oleh

BAJAGA.., Garda Terdepan NTT

oleh: Fransiscus Go

Peringatan Hari Pekerja Migran Internasional terjadi tiap 18 Desember. Berbicara tentang pekerja migran internasional, bayangan kita akan secara otomatis berisi visualisasi para buruh yang turun ke jalan beramai-ramai menuntut upah yang adil. Singkatnya, memperjuangkan hak mereka yang kerap kurang diperhatikan oleh majikan. Biasanya, mereka ikut menuntut pemerintah untuk menerapkan pengaturan yuridis dan kepastian hukum yang sesuai, sehingga nasib mereka terjamin. Gambaran umum tentang hari buruh tersebut, sudah sangat lazim dan seakan menjadi litani repetitif saban tahun, istimewanya di Indonesia.

* Ekuilibrium
Kenyataannya tidak demikian. Tanpa bermaksud menciutkan aksi demonstrasi seperti di atas, berbicara tentang Hari Buruh bukan hanya agenda tahunan yang minus substansi. Sebaliknya, di balik aksi demikian, ada ekuilibrium antara hak dan kewajiban, fairness dan kesejahteraan yang diperjuangkan sebagai hak fundamental hidup. Akan tetapi, gerakan tersebut tidak hanya berhenti pada teriakan di halaman atau paling jauh aksi-aksi reaktif majikan dalam rupa pengamanan atau kompensasi uang, bukan perbaikan sistem dan reformasi manajemen.

Apa itu “Bajaga”?
“Bajaga” hadir dalam konteks NTT yang tak ayal lagi terdiri dari buruh berbagai lapisan. “Bajaga” mengusung semboyan, “Mari Katong Baku Bajaga”. Artinya, mari kita saling jaga. Menjaga satu sama lain, mesti dimengerti dalam arti luas sebagai solidaritas. Di zaman yang penuh dengan keterpecahan, yang ditandai dengan karakter masyarakat yang terfragmentasi (fragmented society), juga di bawah kontrol ekonomi pasar dan modal yang dalam banyak potret menimbulkan kesenjangan sosial bak jurang yang kian curam, “Bajaga” hadir sebagai inisiasi sosial -boleh dikatakan demikian- yang menyerukan lagi sensitivitas dan solidaritas. Inilah yang kiranya dibutuhkan di zaman sekarang dalam tataran epistemik, etis dan praktis. Maka dalam konteks Hari Buruh di mana NTT juga menyumbang tidak sedikit tenaga kerja, “Bajaga” mempromosikan solidaritas lintas tataran untuk menunjukkan bahwa masalah-masalah kaum buruh bukanlah mustahil untuk diatasi.

Baca Juga:  Menanti Manuver Politik ala Fransiscus Go

* Melampaui Problem Sosial
Tanpa harus menyebutkan masalah-masalah sosial yang ada, “Bajaga” sadar betul bahwa tidak ada satu orang pun yang bisa ditelantarkan baik dari pendidikan, kesehatan, ekonomi, budaya, agama, sosial dan kemasyarakatan. Setiap orang, siapapun dia, dari latar belakang apapun, punya hak penuh untuk menggapai apa yang ia harapkan, dan memperoleh itu sepenuhnya. Sekedar menyebutkan satu fenomena misalnya maraknya praktek perdagangan manusia di NTT, “Bajaga” merasa sangat prihatin, sedih dan gelisah. Muncul pertanyaan substansial, “Bagaimana mengatasi hal ini?” Problemnya tidak sesederhana menghapus guratan pensil dari kertas dengan karet, melainkan benang kusut dan untaian berbagai unsur saling berkaitan, ada pula berbagai motif, kekuatan uang, kebutuhan untuk keluar dari keterpurukan dan kepentingan lain yang berperan di situ. Dalam konteks hubungan dengan dunia internasional, terkait para buruh migran Indonesia, bisa pula dilontarkan pertanyaan: Sampai kapan kita harus “dijual”, dan sampai kapan pula kita dicap sebagai “tenaga kerja ilegal”? Ini adalah ungkapan-ungkapan dan pertanyaan retoris yang pada gilirannya membutuhkan kajian, penelitian, kebijakan pemerintah dan aksi nyata penanggulangan serta jalan keluarnya.
“Bajaga” itu sederhana, tidak muluk-muluk. Itu adalah gerakan masyarakat untuk menjaga wilayahnya. Menjaga di sini berangkat dari keprihatinan bersama, ada unsur waspada di dalamnya karena misalnya bahaya human trafficking di atas ada di sekitar kita, berangkat dari cinta akan sesama sebagai rohnya dan diwujudnyatakan dalam aksi untuk melawan aneka kejahatan. “Bajaga” berkomitmen setidaknya menjaga tiga hal, yaitu budaya, warga dan ketertiban.

* Jaga Budayanya
Budaya bisa dimengerti dan mencakup arti yang luas sebagai jiwa masyarakat NTT. Budaya ini merentang dari ekonomi, sosial, politik, kesehatan, pendidikan, agama dan kebiasaan sehari-hari hidup orang NTT yang disokong serta mengakar dalam adat istiadat dan tradisi lokal yang berlaku di wilayah masing-masing. Hal-hal yang baik tentu kemudian dipelihara dan dikembangkan, sedangkan yang kurang baik coba diatasi lewat dialog, pembiasaan sehari-hari dan kebijakan politis pemerintah. Maka “Bajaga” juga bisa mengadakan kajian kritis atas budaya sebagai upaya cinta akan budaya NTT. Budaya inilah yang menggarisbawahi identitas masyarakat NTT.

Baca Juga:  Frans Go : Pahami Masalah NTT, Buka Sentra Ekonomi di Daerah

* Jaga Warganya
Terhadap aneka tantangan jaman yang tidak mudah, banyak warga yang mengambil keputusan berbahaya, misalnya sengaja mengambil risiko menjadi pekerja illegal. Ini memprihatinkan sekaligus pengingat bahwa NTT dalam hal ini perlu berbenah dan semakin mawas diri. Bahwa mungkin ada yang salah dalam aspek-aspek hidup bersama yang dalam kelapangan dada dan jiwa besar tanpa harus malu, diakui dan benahi untuk lebih baik. Warga saling jaga, melakukan pemberdayaan bersama (mutual empowerment) sehingga yang buruk semakin diminimalisasi.

* Jaga Ketertiban
“Bajaga” adalah garda terdepan dalam pengamanan NTT. Pengamanan ini bisa bersifat fisik maupun ideologis, ekonomi maupun politis. Yang jelas semua aspek terkait NTT diamankan dari kemungkinan yang merugikan termasuk misalnya human trafficking di atas. Peretasan kemiskinan alias pengusahaan kesejahteraan akan dengan sendirinya mengurangi godaan masyarakat untuk hijrah dan mencari peruntungan secara gambling sebagaimana marak terjadi. Tentu untuk meningkatkan kesejahteraan ekonomi dibutuhkan peran dan campurtangan banyak unsur, juga perihal pemerataan pembangunan dan pencegahan korupsi. Sejauh ini “Bajaga” baru sebatas aksi dari masyarakat oleh masyarakat dan untuk masyarakat. Namun ke depan “Bajaga” bisa menjadi gerakan institusional yang menyatu dengan pemerintahan atau independen sebagai yayasan dengan semangat solidaritas dan sensitivitas. “Bajaga” cinta NTT dan siap berjuang untuk NTT yang semakin maju. (*)

“Mari Katong Baku Jaga”

Komentar

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *