oleh

Anggota DPRD Kota Kupang: Nama Stadion AD Riwu Kore Tak Boleh Diganti

Kupang, RNC – Anggota DPRD Kota Kupang, Livingston Ratu Kadja menegaskan nama Stadion Mini AD Riwu Kore di Kelurahan Nunbaun Sabu disetujui masyarakat setempat saat forum Musyawarah Rencana Pembangunan (Musrenbang) tingkat kelurahan. Alasannya, sosok almarhum AD Riwu Kore merupakan tokoh masyarakat setempat yang berjasa bagi masyarakat.

Kepada RakyatNTT.com, Kamis (19/1/2023), Anggota DPRD asal PAN ini mengatakan, nama AD Riwu Kore dipakai sebagai nama stadion mini tersebut sangat tepat. Menurutnya, AD Riwu Kore merupakan Kepala SDI NBS pertama dan menjadi panutan masyarakat. Ia berjasa di bidang pendidikan bagi masyarakat NBS.

banner BI FAST

Sosok AD Riwu Kore juga berhasil dalam perjuangannya menghadapi para mafia tanah yang ingin menguasai lahan negara di NBS. Livingston yang adalah Anggota Komisi IV ini mengungkapkan, dirinya bersama LPM dan para tokoh masyarakat setempatlah yang bersepakat agar nama alm. A D Riwu Kore diusulkan untuk menjadi nama stadion itu. “Itu pas ada Musrenbang kelurahan dan di saat itulah kita berdiskusi soal penamaan stadion mini itu,” ungkapnya.

Sebagai salah satu pelaku sejarah perjuangan A D Riwu Kore kala itu, Liv-sapaan karib politisi PAN ini, menegaskan nama ini harus tetap dipertahankan karena punya nilai sejarah bagi masyarakat setempat. “Beliau itu punya histori. Nama itu tidak sembarang. Lahan itu dipertahankan oleh beliau sebagai kepala sekolah waktu itu dan kami sebagai anak murid saat itu,” ucapnya.

Berbeda dengan anggotanya, Ketua Komisi IV DPRD Kota Kupang, Theodora Ewalde Taek justru menolak nama A D Riwu Kore. Ia beralasan pekerjaan stadion belum selesai. Ia mengatakan, penamaan suatu aset tidak bisa hanya melalui diskusi dua atau tiga orang dan berkesimpulan bahwa sosok tersebut memiliki jasa untuk lahan itu. “Lalu kita bilang berjasa untuk tanah. Loh itu Titus Natun juga berjasa untuk tanah-tanah to,” kata Walde.

Baca Juga:  Pemkot Kupang Bakal Revisi Perda Terkait Bangunan di Pesisir Pantai

Walde berpendapat penamaan stadion itu baru bisa dilakukan setelah stadion itu 100 persen selesai. Termasuk gerbang yang bertuliskan nama stadion baru bisa dikerjakan setelah stadion selesai. “Pekerjaan fisik saja masih berjalan, tetapi papan nama sudah berjalan. Ini kan menuai protes. Harusnya nama itu yang terakhir,” pungkasnya. (rnc04)

Dapatkan update informasi setiap hari dari RakyatNTT.com dengan mendownload Apps https://rakyatntt.com

Komentar

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *