oleh

Alex Longginus Meradang, Komunitas Roma Merana

Iklan Demokrat

Robi Idong dikhabarkan akan ditetapkan sebagai Ketua DPC PDIP Sikka 2019 s/d. 2024 menggantikan posisi Aleks Longginus, Ketua DPC PDIP Sikka hampir 20 tahun lamanya tak tergantikan. Meskipun upaya menempatkan Robi Idong menjadi Ketua DPC PDIP Sikka belum menjadi keputusan resmi DPP. Partai PDIP, akan tetapi kubu Aleks Longginus dkk. meradang dan menolak rencana DPP. PDIP menempatkan Robi Idong sebagai Ketua DPC. PDIP, karena akan sangat mengganggu kohesivitas politik di internal kader-kader PDIP yang sudah lama antri ingin menggantikan Aleks Longginus.

Alasan penolakan kubu Aleks Longginus dkk. tidak lain karena Robi Idong sebagai pendatang baru, belum berkeringat untuk Partai dan secara berjenjang belum pernah menjadi pengurus PDIP bahkan menjadi anggota Partai saja belum pernah. Selain itu Robi Idong juga dinilai belum pernah menjadi kader PDIP. Kriteria dan syarat untuk menjadi seorang Kader Partai di PDIP itu antara lain, haruslah pernah mengikuti pendidikan dan pelatihan kader yang dilakukan oleh DPP. PDIP, sementara Robi Idong belum pernah mengikuti pelatihan dan kursus kader Partai PDIP. Ada syarat lain yang tak kalah penting untuk menjadi kader Partai, adalah pernah memdharmabhaktikan tenaga dan pikirannya untuk PDIP.

Iklan Dimonium Air

Sementara itu Aleks Longginus mengklaim bahwa selama 20 tahun dirinya menjadi Ketua DPC. PDIP Sikka, telah membina dan memiliki kader-kader muda potensial yang telah mendedikasikan tenaga dan pikirannya untuk PDIP Sikka, sehingga kader-kadernya itu lebih layak menggantikan dirnya daripada Robi Idong. Inilah yang membuat kubu Aleks Longginus meradang dan membangun pertahanan untuk menolak Robi Idong, karena kehadiran Robi Idong dikhawatirkan menutup kesempatan bagi kader-kader Aleks Longginus menjadi Ketua DPC PDIP. Ini adalah soal lain di internal PDIP, dimana kehadiran Robi Idong dinilai tidak melalui mekanisme organisatoris yaitu dari bawah, menjadi anggota dulu sehingga membuat kader-kader PDIP merasa dilangkahi.

Pada sisi yang lain, langkah Robi Idong ke PDIP dinilai sebagai meninggalkan Komunitas Roma, yang merupakan kekuatan riil jalur independen dalam pilkada Sikka 2018, dan berhasil mengantarkan Robi Idong dan Romanus Woga sukses menjadi Bupati dan Wakil Bupati Sikka mengalahkan hegomoni Partai Politik dalam kontestasi Pilkada Sikka. Ini akan menjadi persoalan fatsun politik, etika, sopan santun dan tabe adat dalam politik tradisional di Sikka.

Komunitas Roma, sebagai kekuatan politik riil dan konstitusional dalam pilkada, tentu saja merasa ditinggal pergi begitu saja sonder permisi oleh Bupati Sikka Robi Idong, sehingga ini akan menjadi noda hitam dalam karir politik Robi Idong di masa yang akan datang. Komunitas Independe Roma merasa bahwa Robi Idong sudah keluar dari komitmen politiknya yaitu tetap membangun dan mempertahankan kendaraan politik melalui Komunitas Independen yang telah sukses secara gemilang meluluhlantakan dominasi dan hegomoni Partai Politik dalam sejarah pilkada di NTT.

Pilihan politik dan tata cara Robi Idong memilih kendaraan politik melalui PDIP juga terkesan Robi Idong lebih memilih jalan politik praktis menjadi seorang pragmatis yang maunya secara instan menuju puncak kekuasaan, ketimbang mewujudkan janji-janji kampanyenya yaitu memenuhi hak-hak dasar masyarakat Sikka yang hingga saat ini satupun dari janii-janji kampanyenya itu belum terwujud. Robi Idong lebih mengedepankan kenyamanan dalam membangun kekuasaan politik untuk periode pasca 2024, apakah menjadi Bupati Sikka dua periode atau menjadi Cagub atau Cawagub NTT 2024. (*)

 

(PETRUS SELESTINUS, SH. KOORDINATOR TPDI & ADVOKAT PERADI)

Komentar

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

News Feed