oleh

Alasan di Balik Nama Stadion Mini AD Riwu Kore NBS

Kupang, RNC – Stadion mini AD Riwu Kore terletak di Kelurahan Nunbaun Sabu (NBS), Kecamatan Alak. Stadion ini dibangun oleh Pemkot Kupang pada tahun 2022 lalu. Anggarannya sebesar Rp3,3 miliar.
Saat ini pembangunannya hampir selesai. Bagian-bagian utama stadion ini sudah rampung. Bahkan nama stadion pun sudah terpasang. Warga setempat menamainya Stadion AD Riwu Kore.
AD Riwu Kore adalah tokoh masyarakat setempat. Namanya sudah tak asing bagi warga NBS. Warga di luar NBS memang belum banyak mengenalnya. Apalagi tahu soal sepak terjangnya sebelum wafat beberapa tahun lalu.
AD Riwu Kore beberapa hari terakhir menjadi trending. Itu setelah beberapa orang anggota dewan Kota Kupang mendatangi proyek ini. Pasalnya, mereka tampak kaget melihat stadion ini dinamai AD Riwu Kore. Mereka pun langsung ‘kepanasan’. Lewat beberapa media online, anggota dewan ajukan protes. Bukan karena AD Riwu Kore adalah ayah dari mantan Wali Kota Kupang Jefri Riwu Kore (Jeriko), tapi katanya penamaan itu tidak dikoordinasikan dengan dewan.
Rabu (18/1/2023), RakyatNTT.com mendatangi lokasi stadion mini yang indah ini. Benar, terpampang gapura bertuliskan Stadion AD Riwu Kore. Menurut warga setempat, nama ini sudah lama dipasang. Ada yang heran kenapa baru sekarang diributkan.
Beberapa tokoh masyarakat setempat bersedia memberikan keterangan tentang penamaan stadion tersebut.
Welem Radja, salah satu tokoh masyarakat NBS mengatakan dirinya menjadi saksi sejarah kehidupan masyakarat Nunbaun Sabu selama puluhan tahun. Oleh karena itu, ia mengikuti betul proses pembangunan kampung itu hingga kini menjadi daerah yang sudah berubah.  Salah satu sosok yang membuat perubahan kampung itu bernama AD Riwu Kore.
Ia menjadi pelopor perubahan, dimulai dari bidang pendidikan. Sosok AD Riwu Kore merupakan pendiri SDI Nunbaun Sabu. Ia juga menjadi kepala sekolah pertama di sekolah tersebut.
“Bapak A. D. Riwu kore adalah teman guru saya. Kami bersama-sama membangun sekolah tersebut, sehingga sosok beliau layak diberikan tanda jasa dan penghargaan. Jadi tidak ada yang salah dengan nama stadion mini itu,” kata Welem.Welem mengatakan sosok A D Riwu Kore adalah panutan bagi masyarakat setempat. Ia mengisahkan bahwa suatu ketika ada beberapa oknum mafia tanah yang hendak mengambil secara sepihak dua bidang tanah milik dua Sekolah Dasar di NBS. Satu bidang tanah yang lokasinya saat ini sedang dibangun stadion mini tersebut.

Para mafia tersebut rupanya belum mengenal sosok AD Riwu Kore, yang dikenal sebagai sosok pemberani. Akhirnya tanah-tanah itu gagal diokupasi para mafia. “Beliau layak diberikan tanda jasa di lapangan mini tersebut. Pemberian tanda jasa di stadion mini tersebut bukan karena dia adalah ayah dari mantan wali kota Jefri Riwu Kore. Bukan itu, tapi dia banyak berbuat untuk kampung ini,” tegas Welem.

banner BI FAST

“Dulu saya bersama beliau, biar susah-susah kami tetap mempertahankan tanah di sekolah dan tanah lapangan mini yang sedang dibangun ini dari para mafia. Kkami juga bersama para siswa menanam pohon di pekarangan sekolah dan di stadion mini itu, jadi saya tau dengan jelas siapa sosok A. D. Riwu Kore di NBS,” tegasnya.

Ia juga menguraikan, tak hanya nama AD Riwu Kore yang diabadikan di kampung ini. Ada banyak tokoh setempat yang berjasa bagi NBS sudah diabadikan menjadi nama jalan.

Sudah Disepakati Bersama Masyarakat

Terpisah, Ketua LPM Kelurahan NBS, Pdt. Yehezkial Hede menyampaikan bahwa penamaan lapangan mini tersebut telah melalui Musyawarah Perencanaan Pembangunan (Musrenbang) Kelurahan dan melalui kesepakatan bersama masyarakat Kelurahan NBS.”Kami heran juga, mengapa ada yang masih membuat polemik soal nama lapangan tersebut. Karena kami mendengar gosip-gosip seperti ini, maka langkah yang diambil oleh sejumlah masyarakat NBS adalah mendatangi kelurahan untuk melakukan kesepakan untuk bertemu dengan Pemerintah Kota Kupang dan DPRD Kota Kupang untuk mencari solusi terkait masalah penamaan stadion mini tersebut,” kata Pdt. Hede.

Ia menegaskan pihaknya sudah menyerahkan hasil Musrenbang kelurahan ke Pemerintah Kota Kupang. “Kami soroti hal ini untuk kami pertanyakan kepada pemerintah mengapa mempermasalahkan nama A. D. Riwu Kore yang sudah dipasang di stadion mini itu. Kenapa harus dipermasalahkan hal sederhana seperti itu,” tandasnya.

Pdt. Yehezkial Hede juga menyampaikan bahwa dirinya  bersama masyarakat akan tetap mempertahankan nama A. D. Riwu Kore untuk diabadikan menjadi nama stadion mini tersebut, karena ia banyak berjasa untuk Kelurahan NBS.

”Bapak A. D. Riwu Kore orang yang sangat berjasa bagi kami masyarakat NBS, sehingga beliau layak diberikan penghargaan. Kalau sampai Pemerintah dan DPRD Kota Kupang tetap bersikeras mengganti nama stadion mini tersebut, kami masyarkat NBS akan menolak dengan tegas,” ujar Pdt. Hede.

Ia menegaskan jika DPRD bersikeras  mengganti nama lapangan tersebut, maka masyarakat akan mengambil langkah berbeda dengan merusak lapangan tersebut. “Kami akan mempertahankan nama yang sudah ada. Tetapi kalau pemerintah dan DPRD tetap bersikeras dan memaksa untuk menggantinya dengan nama lain, minta maaf, terpaksa kami akan bongkar lapangan tersebut,” pungkasnya. (*/rnc)

Komentar

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

1 komentar

  1. Terkait dengan Polemik LAPANGAN MINI (NBS) Oleh Anggota DPRD Kota Kupang, — sepertinya tdk tanggap dgn Jelas oleh Komentator ttng.Pernyataan beberapa Anggota Dewan Kota dimksud. ~~~ Kalau tidak salah, menurut saya, Maksud Dewan adlah, ” BUKAN ” tidak setuju dengan Pemberian Nama : A D. RIWU KORE melainkan dikarenakan TIDAK ada KOORDINASI dengan Dewan.