oleh

Munculnya Gerakan HTI Jadi Tamparan buat Pemerintah dan Penegak Hukum di NTT

Sabun Herbal Cyrus

Kupang, RNC – Kehadiran Hisbut Tahrir Indonesia (HTI) menjadi tamparan keras bagi pemerintah dan penegak hukum di wilayah Nusa Tenggara Timur (NTT). Sebab sejak dibubarkan oleh negara secara nasional, pentolan organisasi terlarang itu tetap melakukan berbagai aktivitas. Bahkan nekat melakukan siaran langsung di depan Kantor Gubernur NTT untuk kebutuhan rapat virtual di internal HTI. Demikian disampaikan Ketua Pimpinan Wilayah GP Ansor NTT Ajhar Jowe kepada media di Kupang, Minggu (31/5/2020).

Ajhar menjelaskan, pentolan HTI beraktivitas di Kupang secara masif dengan melakukan gerakan konsolidasi dari rumah ke rumah. Meski kegiatan mereka selama terus digagalkan oleh GP Ansor NTT dan organisasi-organisasi lainnya, namun mereka semakin berani tampil ke publik untuk mengundang reaksi penegak hukum, pemerintah serta warga NTT.

“Meski semua elemen masyarakat NTT menolak kehadiran mereka, tapi pentolan HTI saudara Suryadi Koda berani tampil dengan membuat video di depan kantor gubernur NTT. Mereka ingin tunjukan kepada publik secara nasional bahwa mereka masih terus hidup dan bergerak di NTT,” jelas Ajhar.

Menurut Ajhar, kehadiran HTI dalam kelompok kecil tetapi bisa melakukan berbagai gerakan secara bebas, jelas menunjukan bahwa semua pihak lemah mengawasi kehadiran mereka di NTT. Pada akhirnya, kelompok kecil itu menganggap sudah punya kekuatan basis di NTT, khusunya di Kota Kupang.

“Jika belum punya basis, mereka diam dan tidak muncul ke publik. Sebaliknya jika sudah punya basis, mereka berani menunjukan diri mereka,” kata Ajhar.

Dia menambahkan, meski Suryadi Koda sudah diamankan polisi, bisa dipastikan bahwa penggantinya sudah ada. Sebab itulah cara-cara kaderisasi sehingga sampai kapanpun HTI akan tetap ada di seluruh kota. Dengan demikian, proses hukum terhadap Suryadi Koda sebenarnya bukanlah akhir dari gerakan HTI di NTT.

“Penahanan Suryadi Koda bukan ending dan melemahkan sistem gerakan mereka. Pergerakan mereka yang masif perlu diantisipasi oleh pihak-pihak yang berkompoten, termasuk oleh badan intelejen daerah,” pinta Ajhar.

Ajhar mengaku, perjalanan HTI di NTT terus diikuti oleh GP Ansor sejak negera berencana untuk membubarkan HTI. Sebelum dibubarkan, Said Made adalah Ketua HTI NTT. Dalam perjalanan, Said mundur dan mandat ketua dipegang oleh Suryadi Koda. Mandat ini dipegang Suryadi hingga HTI resmi dibubarkan oleh negara.

“Berbagai strategi sudah mereka desain untuk menangkal setiap bentuk penolakan terhadap mereka. Ini hal yang perlu dicermati secara bersama oleh semua pihak,” tambah Ajhar.

Di akhir penyampaiannya kepada media, Ajhar menyayangkan adanya bulian kepada agama Islam lewat media sosial sebagai reaksi terhadap gerakan pentolan HTI. “Kami memantau berbagai komentar di medsos. Ternyata ada banyak yang caci maki dan melontarkan kata-kata yang tidak pantas. Dan sejauh ini, pemuda Ansor NTT terus memantau gerakan HTI. Tetapi kewenangan kami terbatas sehingga kami percayakan kepada pihak penegak hukum untuk mengusut tuntas kasus ini,” ungkapnya. (*/rnc09)

Komentar

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

News Feed