oleh

Warga Desa Naruwolo II Butuh Listrik dan Jaringan Seluler

Bajawa, RNC – Warga di Desa Naruwolo II, Kecamatan Jerebuu, Kabupaten Ngada, Provinsi NTT, merasa belum sepenuhnya merdeka, walau negeri ini sudah 76 tahun merdeka. Pasalnya, penerangan listrik yang diharapkan, hingga saat ini tak kunjung menerangi kampung mereka. Belum lagi masalah ketiadaan jaringan seluler, yang dirasakan sangat menghambat arus informasi.

Parahnya, di saat anak sekolah harus belajar secara daring atau online karena masa pandemi, banyak anak – anak di desa tersebut terpaksa menempuh perjalanan menuju bukit, namanya Bukit Wololeza, hanya untuk mendapatkan signal. Yakobus Poso, warga Kampung Jeru, RT/07 – Dusun/03, Desa Naruwolo II, saat ditemui RakyatNNT.com, Kamis (24/02/2022), mengaku sangat merindukan listrik supaya anak – anak mereka bisa belajar dengan baik.

banner BI FAST

“Kami sangat merindukan penerangan listrik dan jaringan seluler. Selama ini, kami hanya bisa terbantu listrik tenaga surya. Itupun tidak mampu memberi solusi. Kami dari dulu hingga sekarang belum merdeka, karena penerangan masih menggunakan generator dan panel surya. Ditambah lagi, sinyal tidak ada,” ungkap Yakobus.

Hal senada juga dijelaskan Maria Makrina Anu, siswi SMK PGRI Bajawa. Ia bersama temannya biasa mencari signal di Bukit Wololeza, yang jauh dari kampung. “Selama pandemi, kami semua ‘dirumahkan’. Jadi, tugas kami kerja dari rumah. Kami biasa cari signal untuk kerja tugas. Biasanya mulai dari jam 08.00, kami sudah mulai star dari rumah. Kami biasa sampai jam 12 siang, baru bisa selesai kerja tugas,” ucap Maria seraya berharap, jaringan seluler atau pembangunan tower (BTS) bisa secepatnya dibangun di desanya.

Kepala Desa Naruwolo II, Petrus Zua, SKM, kepada RakyatNTT.com menyatakan, jaringan seluler dan listrik menjadi faktor utama yang harus segera diatasi. “Faktor utamanya itu, letak topografi kampung yang jauh, sehingga prosesnya belum bisa teratasi. Usulan agar listrik dan jaringan seluler masuk desa, kerap kami disampaikan dalam forum Musrenbang atau rapat – rapat. Namun tak juga membuahkan hasil,” kata Petrus.

Menurutnya, ketiadaan penerangan listrik membuat warga sangat kesulitan. Apalagi, penerangan yang jadi alternatif seperti panel surya ataupun generator, perlu biaya tak sedikit. “Hanya dua itu yang kami minta, listrik dan jaringan seluler. Semua informasi penting harus melalui WA, jadi kami harus standby. Kami akan ketinggalan informasi, kalau jaringan tidak ada. Harapan kami, pemerintah daerah bisa memperhatikan persoalan yang dihadapi masyarakat Desa Naruwolo II. (rnc15)

Komentar

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *