oleh

Setiap 5 Menit Terjadi Kasus KDRT, Mayoritas Perempuan jadi Korban

Iklan Demokrat

Kupang, RNC – Kasus kekerasan dalam rumah tangga (KDRT) terus meningkat. Berdasarkan data Pengurus Perempuan dan Anak Lingkup Sinode GMIT, setiap 5 menit terjadi kasus KDRT.

Dalam Lokakarya dalam rangka Sidang Sinode GMIT XXXIV yang berlangsung di GMIT Alfa Omega, Labat, Kupang, Rabu (16/10/2019), Ketua Pengurus Perempuan dan Anak Lingkup Sinode GMIT, Ekoningsih Lema, S.Pd.,M.Si mengatakan isu ini sudah biasa didengar dan sudah cukup lama terjadi di Indonesia.

Iklan Dimonium Air

Ada UU Nomor 23 Tahun 2004 yang mengatur tentang KDRT. Dalam rumusan UU ini, menyebutkan tindakan ini berakibat ada yang sengsara maupun menderita baik fisik, seksual ataupun psikologis dalam lingkup keluarga. Karena sudah terlalu banyak korban, dan korban itu adalah warga negara, maka negara harus turun tangan untuk pencegahan dan penanganan kekerasan dalam rumah tangga.
“Data menunjukkan hampir setiap 5 menit ada korban kekerasan dalam rumah tangga dan korban paling banyak perempuan. Apa itu kekerasan berbasis gender? Tindakan yang membahayakan yang dilakukan di luar kehendak orang karena perbedaan jenis kelamin,” kata Ningsih.

Lebih lanjut, menurut dia, kekerasan yang dialami laki-laki dan perempuan berasal dari asumsi yang berbeda gender. Artinya ada sebuah relasi yang dibentuk dari salah satu yang merasa lebih kuat dan salah satu merasa lemah. Ini yang membuat ada yang bias dalam relasi laki-laki dan perempuan. “KDRT ini menjadi salah satu masalah sosial, apabila kalau ada salah satu menjadi korban, maka menjadi persoalan sosial menurut negara,” ujarnya.

Ia menjelaskan, kewajiban masyarakat memberi pertolongan kepada korban, bahkan wajib mendengar, melihat dan menolong korban dalam hal mencegah. Faktanya, korban KDRT jarang melapor karena merasa hal tersebut dalam keluarga merupakan hal lumrah yang mudah terjadi.

Bagaimana peran gereja dalam mencegah dan menangani kekerasan dalam keluarga dan kekerasan berbasis gender yang sudah menjadi kekerasan berbasis sosial? Ini harus menjadi perhatian gereja dalam menangani hal-hal tersebut di tengah-tengah masyarakat.

“Mari sebagai sistem, kita harus diskusi dan tidak bisa kerja sendiri-sendiri. Kita belajar dari pola yang salah dimana kekerasan dianggap sebagai suatu pola yang baik. Kita semua sebenarnya pelaku kekerasan atau berpotensi sebagai korban kekerasan?,” ujar Ningsih.

“Yang terakhir, urusan keluarga ya urusan suami dan istri. Jangan salahkan apalagi ceritakan kepada orang lain, dan juga soal digital tugas kita adalah mempersiapkan jemaat kita untuk bijak dalam era seperti ini. Mari kita belajar terhadap perubahan di era ini,” kata Ningsih. (rnc07)

Komentar

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

News Feed