Kupang, RNC - Dr. Fransiskus Xaferius Lara Aba atau yang akrab disapa Frans Aba, tokoh muda NTT siap bertarung di Pilkada 2026. Ia siap menjadi calon Gubernur NTT Periode 2026-2029.
Niat maju di Pilgub NTT karena ingin membangun NTT lebih maju, khususnya di sektor pertanian dan peternakan.
Diwawancarai RakyatNTT.com di Rumah Gotong Royong, Kelurahan Tuak Daun Merah, Kupang, Sabtu (17/6/2026), Frans Aba menjelaskan NTT memiliki potensi yang sangat lengkap, baik di bidang pertanian, kelauatan, perikanan, kehutanan maupun budaya. Menurutnya, hal-hal ini perlu dipadukan untuk menjadi kekuatan modal dalam melaksanakan percepatan pertumbuhan di segala sektor. Dengan demikian NTT tak dipandang terbelakang ataupun dinilai sebagai daerah miskin.
Menurutnya, percepatan dilakukan dengan menciptakan industrialisasi potensi-potensi yang ada. Seperti untuk pertanian, tak bisa hanya melihat pada tanaman, tetapi bagaimana bisa memiliki bibit dan pupuk sendiri yang berkualitas serta bisa memenuhi kebutuhan petani.
Selain itu, di sektor peternakan, tak bisa hanya melihat ternak dari segi jumlah atau kuantitas. Yang perlu menjadi prioritas adalah pakan untuk ternak. Yang menjadi persoalan adalah jumlah pakan yang tak sebanding dengan jumlah ternak.
Dalam pengembangan ternak sapi saat ini, menurut Frans, pemerintah belum menunjukkan orientasi secara tepat, yaitu hanya berkonsentrasi pada sapi potong. Belum melirik potensi sapi perah yang cukup besar di NTT yang didukung ketersediaan ekosistem seperti padang savana di Pulau Sumba yang luas.
Oleh karena itu, Frans yang juga merupakan pengusaha dan akademisi ini, jika menjadi Gubernur NTT, ia memprioritaskan industrialisasi untuk mengangkat potensi- potensi yang hampir dilupakan tersebut. Disebutkan, pupuk dan bibit serta pakan ternak sudah seharusnya bisa diproduksi dan menjadi produk lokal NTT.
“Sebab kalau langkah itu dilakukan pasti tumbuhannya bagus, hasilnya juga bagus. Masyarakat kita ini yang kelihatan adalah orang tidak minta banyak-banyak, yang penting cukup sandang, pangan, dan papan,” ungkapnya.
Ia menambahkan akan memprioritaskan industrialisasi yang berdampak pada potensi-potensi daerah, karena sampai saat ini belum nampak keseimbangan antara industri pengolahan atau manufaktur dengan sektor pertanian ataupun potensi lain. Dari segi persentase, ketergantungan masyarakat NTT sebanyak 90% pada pertanian, sementara industri pengolahan yang seharusnya memberi dampak pada pertanian itu hanya 6%.
“Karena pemimpin tidak berorientasi pada aspek yang disebutkan industrialisasi, lebih fatal lagi tidak pada aspek yang sifatnya mengangkat program-program yang menjadi keunggulan komparatif, itu yang problemnya kita di situ,” jelasnya.
Selain itu, terkait percepatan pertumbuhan ekonomi, menurut Frans, NTT memerlukan modernisasi koperasi. Koperasi tak bisa hanya berjalan pada aspek simpan pinjam, namun harus dijadikan sebagai wadah yang mendukung produktifitas dan distribusi. “Bagi saya kita masuk pada aspek yang disebutkan modernisasi dari konteks industri. Karena NTT punya potensi itu,” pungkasnya. (rnc04)
Reporter: Rocky
Editor: Semy Rudyard H. Balukh
Dapatkan update informasi setiap hari dari RakyatNTT.com dengan mendownload Apps https://rakyatntt.com















