oleh

Lagi-lagi Anggota Polres Rote Ndao Dipecat karena Langgar Kode Etik Profesi

Ba’a, RNC – Salah satu anggota Polres Rote Ndao berinisial Bripka SF diberhentikan secara tidak hormat karena melanggar kode etik profesi Polri.

Pemecatan dilakukan melalui upacara Pemberhentian Tidak Dengan Hormat (PTDH) In Absentia yang dipimpin Kapolres Rote Ndao, AKBP Mardiono, Senin (8/7/2024) di lapangan apel Mapolres Rote Ndao.

Melansir digtara.com, upacara PTDH digelar berdasarkan Surat Keputusan Kapolda NTT nomor KEP/220/V/2024, tentang Pemberhentian Tidak Dengan Hormat dari Dinas Kepolisian Negara Republik Indonesia terhitung tanggal 8 Mei 2024.

Upacara digelar secara in absentia karena tidak dihadiri oleh Bripka SF. Bripka SF melanggar Kode Etik Profesi Polri sesuai pasal 13 Ayat (1) PP RI nomor 1 tahun 2003, jo pasal 8 huruf c dan/atau pasal 13 huruf f Perpol nomor 7 Tahun 2022.Walau tanpa dihadiri oleh Bripka SF, namun prosesi PTDH tetap dilakukan dengan membawa foto Bripka SF.

Sebagai tanda bahwa anggota sudah tidak menjadi anggota Polri, saat upacara tersebut, Kapolres Rote Ndao menyilang foto yang dibawa oleh perwakilan anggota Provost. Bripka SF telah bertugas menjadi anggota Polri selama 17 tahun 5 bulan sejak tahun 2007 lalu. Ia pernah bertugas sebagai anggota Sabhara Polsek Lobalain Polres Rote Ndao.

Selanjutnya Bripka SF menjadi anggota Satuan Samapta Polres Rote Ndao.Terakhir, ia bertugas sebagai personel Bhabinkamtibmas Desa Meoain dan Desa Oebafok Polsek Rote Barat Daya. Kapolres Rote Ndao menyampaikan bahwa upacara PTDH merupakan proses terakhir secara kedinasan Polri terhadap anggota yang telah melakukan pelanggaran peraturan secara Kode Etik Profesi Polri.

Upacara PTDH merupakan salah satu bentuk realisasi komitmen Polri dalam memberikan sanksi hukuman bagi personel yang melakukan pelanggaran.

“Upacara PTDH salah satu bentuk realisasi komitmen Polri dalam memberikan sanksi hukuman bagi personel yang melakukan pelanggaran Kode Etik Profesi Kepolisian, hendaknya hal ini dijadikan introspeksi oleh seluruh anggota,” ujar Kapolres.

Hal ini bisa menjadi renungan bagi seluruh anggota Polri, sehingga dalam melaksanakan tugas agar tetap berpegang pada aturan dan SOP yang ada.

Kapolres melihat kalau peristiwa tersebut sangat memprihatinkan dan tidak perlu terjadi, jika masing-masing anggota Polri mampu mengendalikan dan memahami tugas sebagai aparat penegak hukum. Kapolres mengharapkan seluruh personel termasuk para Kapolsek dan Kepala Satuan Fungsi yang lain agar saling mengingatkan dan saling mengawasi, sehingga hal fatal seperti ini tidak terjadi. “Kalau tidak bisa melakukan hal yang berprestasi jangan buat pelanggaran,” tegas Kapolres.

Kapolres mengakui kalau selama bertugas di Polres Rote Ndao, ini merupakan kali kedua dilakukan upacara PTDH, walaupun pelanggaran yang dilakukan sudah lama dan di masa kepemimpinan yang lama, namun ini tetap menjadi pembelajaran bagi semua. “Karena yang pasti kehilangan salah satu anggota apalagi dengan pemecatan tentu membuat perasaan berat hati,” tandas Kapolres Rote Ndao. (*/dig/rnc)

Ikuti berita terkini dan terlengkap di WhatsApp Channel RakyatNTT.com

Komentar

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *