Kupang, RNC - Ir. Fransiscus Go, SH, CEO GMT Institute Jakarta yang juga direktur Yayasan Felix Maria Go (YFMG). Orang ini tidak dalam rangka atau upaya mencari sensasi. Semata-mata karena peduli dan prihatin, terhadap nasib para pekerja migran NTT yang diperlakukan tidak manusiawi. Laporan Badan Pelindungan Pekerja Migran Indonesia (BP2MI) Kupang yang menyebutkan 143 orang Pekerja Migran Indonesia (PMI) non prosedural (kategori ilegal) asal Nusa Tenggara Timur, meninggal dunia sepanjang tahun 2023 di luar negeri, tentu menyayat hati semua orang. Tidak terkecuali Fransiscus Go yang merupakan putra Timor.
Dalam bincang-bincangnya dengan RakyatNTT.com, Rabu (10/1/2026), pebisnis yang akrab disapa Frans Go itu mengungkapkan, semua berawal ketika dia berada di KADIN Pusat. Dia mengurusi soal ketenaga-kerjaan, termasuk para Pekerja Migran Indonesia. Melibatkan banyak pihak, mereka lalu mewacanakan penangangan TPPO. Hal itu didasarkan, banyaknya penempatan tenaga kerja Indonesia di luar negeri, selalu bermasalah. TKI asal Nusa Tenggara Timur salah satunya. Karena itulah, sebagai warga NTT, Frans Go berkomitmen untuk membenahi persoalan ini. Tidak main-main, pengusaha suskes yang berkiprah di ibukota Jakarta ini, lalu menawarkan program “Bajaga”.
Berikut penjelasan Frans Go tentang : apa itu “Bajaga”?
“Bajaga” hadir dalam konteks NTT yang tak ayal lagi terdiri dari buruh berbagai lapisan. “Bajaga” mengusung semboyan, “Mari Katong Baku Bajaga”, artinya mari kita saling jaga. Menjaga satu sama lain dalam arti luas sebagai solidaritas. Di jaman yang penuh dengan keterpecahan, yang ditandai dengan karakter masyarakat yang terfragmentasi (fragmented society), juga di bawah kontrol ekonomi pasar dan modal yang dalam banyak potret menimbulkan kesenjangan sosial bak jurang yang kian curam, “Bajaga” hadir sebagai inisiasi sosial -boleh dikatakan demikian- yang menyerukan lagi sensitivitas dan solidaritas. Inilah yang kiranya dibutuhkan di zaman sekarang dalam tataran epistemik, etis dan praktis.
“Bajaga” itu sederhana, tidak muluk-muluk. Itu adalah gerakan masyarakat untuk menjaga wilayahnya. Menjaga di sini berangkat dari keprihatinan bersama, ada unsur waspada di dalamnya, karena bahaya human trafficking di atas ada di sekitar kita, berangkat dari cinta akan sesama sebagai rohnya dan diwujudnyatakan dalam aksi untuk melawan aneka kejahatan. “Bajaga” berkomitmen setidaknya menjaga tiga hal, yaitu budaya, warga dan ketertiban. “Bajaga” sangat prihatin, sedih dan gelisah. Muncul pertanyaan substansial,”Bagaimana mengatasi hal ini?” Problemnya tidak sesederhana menghapus guratan pensil dari kertas dengan karet, melainkan benang kusut dan untaian berbagai unsur saling berkaitan, ada pula berbagai motif, kekuatan uang, kebutuhan untuk keluar dari keterpurukan dan kepentingan lain yang berperan di situ.
Menurut Frans Go, “Bajaga” berkomitmen setidaknya menjaga tiga hal, yaitu budaya, warga dan ketertiban.
* Jaga budayanya
Budaya bisa dimengerti dan mencakup arti yang luas sebagai jiwa masyarakat NTT. Budaya ini merentang dari ekonomi, sosial, politik, kesehatan, pendidikan, agama dan kebiasaan sehari-hari hidup orang NTT yang disokong serta mengakar dalam adat istiadat dan tradisi lokal yang berlaku di wilayah masing-masing.
* Jaga warganya
Terhadap aneka tantangan jaman yang tidak mudah, banyak warga yang mengambil keputusan berbahaya, misalnya sengaja mengambil risiko menjadi pekerja illegal. Ini memprihatinkan sekaligus pengingat bahwa NTT dalam hal ini perlu berbenah dan semakin mawas diri.
* Jaga ketertiban
“Bajaga” adalah garda terdepan dalam pengamanan NTT. Pengamanan ini bisa bersifat fisik maupun ideologis, ekonomi maupun politis. Yang jelas semua aspek terkait NTT diamankan dari kemungkinan yang merugikan termasuk misalnya human trafficking di atas. Peretasan kemiskinan alias pengusahaan kesejahteraan akan dengan sendirinya mengurangi godaan masyarakat untuk hijrah dan mencari peruntungan secara gambling sebagaimana marak terjadi. Tentu untuk meningkatkan kesejahteraan ekonomi dibutuhkan peran dan campurtangan banyak unsur, juga perihal pemerataan pembangunan dan pencegahan korupsi. Sejauh ini “Bajaga” baru sebatas aksi dari masyarakat oleh masyarakat dan untuk masyarakat. Namun ke depan “Bajaga” bisa menjadi gerakan institusional yang menyatu dengan pemerintahan atau independen sebagai yayasan dengan semangat solidaritas dan sensitivitas. “Bajaga” cinta NTT dan siap berjuang untuk NTT yang semakin maju. “Mari Katong Baku Jaga,” pekik Frans Go dari balik telepon selulernya. (robert kadang)
















Komentar