oleh

5 Tahun Firmanmu (6): Warga Dibawa Menginap di Rujab, Makan Satu Meja

Kupang, RNC – Salah satu program Pemerintah Kota Kupang yang paling menyentuh kebutuhan warga adalah program bedah rumah. Program ini menyasar warga kurang mampu yang memiliki rumah tidak layak huni.

Program ini dimulai pada tahun 2020 hingga 2022. Bedah rumah merupakan program di Dinas Perumahan Rakyat dan Kawasan Permukiman (PRKP) Kota Kupang. Selama kurang lebih 3 tahun, total 1.043 rumah dibangun. Sebanyak 281 unit di antaranya menggunakan anggaran dari APBD Kota Kupang. Sisanya menggunakan anggaran bantuan pemerintah pusat.

banner BI FAST

Program ini merupakan salah satu terobosan Wali Kota Kupang, Dr. Jefri Riwu Kore kala itu untuk membantu masyarakat kurang mampu.

Umumnya rumah-rumah yang dibedah adalah rumah sangat sederhana, yang sudah lapuk. Atap bolong, berdinding kayu atau seng dan sudah tidak layak ditinggali.

Tak hanya itu, pemiliknya juga mesti berkategori tidak mampu. Bukan PNS atau karyawan. Juga tidak sedang menerima bantuan rumah atau renovasi rumah dari instansi pemerintah atau lembaga lain. Kebanyakan penerima program bedah rumah adalah pedagang kaki lima, pemulung, nelayan, petani, buruh dan pekerja serabutan. Nama-nama calon penerima program diusulkan oleh masyarakat, kemudian disurvei. Setelah dinyatakan layak, rumah lama dibongkar untuk selanjutnya dibangun baru.

Rumah yang dibangun berukuran 6×6 meter. Memiliki 2 kamar tidur dan dilengkapi toilet. Dindingnya tidak diplester dan berlantai kasar. Walau sederhana, namun sudah layak huni.

Selama proses pembangunan rumah yang memakan waktu 2-3 minggu, warga penerima bantuan bisa menginap di rumah kerabat atau keluarga. Jika tidak ada kerabat yang bisa menampung, Wali Kota Jeriko biasanya memboyong mereka menginap di rumah jabatan. Ada juga yang diinapkan di hotel.

makan di rujab 2
Wali Kota Jeriko makan bersama para penerima bantuan bedah rumah di rujab wali kota. (Foto: Dok. RNC)

Pada Juli 2020 lalu, Wali Kota Jeriko memboyong dua keluarga sekaligus dari Kelurahan Manulai II menginap di rumah jabatan wali kota. Kedua keluarga ini masing-masing keluarga Luther Masu dan Elisabeth Safes Toto.

Baca Juga:  Yang Tuding Dana CSR di Pemkot Kupang Hilang adalah Fitnah

Selama tinggal di rujab, aktivitas mereka adalah membantu Wali Kota Kupang, Dr. Jefri Riwu Kore dan istrinya Hilda Manafe untuk merawat tanaman-tanaman yang ada di halaman belakang rujab.

Menurut mereka, aktivitas ini tak bedanya dengan aktivitas mereka di rumah. Yang membedakan adalah fasilitas penginapan dan juga makan minum.

Luther Masu mengaku sangat tersentuh dengan pelayanan yang diberikan wali kota. Tidak sekadar membantu membangun rumah, tapi juga membawa mereka untuk tinggal sementara di rumah jabatan. Mereka pun bisa mengetahui aktivitas wali kota setiap hari.

Isteri Luther, Rut Masu Baitanu mengaku terkesan dengan bantuan yang diberikan. Pasalnya, rumah baru merupakan impiannya sejak dahulu. Baru kali ini bisa terwujud.

Rut pun menceritakan ketika memasuki musim hujan, kondisi rumah mereka sangat memprihatinkan. Atap rumah yang lapuk sering terbongkar. Air hujan pun masuk membasahi tempat tidur.

“Kadang kami harus bangun dan pindah posisi tidur. Kadang juga kami tunggu hujan berhenti sambil perbaiki atap yang rusak,” katanya.

“Memang baru sampai di pak Wali Kota Jefri ini baru mau perhatikan rakyatnya yang kurang mampu seperti kami. Jujur saya terkesan,” ungkap Rut saat ditemui di rujab wali kota.

Sementara itu, Elizabeth Safes Toto yang juga salah satu penerima bantuan mengatakan dirinya sangat bersyukur telah mendapat bantuan bedah rumah. Tak hanya itu, ia berkesempatan tinggal di rumah dinas orang nomor 1 di Kota Kupang. Berkesempatan makan dan minum bersama dengan wali kota di meja makan yang sama. Menurutnya, tidak semua orang merasakan hal ini. Sesuatu yang tak pernah terbayangkan sebelumnya.

Ia mengatakan sudah rindu memiliki rumah layak huni sejak dulu. Pasalnya, kondisi rumah mereka sangat tidak memadai. Dindingnya bolong-bolong. Atapnya bocor. Apalagi, ukuran rumah yang sempit, sehingga mereka berlima sekeluarga harus berdesak-desakan. Belum lagi ketika ada keluarga yang berkunjung dan menginap.

Baca Juga:  Kota Kupang Bawa 526 Atlet dan Official, Siap Pertahankan Gelar Juara Umum

“Dari kondisi rumah ini saya hanya berdoa. Saya kepingin punya rumah tembok, karena semua dinding seng jadi kalau panas itu kami seperti terbakar,” ungkapnya.

Yang menarik adalah para penerima bantuan bedah rumah, tak hanya menerima bantuan rumah. Mereka juga dibantu dengan fasilitas pendukung seperti kursi dan meja, tempat tidur, kasur, sprei, bantal, hingga sembako.

Bantuan-bantuan ini di luar bantuan pemerintah. Lebih banyak adalah sumbangan pribadi Wali Kota Jeriko dan istrinya, Hilda Manafe. Jeriko juga rutin mencari donasi untuk membeli perabotan tersebut.

Menurutnya, saat survei rumah, ada banyak sekali warga yang selain rumah tidak layak, fasilitas di rumah sangat terbatas. “Ada yang hanya tidur di lantai karena tidak ada tempat tidur. Kursi meja tidak ada. Jadi kita harus cari cara untuk bantu,” kata Jeriko pada sebuah kesempatan usai penyerahan rumah.

Warga Beri Apresiasi

Imo Giri, salah satu tetangga penerima bantuan rumah atas nama Elisabeth Safes Toto di Kelurahan Manulai II, memberikan apresiasi kepada Wali Kota Jeriko. Menurutnya, bantuan ini sangat bermanfaat bagi masyarakat kecil. Pasalnya, rumah yang sebelumnya dimiliki Elisabet benar-benar masuk kategori tidak layak huni.

“Tapi kami yakin lewat doa dan ketekunannya, maka Tuhan menjawab lewat Pemerintah Kota Kupang, dan bersyukur hari ini (17/7/2022) sudah penyerahan kunci rumah,” katanya.

Masih dari Kelurahan Manulai II, Jibrael Kolo, tetangga dari Luther Masu yang menjadi salah satu penerima bantuan mengungkapkan rasa bahagianya. Menurutnya, baru pada masa Pemerintahan Wali Kota Jeriko, program bedah rumah dapat dilaksanakan dengan menyentuh tetangganya yang sangat kesulitan untuk memiliki rumah yang layak. Ia pun menilai program itu sangat prorakyat.

Baca Juga:  Air Mancur Bundaran Tirosa Memang Mahal, Siapa Biayai?

“Harapan ke depan itu, Pemerintah memperhatikan yang lain lagi karena program ini sangat menyentuh masyarakat lemah,” ungkapnya.

Hal yang sama juga disampaikan warga Kelurahan Manutapen, Mariantje Kore. Ia mengatakan program tersebut sangat menyentuh langsung masyarakat yang mengalami kesulitan hidup. Fakta sebelumnya, tetangganya atas nama Ferdinand Mboeik memiliki rumah yang tidak layak huni.

“Kami keluarga dan tetangga di sini memang sangat mensyukuri ini. Kami minta terima kasih banyak karena itu saja yang bisa kami ucapkan,” katanya sambil menahan tangis haru.

(rnc/bersambung)

Dapatkan update informasi setiap hari dari RakyatNTT.com dengan mendownload Apps https://rakyatntt.com

Komentar

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

News Feed