oleh

Soal Tambak Garam Sarai, MDT: Ratusan Juta Masuk ke Sabu Tiap Bulan

Kupang, RNC – Pengelolaan tambak garam seluas 32 hektar di Sabu Raijua menuai kritik sejumlah pihak, karena dinilai tidak berkontribusi untuk kas daerah. Namun, faktanya industri ini telah menyerap lebih dari 300 tenaga kerja.

Penasehat PT Nataga Raihawu Industri (NRI) selaku pengelola tambak garam Sabu Raijua, Marthen Luther Dira Tome kepada RakyatNTT.com, Selasa (11/6) menjelaskan tambak garam di Sabu Raijua saat ini sedang dikembangkan oleh PT NRI dan akan ada beberapa perusahaan lainnya.

Saat ini luas lahan masyarakat yang pakai untuk tambak garam sebanyak 32 hektar. Dalam Waktu dekat akan ada penambahan 10 hektar, sehingga menjadi 42 hektar.

Ultah JN scaled
Iklan

Menurut Marthen, total tenaga kerja yang dipakai saat ini mencapai 320 orang. Satu hektar mempekerjakan 10 orang. Setiap pekerja mendapat upah Rp1.250.000 per bulan. “Ke depan akan diperluas sehingga akan semakin banyak pekerja yang direkrut,” kata MDT-sapaan karib mantan Bupati Sabu Raijua itu.

Selain itu, seluruh pekerja juga dijamin kesejahteraannya dengan mendapatkan fasilitas BPJS Ketenagakerjaan serta diberikan jaminan hari tua dan jaminan pensiun.

Ia mengatakan kontribusi pihak ketiga untuk Sabu Raijua cukup luar biasa, karena mencapai 500-600 juta rupiah per bulan. Karena selain gaji ratusan karyawan, ada multiplyer effect lainnya seperti jasa angkutan, buruh pelabuhan dan lain-lain. “Jadi uang ratusan juta dikirim ke Sabu dan beredar di Sabu Raijua setiap bulan dan ini akan terus bertambah seiring dengan perluasan areal tambak,” kata MDT.

Marthen menjelaskan PT Nataga Raihau Industri berencana akan mengembangkan lahan tambak garam di Sabu Raijua hingga 500 Ha.

Ia pun mengkritisi pernyataan anggota DPRD Sabu Raijua, Vecky Adoe yang mengatakan tambak garam tidak berkontribusi untuk kas daerah. “Saya minta anggota dewan sebelum berkomentar baca dulu aturan-aturannya. Yang Namanya hasil usaha kelautan itu tidak dikenakan retribusi,” kata MDT.

Baca Juga:  Partai Perindo Serahkan Rekomendasi untuk Cabup Sabu Raijua, Rote Ndao dan SBD

Sementara itu, terkait dugaan pencemaran lingkungan, MDT menjelaskan ada pengaduan terkait sumur yang diduga tercemar, namun hal itu sudah diklarifikasi oleh kepala desa yang bersangkutan. “Jadi ada lima sumur, ada empat yang tidak ada masalah. Dan hanya satu yang rasa payau. Karena memang kondisi wilayah dan tanah beda-beda. Ada rongga bawah tanah bisa berpengaruh, sehingga tidak bisa ambil kesimpulan karena dampak tambak garam,” ujarnya.

Terkait abrasi pantai, menurut MDT, abrasi disebabkan karena maraknya tambang pasir illegal. Pemerintah daerah tidak tegas dalam menindak penambang legal, sehingga semakin lama abrasi merusak pantai. Oleh karena itu, menurutnya, justru dengan adanya pembangunan tambak garam, maka mengurangi aktivitas tambang pasir illegal, sehingga sempadan pantai bisa selamat dari abrasi. (rnc)

Ikuti berita terkini dan terlengkap di WhatsApp Channel RakyatNTT.com

Komentar

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *