oleh

Pertama Kali di Pinggir Kali

Sabun Herbal Cyrus

AYO Berubah bukan sekadar slogan. Ayo Berubah adalah ajakan untuk terlibat dan melibatkan diri sekaligus menjadi bagian dari pembangunan kota yang lebih progresif.

Ayo Berubah juga tergambar dari aksi-aksi nyata aparatur pemerintah, masyarakat di kelurahan, mahasiswa, pebisnis, bahkan anak-anak. Semuanya dengan semangat yang sama menyongsong perubahan dalam aksi nyata.

Aparatur pemerintah, yakni di lingkup Pemerintah Kota Kupang, wajib hukumnya menjaga kebersihan lingkungan. Dan, hari Jumat bahkan dijadikan sebagai ‘Jumat Keramat’ di Kota Kupang. Sebab, semua ASN tanpa terkecuali harus turun lapangan mengikuti Jumat Bersih. Keramat, karena para ASN harus mengisi absen langsung di lapangan. Tidak ikut Jumat Bersih dianggap tak masuk kantor. Tak masuk kantor, berarti tunjangan kinerja pun terpotong otomatis.

Aksi Jumat Bersih sudah sejak lama dilaksanakan. Ini semacam rutinitas wajib setiap minggu. Wali Kota Kupang, Dr. Jefri Riwu Kore pun selalu mengontrol para aparatur. Bahkan, ia sendiri selalu menerbitkan jadwal Jumat Bersih. Setiap Kamis, jadwal dikeluarkan.

Semua perangkat daerah dibagi ke lokasi-lokasi yang dianggap kotor dan kumuh. Tak hanya di lingkungan perkantoran, mereka juga diterjunkan ke wilayah kelurahan. Bahkan di dalam kali dan selokan-selokan hingga pasar-pasar.

Sudah dua minggu terakhir, para ASN fokus membersihkan kali yang selama ini menjadi tempat pembuangan sampah oleh warga sekitar. Warga yang menetap di bantaran kali menjadikan kali sebagai tempat sampah. Di sini penyakitnya. Karena setiap tahun sampah pasti terbawa arus dan berlabuh di pantai atau berserakan di jalan raya.

Tak hanya ASN, masyarakat umum pun digerakkan untuk ikut membersihkan lingkungan. Perintahnya melalui lurah, RT dan RW. Perangkat-perangkat RT/RW diharapkan bisa menggerakkan masyarakat untuk berpartisipasi aktif membersihkan lingkungan.

Selain itu, para siswa dan karyawan swasta juga terlibat. Selasa besok (6/8/2019), ribuan siswa akan mendeklarasikan “Sekolah Bersih dan Sehat”. Mereka akan berpartisipasi aktif membersihkan sekolah dan lingkungan sekitar sekolah mereka. Dan, pada 9 Agustus nanti, ada aksi besar-besaran yang melibatkan sekurangnya 50 ribu orang. Semua komponen masyarakat dilibatkan, termasuk para siswa, mahasiswa, ASN dan masyarakat umum serta mereka yang peduli lingkungan.

Pertengahan Juli 2019 lalu, Wali Kota Dr Jefri Riwu Kore telah memulai gerakan Ayo Berubah dengan turun langsung ke kali. Hadir juga Kepala Dinas Lingkungan Hidup dan Kebersihan (LHK) Kota Kupang, Yeri Padi Kana, Kepala Bidang Penanganan Sampah dan Limbah B3 Dinas LHK, Adi Pally, Direktur PD Pasar Simon Pellokila, Camat Kota Raja Rudi Abubakar dan Lurah Naikoten I Budi Izaac.

Rapat dadakan langsung digelar di pinggir kali. Mungkin ini pertama kalinya di Kota Kupang. Dalam suasana santai, wali kota pun mencoba menyimak keluh kesah petugas terkait sampah-sampah di kali tersebut. Menanyakan persoalan yang dihadapi. Cara mengatasi sampah di lokasi tersebut dan kesiapan armada. Tak sampai 30 menit, diambillah keputusan kali itu harus dikeruk hingga bersih. Dikeruk pakai excavator yang dipinjam dari Dinas PUPR Kota Kupang.

Dan, aksi itu harus dilaksanakan sesegera mungkin. “Mulainya besok,” begitu kata wali kota. Namun karena masih negosiasi peralatan dan persiapan armada, aksi bersih kali itu baru dilakukan dua hari kemudian. Pembersihan kali Naikoten, tepatnya di belakang Pasar Kasih pun dimulai, bahkan warga sekitar ikut terlibat. Petugas pun mengangkut semua sampah dari kali. Totalnya 138 truk.

Tak sekadar membersihkan sampah, melalui kandang babi yang dibangun di bantaran kali, yang selama ini jadi sumber sampah, pun digusur. Melalui negosiasi yang persuasif, warga peternak babi setuju untuk dibongkar. Terhitung 28 kandang dibongkar menggunakan excavator.

Kali yang selama ini menjadi penyumbang sampah terbesar di Kota Kupang memang harus bersih. Aksi bersihkan kali ini pun diapresiasi warga yang menghuni bantaran kali. Ada yang mengaku sudah bertahun-tahun tidak membuka jendela rumahnya. Lantaran bau tak sedap dari dalam kali. Kali ini jendela sudah bisa dibuka. Untuk pertama kalinya. Barangkali sudah saatnya rumah menghadap kali. (*)

Komentar

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

News Feed