oleh

Kisah 8 Orang Biasa yang Terpilih jadi Anggota DPRD, Ada yang dari NTT

NASIB orang tak ada yang tahu. Pepatah usang ini benar-benar terjadi di dunia politik. Politik yang identik dengan orang berduit dan berkedudukan tinggi ternyata tak sepenuhnya berlaku. Ada bukti orang-orang kecil, dari strata rendah, bisa sukses di politik.

Berikut ini Redaksi RakyatNTT.com merangkum kisah 8 ‘orang kecil’ sukses terpilih menjadi anggota DPRD pada Pemilu 2019 lalu. Dua di antaranya di NTT.

banner BI FAST

1. Tukang Galon di Sulawesi Tenggara

agung darma
Agung Darma

Agung Darma, warga Desa Guali, Kecamatan Kusambi, Kabupaten Muna Barat, Sulawesi Tenggara, menjadi calon anggota DPRD Kabupaten Muna Barat dari Partai Demokrat. Ia mendapat nomor urut 2 dari daerah pemilihan Muna Barat 1 meliputi Kecamatan Kusambi, Napano Kusambi dan Sawerigading.

Sebelumnya Agung berprofesi sebagai tenaga honorer di puskesmas, selain menjalankan bisnis air isi ulang di desanya untuk menambah penghasilan. Agung lolos menjadi anggota DPRD Muna Barat setelah meraih 742 suara pada Pemilu 2019 lalu. Ia mengalahkan sang Ketua DPC Partai Demokrat Muna Barat.

2. Mantan Satpam di Surakarta

antonius
Antonius Yoga Prabowo

Antonius Yoga Prabowo adalah seorang satpam di RS Waluyo lolos menjadi anggota DPRD Surakarta dari PSI pada Pemilu 2019 lalu. Ia berhasil mendulang 3.723 suara. Pria kelahiran 9 Desember 1977 ini nekat menjadi caleg dengan modal minim. Ia mengaku hanya menghabiskan uang Rp12 juta dari hasil menjual motor trailnya.

Yoga mengatakan ia melakukan kampanye sederhana melalui berbagai komunitas, seperti komunitas game mobile legend, badminton, sepeda ontel, pemuda gereja hingga pecinta alam.

3. Penjual Buah di Banjarnegara

Wachyu Hidayat

Wachyu Hidayat adalah penjaga kantor Sekretariat DPC PDIP Banjarnegara. Sehari-hari ia juga menjual buah salak untuk memenuhi kebutuhan rumah tangga. Saat proses pencalegan pada Pemilu 2019, namanya dimasukkan sebagai caleg untuk memenuhi kuota jumlah caleg di dapilnya. Pada Pemilu 2019, Wachyu berhasil meraih 2.268 suara. Ia pun melenggang ke DPRD Kabupaten Banjarnegara.

Baca Juga:  Survei SMRC: PDIP, Gerindra dan Golkar Bersaing Rebut Suara Pemilih Kritis

4. Mahasiswa di Sumedang

Roy Mahendra

Roy Mahendra, seorang mahasiswa Sekolah Tinggi Bahasa Asing Sumedang menjadi caleg dari Partai Golkar pada Pemilu 2019 lalu. Ia maju dari dapil IV meliputi Kecamatan Situraja, Cisitu, Darmaraja, Wado dan Cibugel. Ia sukses meraih kursi DPRD Sumedang setelah meraup 4.841 suara. Sayangnya, karena terlibat kasus penganiayaan, pada awal 2022 lalu Roy diproses PAW.

5. Sopir Angkot di Buton Tengah

La Ode Alim Alam

La Ode Alim Alam adalah seorang sopir angkot di Buton Tengah. Pria 40 tahun ini sukses menjadi anggota DPRD Buton Tengah dari Partai Nasdem setelah meraup 420 suara.

Ia maju dari dapil 2 meliputi Kecamatan Gu dan kecamatan Sangia Wambulu. Bermodalkan angkotnya La Ode melakukan sosialisasi kepada setiap penumpang di angkotnya. Saat menjabat, La Ode dipilih menjadi Ketua Komisi I.

6. Tukang Ojek Online di Medan

erwin siahaan
Erwin Siahaan

Erwin Siahaan seorang driver online di Medan, Sumatera Utara. Pada Pemilu 2019 lalu, Erwin maju dari Partai Solidaritas Indonesia (PSI). Ia pun terpilih menjadi anggota DPRD Medan dengan meraih 2.038 suara. Ia maju dari dapil Medan V.

7. Penjual Jus di Kupang

Ayu Witari Tallo

A. Ayu Witari Tallo adalah seorang ibu penjual jus buah rumahan di Kecamatan Oebobo, Kota Kupang-NTT. Ia maju menjadi caleg Partai Gerindra pada Pemilu 2019 lalu.

Maju dari dapil 3 meliputi Kecamatan Oebobo, Ayu memperoleh 650 suara dan menyumbang kursi untuk Partai Gerindra.

8. Penjual Sirih di Sabu Raijua

amo kitu radja
Amos Kitu Radja

Amos Arnolus Kitu Radja, penjual sirih keliling di Kabupaten Sabu Raijua. Warga RT 10/RW 05, Dusun Materae, Desa Raemude, Kecamatan Sabu Barat, ini merupakan caleg nomor urut 2 Partai Demokrat. Lelaki berusia 44 tahun ini maju bertarung dari daerah pemilihan Sabu Raijua II yakni Kecamatan Sabu Barat.

Baca Juga:  Formappi Desak Profil Caleg Harus Dibuka, Jangan Beli Kucing dalam Karung

Alumni SMA Kristen 3 Tarus tahun 1996 ini meraih suara tertinggi dari kompetitor di dapilnya. Amos meraih 326 suara. Hanya unggul 12 suara dari caleg nomor urut 4.

Sebelum masuk politik, keseharian Amos adalah menjual sirih ke seluruh pelosok Pulau Sabu. Pada setiap musim panen, ia bisa meraup keuntungan Rp 250 ribu sampai Rp 300 ribu per hari. Dari penghasilan inilah, ia bisa menghidupi orang tua, istri dan tiga orang anaknya.

Demikian kisah 8 orang biasa yang berhasil merebut kursi DPRD walaupun berjuang dengan sumber daya yang terbatas. So, bagi yang mau bertarung di Pemilu 2026 tetaplah percaya diri, karena nasib orang tak ada yang tahu. (rnc)

Dapatkan update informasi setiap hari dari RakyatNTT.com dengan mendownload Apps https://rakyatntt.com

Komentar

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *