oleh

Wujudkan Alor Sehat 2024, Pemkab Alor Bahas Masalah Sampah

Sabun Herbal Cyrus

Kalabahi, RNC – Pemerintah Kabupaten (Pemkab) Alor saat ini fokus pada program Alor Kenyang, Alor Sehat dan Alor Pintar. Khusus mewujudkan Alor Sehat, pemerintah melalui Badan Perencanaan, Penelitian dan Pengembangan (Bappelitbang) mengundang stakeholders di antaranya Dinas Lingkungan Hidup (DLH), WWF Indonesia Koordinator Wilayah Alor-Flores Timur, akademisi dari Politani Kupang, Universitas Tribuana Kalabahi, Jejaring Laut Bebas Plastik/Plastic Free Ocean Network (PFN), Kelompok Pemerhati Sampah dan Kelompok Mahasiswa Cipayung serta media guna mengkaji berbagai permasalahan sampah di Nusa Kenari.

Kepala Bappelitbang Kabupaten Alor, Ir. Marthen Hitikana melalui Kepala Bidang Sosial dan Budaya, Anderias Blegur, SH, M.Si mengatakan hal tersebut ketika membuka Workshop Diseminasi Hasil Pendataan Sampah Plastik Lautan Terpadu Suaka Alam Perairan (SAP) Selat Pantar, Senin (28/10) pagi di Aula Bappelitbang.

Dalam sambutannya, ia mengatakan pemerintah melalui visi mewujudkan Kabupaten Alor yang mandiri dan terbaik dalam IPM melalui kepemimpinan yang bersih dan berwibawa telah menggelontorkan sejumlah dana guna mewujudkan Alor Kenyang dan Alor Sehat hingga ke desa-desa, selain yang diperoleh melalui Dana Desa.

Ia juga meminta agar proses diskusi bisa mewujudkan hal-hal nyata yang bisa dilakukan oleh masyarakat Kabupaten Alor seperti mengurangi sampah plastik yang merugikan kehidupan satwa laut maupun darat dan berdampak buruk pada pengembangan pariwisata Alor, di mana diakuinya juga, bahwa Kabupaten Alor memiliki potensi laut dan darat yang mumpuni.

“Kita memiliki potensi laut dan darat. Dan salah satunya adalah temuan baru hiu tikus yang hanya ada di dua tempat di dunia. Ia masih adik dari dugong. Sayang kalau sampah plastik yang dibuang di laut menjadi habitat yang kurang nyaman bagi ikan langka itu,” kata Blegur.

Sementara itu, Koordinator Plastic Free Ocean Network Alor, Faryda Kolly dalam materinya menggambarkan temuan sebanyak 47% sampah plastik di delapan wilayah dari Kecamatan Alor Timur hingga Alor Barat Laut (Bagian Barat Pulau Alor). Lima merek terbanyak ditemui antara lain Mie Sedap, So Klin Higienis, Kopi Tugu Buaya, ABC Moca, dan Kulit Plastik Es Kiko. Ia juga menambahkan ditemukan juga botol dan kemasan plastik yang bukan berasal dari Indonesia.

Kepala Dinas Lingkungan Hidup, Obeth Bolang, S.Sos melalui Sekretaris Dinas Efrim Mariana Bessie dalam pemaparan materinya menjelaskan upaya Pemda melalui dinas teknis dengan komposisi tenaga latihan ratusan personil sejak beberapa tahun terakhir telah mengubah wajah Kota Kalabahi, terutama di sepanjang ruas jalan agar lebih bersih.

Efrim mengatakan program ini telah masuk ke berbagai kelompok masyarakat sehingga berbagai kegiatan massal selalu meminta pasukan hijau kuning untuk membersihkan sampah pasca kegiatan.
Meski demikian, secara terbuka diakuinya masih kekurangan SDM yang peduli lingkungan, sarana angkut dan dana operasional.

Penanggungjawab Kegiatan Marine Tourism and Plastic Officer WWF-Indonesia site Alor, Alexandra Maheswari dalam TOR yang diterima media menyebutkan, hasil yang diharapkan dalam pertemuan lanjutan ini menjadi media untuk menjaring pemikiran dan ide-ide dari stakeholders yang dapat dijadikan rekomendasi bagi aksi nyata selanjutnya. Termasuk membangun kesadaran publik Alor dalam pemanfaatan dan pengelolaan sampah serta menjadi draft usulan Rancangan Peraturan Daerah (Ranperda) tentang pengelolaan sampah di Kabupaten Alor. (*/rnc)

Komentar

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

News Feed