oleh

Felix Pullu, 46 Tahun Nyaman di Bawah Beringin

Nama Felix Pullu tentu tidak asing bagi keluarga besar Golkar Nusa Tenggara Timur (NTT). Usianya sudah terbilang senja. Namun kiprahnya sebagai politisi tetap bersinar. Bagi sesepuh Golkar ini, usia hanyalah masalah angka. Terbukti, Felix yang saat ini berusia 79 tahun, masih aktif sebagai Ketua Dewan Pertimbangan DPD I Golkar NTT.

Rabu (13/10/2020) siang, RakyatNTT.com mewawancarai Felix. Tidak face to face (tatap muka). Ia justru bersedia diwawancara via sambungan selular. Alasannya simpel. Pendengarannya masih tajam. Dari balik ponsel, suara Felix terdengar energik. Lebih dari itu, ia piawai merangkai kata dan kalimat. Itu terlihat dari jawaban-jawabannya yang sangat sistematis.

Felix menjadi bagian dari Golkar sejak tahun 1974 atau 10 tahun setelah Golkar berdiri. Ketika itu partai berlambang beringin masih disebut Sekber Golkar (Sekretariat Bersama Golongan Karya). Sebelumnya, pria kelahiran 18 Januari 1941 itu berkiprah di Partai Katolik. Partai yang juga dihuni Jan Jos Botha. Tokoh Golkar yang sudah berpulang itu bahkan pernah menjadi ketua. Saat Jan Botha terpilih dan dilantik menjadi Bupati Ngada, Felix ditunjuk menjadi pelaksana tugas (Plt) Ketua Partai Katolik Ngada (1969-1970). Pada pemilihan umum (Pemilu) tahun 1971, Partai Katolik menjadi pemenang di NTT dan Golkar menang mutlak secara nasional. Namun karena statusnya sebagai pegawai negeri, Felix kemudian beralih dari Partai Katolik. Sebab saat itu semua pegawai negeri diarahkan oleh Korps Pegawai Negeri untuk bergabung dalam Pokar (Kelompok Karya). Ini sebuah keharusan, mengingat ada kebijakan Presiden Soeharto yang bertujuan untuk memuluskan kemenangan Golkar di setiap hajatan Pemilu. Salah satunya adalah soal monoloyalitas pegawai negeri.

“Sebagai pegawai negeri, dulu kita tidak boleh ke mana-mana. Pegawai negeri dari semua departemen diarahkan untuk bergabung dalam Pokar,” kenang pria yang sempat menjadi guru SMA selepas mendapat gelar BA dari IKIP Sanata Dharma Yogyakarta (kini Universitas Sanata Dharma, red) tahun 1969.

Tahun 1977, Felix pindah dari Bajawa ke Kupang dan menjadi anggota DPRD Provinsi NTT. Anggota DPRD saat itu belum dipilih masyarakat secara langsung. Sebaliknya, DPRD ditunjuk dan diseleksi di internal organisasi atau partai. Ia menjadi wakil rakyat selama empat periode (1977-1997). Pada periode kedua dan ketiga, suami Raymunda To Wea itu dipercayakan menjadi Wakil Ketua. “Dulu anggarannya serba terbatas. Anggota DPRD tidak ada uang. Tapi dalam keterbatasan, kami menggunakan hak-hak legislasi dengan baik dan benar.” Kata-kata Felix ini menjadi pesan yang kuat untuk wakil rakyat masa kini.

Setelah empat periode menjadi wakil rakyat, kesetiaan Felix dengan Golkar tidak luntur. Bahkan ketika Golkar mengalami turbulensi seiring dengan derasnya arus reformasi hingga keruntuhan rezim Orde Baru, ia sama sekali tidak berpaling meninggalkan Golkar. Kesetiaan yang sama juga ditunjukan rekan segenerasinya, seperti Akri Deodatus, Umbu Saga Anakaka, Carles Mesang, dr. Husein Pankratius, Daniel Banunaek, Saleh Orang, Daniel Adoe, dan tokoh Golkar lainnya. Mereka sadar betul bahwa setiap pemimpin ada zamannya dan setiap zaman ada pemimpinnya. Sebuah dialektika sejarah, sederhana tapi luar biasa. “Setiap era pasti ada dinamikanya. Tapi sejelek-jeleknya Pak Harto, trilogi pembangunannya sangat terukur. Stabilitas nasional terjaga, ada pertumbuhan ekonomi serta pemerataan pembangunan,” kata alumni Fakultas Hukum Universitas Nusa Cendana (Undana) Kupang itu.

Menurut Felix, lengsernya Orde Baru pada tahun 1998, di satu sisi memang menimbulkan turbulensi karena birokrat (pegawai negeri) dan ABRI tidak lagi menjadi tulang punggung Golkar. Di sisi lain, ada hal positif di balik peristiwa itu. Golkar dengan kekuatannya sendiri menjadi lebih dewasa. Kader-kadernya juga lebih teruji. Satu hal yang pasti, baik masih sebagai Sekber Golkar hingga berubah wujud menjadi Partai Golkar, kerja-kerja politik Golkar tetap berlandaskan pada empat pilar kebangsaan. Pancasila, UUD 1945, NKRI dan Bhineka Tunggal Ika. Golkar tidak sedikitpun mempersoalkan perbedaan keyakinan, suku dan ras. Golkar tidak mengkultuskan orang, tapi mengkultuskan karya dan kekaryaan setiap orang yang bergabung di dalamnya. Golkar punya rasa kesetiakawan, tapi tidak membela kawan yang salah. Inilah sederet prinsip Golkar yang membuat Felix betah dan merasa aman bernaung di bawah beringin Golkar selama puluhan tahun. “Saya mencintai dan loyal dengan Golkar karena memang ditempa oleh sejarah. 46 tahun bersama Golkar, saya merasa rumah ini lebih aman daripada rumah yang lain.”

Felix yakin Golkar akan tetap eksis dan kokoh menjadi partai besar. Sebab selain berlandaskan empat pilar kebangsaan, Golkar punya standar dalam merekrut kader. Yakni, prestasi, dedikasi, loyalitas, dan tidak tercela (PDLT). Standar yang sama tersebut juga dipakai dalam penentuan calon kepala daerah. Golkar hari ini, lanjut Felix, juga tidak lagi antikritik dan tidak one men show. Dengan demikian, perbedaan pendapat menjadi sesuatu yang wajar terjadi di tubuh Golkar. “Kami bisa berbeda pendapat dengan Erlangga Hartarto (Ketua Umum Golkar) atau dengan Melki Laka Lena (Ketua Golkar NTT). Tapi Golkar paling jago untuk musyawarah. Sebelum masuk kepada konsolidasi organisasi, Golkar dahulukan konsolidasi hati,” imbuh Felix.

Sebentar lagi, tepatnya pada 20 Oktober 2020, Partai Golkar akan genap berusia 56 tahun. Berkenaan dengan momentum ini, sebagai kader senior yang telah 46 tahun melewati suka duka bersama Golkar, Felix meninggalkan beberapa catatan untuk generasi milenial Golkar NTT. Paling utama, kader Golkar harus tetap berpihak kepada rakyat, agar tidak ditinggalkan. Golkar bukanlah tempat atau tujuan untuk memperkaya diri. Sebaliknya, Golkar adalah kendaraan politik untuk memperjuangkan berbagai kepentingan rakyat.

Golkar melalui kader-kadernya jangan omong tanpa isi, apalagi omong kosong. Kader Golkar harus omong sistematis, terukur dan jujur serta meninggalkan rekam jejak yang baik. Kader Golkar juga harus introspeksi dan belajar dari kesalahan-kesalahan pemimpin di masa lalu dan bekerja sesuai tantangan zaman. “Saya bangga karena Ketua Golkar NTT, Melki Laka Lena memimpin dengan gaya kepemimpinan milenial. Dia memberikan kepercayaan kepada kader-kader muda untuk menjadi ketua partai di daerah. Semoga kader muda Golkar NTT tetap berprestasi, berdedikasi, loyal, dan menjaga moralitas agar marwah Partai Golkar tetap terjaga,” ungkap Felix menutup diskusi panjang dengan RakyatNTT.com selama 50 menit 21 detik.

Terima kasih Opa Felix. Partai Golkar yang sebentar lagi berulang tahun ke-56 tahun pasti bangga memiliki kader sepertimu. Tokoh yang hebat menginspirasi kesetiaan yang luar biasa bagi generasi selanjutnya. Teruslah berkarya dan menjadi panutan bagi kader milenial Golkar di NTT. (Tommy Aquino)

Komentar

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

News Feed