke kehidupan damai saat ini.

Selanjutnya diskusi yang menghadirkan empat narasumber yakni, Ketua Sinode GMIT, Pdt. Dr. Mery Kolimon, peneliti PUSAD Ali Nur Sahid, Eksekutif Produser NarasiTV Adeste Adipriyanti, dan penulis buku “Keluar dari Eksremisme”, Sri Lestari Wahyuningroem.

Pada kesempatan itu, Adeste Adipriyanti mengatakan Kota Kupang menjadi kota pertama di luar Pulau Jawa yang dilangsungkan pemutaran film dan bedah film dokumenter “Luka Beta Rasa”. Film ini adalah sebuah karya yang berisi narasi-narasi bagaimana membangun perdamaian dari masa berdarah yang pernah dilalui.

“Kami menginginkan agar dengan penelitian yang dilakukan, kami coba untuk memberikan suatu pesan dengan kemampuan kami. Ini merupakan proyek pertama kami, sehingga kami berupaya untuk memberikan sumbangsih dengan menampilkan film ini bahwa konflik itu tidak menentukan siapa yang menang dan kalah, bahkan hanya memberikan suatu kesulitan dan banyak hal yang menjadi korban,” ungkapnya.

Baca Juga:  Jawaban BPN Kota Kupang terkait Batalnya Eksekusi Tanah Milik Chanistan

Selanjutnya, penulis buku “Keluar dari Ekstrimisme”, Sri Lestari Wahyuningsih menyampaikan terkait persoalan yang pernah terjadi di Ambon telah memberikan dampak kajian yang harus diketahui oleh seluruh warga. Dikarenakan sejauh ini Negara perlu membereskan setiap masa kelam dengan mengedukasikan kepada generasi yang akan datang bahwa Indonesia punya sejarah tentang kesalahan. Sehingga dari hal itu dapat membuat cakrawala berpikir warga tentang kehidupan keberagaman yang damai.

“Buat saya adalah apa yang terjadi setelah konflik ini berhenti, itu yang saya pikirkan. Kenapa harus damai, bagaimana kalau orang tau bahwa kalau yang terjadi itu salah, walaupun di luar dari proses hukum itu adalah salah. Buat saya juga penting kalau Negara mengelola damai dengan kita juga harus memahami apa yang salah. Artinya kita harus belajar dari pengalaman masa lalu kita supaya tidak berulang lagi, sehingga kita bisa mengetahui keberagaman itu normal,” pungkas penulis yang akrab disapa Ayu.

Sementara itu, Ketua Sinode GMIT, Pdt. Dr. Mery Kolimon mengapresiasi seluruh lembaga yang telah menerbitkan film dokumenter yang sangat merefleksikan kehidupan kerakyatan Indonesia. Dirinya menjelaskan konflik yang terjadi di Ambon dari yang dikisahkan film dokumenter tersebut menunjukkan sensitifnya agama apabila diplintir menjadi isu negatif demi suatu kepentingan.

Ia menambahakan secara fungsional, agama memiliki peran guna mendorong adanya ketaatan bernegara yang baik. Namun bisa juga menciptakan potensi terjadinya kerusakan yang mahadahsyat. Oleh karena itu sudah saatnya dalam konteks multiagama di Indonesia, melakukan rekonstruksi diri untuk mengobati setiap luka kelam yang pernah terjadi sehingga tidak lagi ada konflik agama yang berlanjut pada generasi yang akan datang.

“Film Luka Beta Rasa ini menolong kita. Oleh karena itu sebagai Ketua Sinode GMIT, saya mendorong orang-orang muda untuk menolak setiap kekerasan. Maka seluruh agama perlu memeriksa kembali bagaimana cara prakteknya kembali. Kita punya sejarah yang cukup kelam dengan inilah bagaimana kita berkomitmen menjadikan Indonesia menjadi rumah bersama kita,” pungkas Pdt. Mery. (rnc04)

Komentar

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

News Feed