oleh

BMKG: Juni-Agustus Curah Hujan di NTT Sangat Rendah, Agustus Puncak Kemarau

Jakarta, RNC – Sejumlah provinsi berpotensi mengalami suhu tinggi selama musim kemarau hingga akhir tahun 2024. Di mana saja wilayahnya?

Kepala Badan Meteorologi, Klimatologi, dan Geofisika (BMKG) Juanda Taufiq Hermawan mengatakan bahwa saat ini sudah mulai memasuki musim kemarau. Artinya, suhu akan terus meningkat hingga beberapa waktu ke depan.

“Sesuai dengan prediksi BMKG, pada saat ini sudah masuk dalam musim kemarau. Suhu akan lebih meningkat saat memasuki puncak kemarau pada Agustus dan September mendatang,” kata Taufiq saat dikonfirmasi, Selasa (4/6) dilansir ari CNNIndonesia.com.

Kepala BMKG Dwikorita Karnawati sebelumnya juga sudah mengungkap daerah yang berpotensi mengalami kekeringan parah selama periode musim kemarau.

Menurut Dwikorita prediksi curah hujan dan sifat hujan bulanan menunjukkan kondisi kekeringan selama musim kemarau akan mendominasi hingga September. Daerah-daerah dengan potensi curah hujan bulanan sangat rendah atau kurang dari 50 mm per bulan perlu mendapatkan perhatian khusus untuk mitigasi dampak kekeringan.

Ia memaparkan hasil pemetaan BMKG pada Juni, Juli, dan Agustus 2024 sejumlah daerah yang berpotensi mengalami curah hujan sangat rendah adalah meliputi sebagian Lampung, Pulau Jawa, Bali, Nusa Tenggara Barat dan Nusa Tenggara Timur serta sebagian Sulawesi Selatan dan Sulawesi Tenggara.

Sementara itu, pada September 2024 curah hujan di bawah 50 mm per bulan masih berpeluang terjadi di Pulau Jawa, Bali, Nusa Tenggara Barat dan Nusa Tenggara Timur.

“Kemudian selanjutnya pada bulan Oktober 2024 kondisi serupa, yaitu curah hujan di bawah 50 mm per bulan diprediksi terjadi di sebagian Jawa Timur, Nusa Tenggara Barat dan Nusa Tenggara Timur,” ujar Dwikorita.

“Jadi tampaknya Jawa Timur, kemudian Nusa Tenggara Barat dan Nusa Tenggara Timur mengalami kondisi curah hujan sangat rendah atau kurang dari 50 mm per bulan itu dimulai pada bulan Juni berlangsung terus hingga Juli bahkan Agustus juga masih September juga dan bulan Oktober,” tuturnya menambahkan.

Dwikorita sebelumnya juga sempat mengungkap monitoring hotspot dengan satelit menunjukkan telah munculnya beberapa hotspot awal pada daerah-daerah rawan karhutla, untuk itu diperlukan perhatian khusus untuk potensi terjadinya hotspot dan karhutla perlu diwaspadai untuk daerahdaerah yang memiliki resiko menengah dan tinggi.

Puncak kemarau

Dwikorita mengatakan secara umum awal musim kemarau dimulai dalam waktu tidak bersamaan di berbagai wilayah di Indonesia. Sebagian besar wilayah di Indonesia diprediksi memasuki musim kemarau pada bulan April hingga Juni 2024, yakni di sebagian Besar Pulau Sumatera, Pulau Jawa, Pulau Bali, NTB, NTT, sebagian Kalimantan Barat, sebagian kecil Kalimantan Timur.

Kemudian di sebagian Sulawesi Selatan, sebagian Sulawesi Tenggara, sebagian kecil Maluku, sebagian Papua dan Papua Selatan.

Sementara itu, ada juga wilayah yang diprediksi akan memasuki musim kemarau yang lebih lambat dari normalnya yaitu sebagian Sumatera Utara, sebagian Riau, Lampung, Banten, Jakarta, Jawa Barat, DIY, Jawa Timur, sebagian besar Kalimantan, sebagian Bali, NTB, sebagian NTT, sebagian Sulawesi Tenggara, sebagian Sulawesi Barat, sebagian besar Sulawesi Tengah, Gorontalo, sebagian Sulawesi Tengah dan sebagian Maluku.

Sedangkan, wilayah yang diprediksi memasuki musim kemarau paling akhir adalah Sulawesi Tengah bagian tengah, yaitu pada awal Desember 2024.

“Puncak musim kemarau umumnya akan terjadi pada bulan Agustus 2024 yaitu meliputi sebagian Sumatera Selatan, Jawa Timur, sebagian besar Pulau Kalimantan, Bali, NTB, NTT, sebagian besar Pulau Sulawesi, Maluku dan sebagian besar Pulau Papua,” kata Dwikorita. (*/cnn/rnc)

Ikuti berita terkini dan terlengkap di WhatsApp Channel RakyatNTT.com

Komentar

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *