Kupang, RNC – Akademisi senior asal Fakultas Peternakan, Kelautan dan Perikanan (FPKP), sekaligus Wakil Rektor II Bidang Umum dan Keuangan Universitas Nusa Cendana (Undana), Ir. Jalaludin, M.Si, akhirnya resmi menyandang gelar Doktor Bidang Ilmu Peternakan. Kepastian itu diperoleh usai Promovendus Jalaludin berhasil mempertanggungjawabkan disertasinya dihadapan penguji pada Ujian Terbuka Program Doktor Ilmu Peternakan FPKP Undana, yang dilaksanakan di Aula Gedung Pascasarjana, Selasa (24/1/2023).
Ujian terbuka yang dipimpin Dekan FPKP Undana, Dr. Ir. Arnold E. Manu, MP tersebut, dihadiri Promotor sekaligus penguji Prof. Dr. Ir. Erna Hartati, MS, Co Promotor I, Ir. I Gusti Ngurah Jelantik, M.Sc, Ph.D, dan Co Promotor II Dr. Ir. Tara Tiba Nikolaus, M.Sc. Hadir pula sejumlah penguji seperti Dr. Ir. Maritje A. Hilakore, MS, Dr. Thomas Matahine, M.Si, dan Dr. Ir. Maria Krova, M.Si. Sementara Prof. Dr. Ir. Hidayat Tanuwiria, M.Si mengikuti secara daring.
Hadir pula Rektor Undana, Dr. drh. Maxs U. E. Sanam, M.Sc, Wakil Rektor III Bidang Kemahasiswaan dan Alumni, Dr. Siprianus Suban Garak, M.Si dan Waki Rektor IV Bidang Perencanaan, Kerja Sama dan Sistem Informasi, Dr. Jefri S. Bale, ST., M. Eng. Hadir pula Prof. Ir. Fredrik L. Benu, M.Si., Ph. D (Rektor Undana periode 2013 – 2017, 2018 – 2021, sejumlah dosen dan pegawai FPKP, beserta jajaran pimpinan dan pegawai di Biro Umum dan Keuangan Undana.
Di hadapan penguji dan para undangan, Dr. Ir. Jalaludin, M.Si berhasil mempertahankan disertasinya berjudul: “Penggunan Rumput Laut Eucheuma Cottonii Afkir sebagai Stimulan Perkembangan Rumen, Pemanfaatan Nutrisi dan Pertumbuhan Pedet Sapi Bali Disapih Dini”. Hasil penetapan nilai yang dilakukan para penguji yang dibacakan pimpinan ujian, Dr. Ir. Arnold E. Manu, MP menyatakan Dr. Jalaludin dinyatakan lulus sebagai Doktor Bidang Ilmu Peternakan dengan Indeks Predikat Kumulatif (IPK) 3,91.
Dalam pertanggungjawaban ilmiahnya, Dr. Ir. Jalaludin, M.Si menjelaskan, produksi ternak sapi, khususnya di Provinsi NTT, sampai saat ini masih rendah. Hal ini karena beberapa faktor diantaranya angka kematian sapi, terutama pedet sebelum disapih di NTT masih tinggi, bisa mencapai 53,3 persen. Sementara calf crop (anak sapi) sapi Bali di NTT hanya 21 persen. Ia menyebutkan, rentan kematian sapi Bali di NTT sangat luas yakni 6,12 hingga 65,5 persen dan merupakan tingkat kematian tertinggi di Indonesia. Selain itu, kematian juga terjadi di awal musim hujan, dimana adanya predator, dan penyakit seperti Septicaemia epizootica (SE).
“Penyebab lainnya ikut berkontribusi terhadap tingginya kematian pedet sapi Bali yakni kelahiran sapi Bali di NTT lebih banyak terjadi selama bulan Juni sampai Agustus atau bertepatan dengan musim kemarau,” ujarnya. Hal itu disebabkan ketersediaan pakan, baik kualitas maupun kuantitasnya menurun, sehingga produksi susu induk rendah yang telah menyebabkan pedet mengalami malnutrisi dan terjadi angka kematian yang tinggi.
Dr. Jalaludin mengatakan, ketersediaan pakan di NTT sangat dipengaruhi musim, dimana dengan musim kemarau yang cukup panjang (8-9) bulan, berdampak pada ketersediaan pakan secara kualitas maupun kuantitas. “Produksi hijauan segara dari padang penggembalaan mampu mencapai 110 ton/ha bahkan dapat mencapai 260 ton/ha pada musim hujan. Namun, pada musim kemarau produksi hijauan menurun hingga setengahnya. Demikian pula kandungan kasar berdasarkan bahan kering rumput umur dua minggu dapat mencapai 15 persen pada musim hujan, tetapi menurun drastic hingga 3,83 persen pada musim kemarau disertai tingginya kandungan Neutral Detergent Fiber (NDF) yang dapat mencapai 80 persen dan nilai kecernaan Bahan Kering 42 persen,” papar dosen Prodi Ilmu Peternakan FPKP Undana itu.
Karena itu, penyapihan dini (early weaning) merupakan salah satu pilihan untuk mengatasi permasalahan di atas. Selain hijauan, rumput laut merupakan sumber biomassa yang dapat digunakan sebagai pakan suplemen karena memiliki kadar protein, mineral dan vitamin cukup tinggi dengan kandungan serat kasar yang rendah. “Kandungan nutrisi Eucheuma cottonii cukup tinggi dimana Protein Kasar (PK) berkisar 4-7 persen, lemak berkisar 0,36-0,89 persen, karbohidrat berkisar 18,63-69,9 persen dan abu berkisar 14,81-43,49 persen,” terangnya
Penelitian yang dilakukannya bertujuan, antara lain: 1) Mengkaji komposisi kimia dan kualitas ECOT Afkir (Kecernaan BK dan BO secara in vitro) yang diperoleh dari lokasi panen berbeda. 2) Mengkaji pengaruh penambahan ECOT afkir dalam pakan komplit terhadap perkembangan struktur dan fungsi rumen pedet sapi Bali disapih dini. 3) Mengkaji pengaruh penambahan ECOT afkir dalam pakan komplit terhadap pemanfaatan nutrisi oleh pedet sapi Bali disapih dini. 4) Mengkaji lama pemberian dengan level ECOT afkir dalam pakan komplit terhadap pertumbuhan dan komposisi tubuh pedet sapi Bali disapih dini dan (5) Mengkaji level terbaik ECOT afkir dalam pakan komplit pedet sapi Bali disapih dini.
Melalui penelitiannya, ia juga menyarankan agar Eucheuma cottonii afkir asal Alor sebaiknya digunakan sebagai bahan suplemen dalam pakan komplit untuk pedet sapi Bali disapih dini, kemudian penggunaan Eucheuma cottonii afkir dalam pakan komplit sebanyak 5 persen dalam pakan komplit dengan lama pemberian 60 hari, serta perlu dilakukan kajian lebih lanjut terkait penggunaan Eucheuma cottonii afkir sebagai pakan ternak ruminansia khususnya sapi Bali setelah melalui perlakuan. (*/robert kadang)