oleh

Heboh! Paus Terdampar di Sumba Tengah Dibakar dengan Ritual Nye’bah

Iklan Covid Walikota Kupang

Waibakul, RNC – Kementerian Kelautan dan Perikanan (KKP) melalui Balai Kawasan Konservasi Perairan Nasional (BKKPN) Kupang Direktorat Jenderal Pengelolaan Ruang Laut (Ditjen PRL) kembali menangani seekor paus yang terdampar di pesisir pantai Desa Ngadu Mbolu, Kecamatan Umbu Ratu Nggay, Kabupaten Sumba Tengah.

Hasil identifikasi mendapati paus tersebut sudah dalam kondisi pembusukan tingkat lanjut di area perut yang membesar dan bagian tubuh yang sudah tidak utuh, serta tidak dapat ditemukan kunci identifikasi spesiesnya.

Iklan Dimonium Air

Hasil pengukuran menunjukkan mamalia laut paus itu memiliki panjang 9,1 meter dengan estimasi panjang total saat pertama kali terdampar sepanjang 18,1 meter dan diameter perut mencapai 5,8 meter.

Selain itu, tim evakuasi juga melakukan pengukuran di salah satu tulang vertebrae yang terlepas dan diperoleh hasil dimensi panjang 91 cm, lebar total 72 cm, tinggi 30 cm dan keliling 122 cm.

Fenomena mamalia laut terdampar kembali terjadi di perairan Indonesia pada awal Juli lalu. Selain itu, biasanya penanganan mamalia laut dalam kondisi mati dilakukan dengan cara dikubur.

Namun, penanganan petugas bersama warga kali ini berbeda, paus yang terdampar dalam kondisi mati itu ditangani dengan cara dibakar.

Hal itu dilakukan karena kondisi bangkai yang semakin membusuk serta tidak adanya ekskavator atau alat berat lain yang memungkinkan mencapai ke lokasi.

Petugas bersama warga terlebih dahulu melakukan penggalian pasir dan menimbun kayu api kering di sekeliling bangkai mamalia laut sebelum melakukan proses pembakaran.

Selanjutnya, Tetua Adat memimpin ritual “Nye’bah” yang bertujuan untuk mengantar roh mamalia laut tersebut dengan menaburkan sirih pinang serta doa yang dipanjatkan dalam bahasa adat.

Kepala BKKPN Kupang Imam Fauzi mengatakan mamalia laut tersebut diketahui terdampar sejak 25 Juni 2021 lalu yang ditemukan pertama kali oleh warga setempat yaitu Karinju Hamba Marak pada keesokan harinya.

Penemuan mamalia terdampar itu disampaikan kepada Kepala Desa setempat dan diteruskan ke Dinas Perikanan Kabupaten Sumba Tengah lalu berkoordinasi dengan BKKPN Kupang.

Keterlambatan penyampaian informasi dan koordinasi ini sempat terjadi karena minimnya fasilitas sarana telekomunikasi di titik lokasi penemuan mamalia laut terdampar.

“Setelah dilakukan observasi, tim kami segera berkoordinasi dengan pemerintah desa serta Dinas Perikanan Kabupaten Sumba Tengah. Hasilnya disepakati penanganan mamalia laut terdampar ini akan dilakukan dengan cara dibakar pada 1 Juli, lalu,” kata Kepala BKKPN Kupang. (*/rnc)

Komentar

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

News Feed