Kupang, RNC - Tahun ini tepatnya 12 Mei 2021, Rumah Sakit Katolik Santo Carolus Borromeus (RS CB) Kupang genap berusia 9 tahun. Sebelum menjadi rumah sakit, fasilitas kesehatan yang terletak di Jl. H. R. Koroh, Kelurahan Bello Kecamatan Maulafa Kota Kupang ini hanyalah sebuah klinik.
Setelah naik status, RS CB terus bermetamorfosa dan membenahi kualitas pelayanan. Kini, rumah sakit milik Kongregasi Suster-suster Cintakasih St. Carolus Borromeus menjadi salah satu rumah sakit pilihan masyarakat Nusa Tenggara Timur (NTT) dalam mendapatkan pelayanan kesehatan.
Akhir Mei lalu, RakyatNTT.com berkesempatan mewawancarai Direktur RS CB, dr. Herly Soedarmadji. Ia mengisahkan banyak hal seputar RS CB yang dipimpinnya sejak rumah sakit itu berdiri.
Peningkatan Fasilitas, Alkes dan SDM
Pada awalnya (setelah naik status dari klinik menjadi rumah sakit), RS CB memiliki 28 tempat tidur pasien. Di tahun 2015 bertambah menjadi 56 tempat tidur.
“Dalam perjalanan, ada penambahan ruangan-ruangan seperti NICU (Intensive Care Unit) dan PICU (Pediatric Intensive Care Unit) yang merupakan ruang perawatan intensif untuk bayi dan anak-anak yang memerlukan pengobatan dan perawatan khusus. Ada penambahan ruangan, otomatis ada penambahan tempat tidur dan peralatan kesehatan,” sebutnya.
Tahun ini di usia yang ke-9, RS CB kembali membangun ruangan untuk menambah 40-an tempat tidur pasien. Targetnya, pada Agustus mendatang sudah ada 100 tempat tidur pasien di RS CB.
Penambahan fasilitas dan peralatan kesehatan tentu dibarengi dengan penambahan sumber daya manusia, khususnya tenaga kesehatan. Dan sampai saat ini, RS CB telah dilayani 10 dokter spesialis. Untuk pelayanan medik spesialis dasar (pelayanan penyakit dalam, kesehatan anak, bedah, obstetri dan ginekologi), masing-masing ada 2-3 dokter spesialis. Kemudian ada pelayanan spesialis penunjang medik dan spesialis lain seperti rehabilitasi medik, bedah plastik, THT, jantung, dan lain-lain serta pelayanan medik spesialis gigi mulut terdiri dari pelayanan bedah mulut dan konservasi/endodonsi. Dan dalam waktu dekat akan ada dokter yang bersertifikasi HD (Hemodialisa).
“Penambahan dokter spesialis sangat mendukung pengembangan pelayanan rumah sakit, sehingga ke depan fasilitas, peralatan rumah sakit, alat medis juga akan diperbaharui supaya bisa mengimbangi kebutuhan pelayanan dokter spesialis,” kata dr. Herly.
Bangun Jejaring untuk Pengadaan Baksos
Sejak berdiri menjadi rumah sakit, setiap tahunnya RS CB rutin menggelar bakti sosial (baksos). Baksos yang paling sering dilakukan yakni operasi gratis bibir sumbing, langit-langit mulut, rekonstruksi luka bakar dan kontraktur. Semuanya terlaksana berkat kerjasama dengan berbagai mitra.
Menurut dr. Herly, salah satu misi RS CB adalah menjalin kerjasama sinergetik dengan mitra strategis dalam pengelolaan dan pengembangan layanan rumah sakit. Bagi RS CB, kemitraan itu sangat penting untuk kerja-kerja rumah sakit serta mendukung pelayanan kesehatan dengan jangkauan yang lebih luas.
“Dana kita mungkin terbatas untuk melakukan banyak hal. Sebagai direktur, saya bersyukur kami bisa menggandeng banyak mitra dan bekerja sama untuk kebutuhan-kebutuhan pelayanan di lapangan. Jadi baksos yang diselenggarakan RS CB dua kali dalam setahun itu terselenggara berkat dukungan mitra,” terangnya.
dr. Herly menyebutkan, sekarang ada satu mitra yang sementara dalam proses MoU dengan RS CB untuk kegiatan baksos operasi bibir sumbing. “Mitra itu menawarkan RS CB untuk sama-sama mengadakan baksos operasi bibir sumbing. Kami menyambut baik apalagi sekarang kami punya dokter bedah plastik sehingga sangat mendukung untuk perawatan-perawatan seperti itu,” tambah dr. Herly.
Tantangan di Masa Pandemi Covid
Pandemi covid-19 menjadi tantangan tersendiri bagi rumah sakit, termasuk RS CB Kupang. Sebab banyak hal yang harus disikapi secara mendadak. Misalnya pengadaan APD (Alat Pelindung Diri) yang lengkap bagi tenaga kesehatan serta penambahan fasilitas khusus pasien covid, tentu membutuhkan anggaran yang tidak sedikit. Semuanya standar safety haruslah dipenuhi demi menjamin keselamatan tenaga kesehatan, juga keselamatan pasien dan keluarganya.
dr. Herly mengatakan, pada Agustus 2020 lalu, Gubernur melalui Dinas Kesehatan NTT mengeluarkan SK dimana RS CB ditetapkan sebagai salah satu rumah sakit second line rujukan pasien covid. Awalnya (Agustus - September) RS CB mulai dengan 3 tempat tidur untuk covid. Selanjutnya dari Desember 2020 - Februari 2021, pasien covid bertambah sehingga ada satu bangsal yang ditutup dan dikhususkan bagi pasien covid. 20 tempat tidur yang disediakan semuanya terisi. Bahkan ada tenaga medis yang terpapar covid sehingga harus menjalani isolasi mandiri dan mendapat perawatan.
Seiring dengan penurunan tren covid pada Maret - April, pelayanan di RS CB kembali normal. Kendati demikian, saat ini RS CB masih tersedia UGD pinere yang dikhususkan bagi pasien-pasien yang dicurigai terpapar covid.
“Pada awalnya memang kita begitu panik. Seiring berjalannya waktu kita mulai belajar dengan situasi dan menemukan sistem yang tepat untuk penanganan covid. Kita berharap kasus covid terus menurun,” ujarnya.
Aneka Penghargaan
Hasil tidak akan mengkhianati proses. Jika kita melakukan sesuatu dengan serius atau berupaya dengan sungguh-sungguh, maka kita akan mencapai hasil yang gemilang. Kalimat ini cocok untuk menggambarkan perjalanan RS CB selama 9 tahun. Berbagai inovasi dan upaya untuk meningkatkan kualitas layanan kesehatan tak henti-hentinya dilakukan oleh RS CB. Kerja keras ini berbuah manis lewat sederet prestasi yang diraih.
Pada 2018 lalu, RS CB berhasil meraih penghargaan dari Kementerian Kesehatan RI karena menerapkan konsep Green Hospital (RS Ramah Lingkungan). Yang menarik, RS CB merupakan satu-satunya rumah sakit di NTT yang menerima penghargaan tersebut.
Sejak awal berdiri, kata dr. Herly, RS CB bertekad menjadi rumah sakit yang nyaman bagi pasien dan keluarga pasien. Rumah sakit yang nyaman adalah rumah sakit yang hijau, bersih dan asri. Tidak sebatas nyaman, konsep green hospital menekankan juga asas efisiensi (hemat energi listrik) serta daur ulang barang bekas. Dan khusus untuk pengolahan limbah, RS CB punya IPAL (Instalasi Pengolahan Air Limbah) dan insinerator untuk pembakaran limbah padat. Bahkan RS CB merupakan satu-satunya rumah sakit di NTT yang punya insinerator yang sesuai standar KLHK (Kementerian Lingkungan Hidup dan Kehutanan).
Selain penghargaan dari Kemenkes RI dan prestasi-prestasi lainnya, puncaknya pada Januari 2020 lalu, RS CB mendapat sertifikat akreditasi dan lulus pada tingkat paripurna (bintang lima). Akreditasi tersebut merupakan pengakuan dari lembaga akreditasi dalam hal ini Komisi Akreditasi Rumah Sakit (KARS) atas mutu pelayanan rumah sakit secara paripurna. Artinya RS CB dalam pelayanannya bisa menerapkan standar-standar pelayanan secara optimal sesuai yang diharapkan.
“Kami bisa sampai pada tingkat paripurna karena berkat kepercayaan dan dukungan dari masyarakat, dinas kesehatan serta semua mitra dan media massa,” ungkapnya.
Di akhir wawancara dengannya, dr. Herly berharap RS CB bisa menjadi rumah sakit pilihan masyarakat NTT. Ia juga berharap agar rumah sakitnya yang dipimpinnya itu bisa menjawab kebutuhan masyarakat akan pelayanan kesehatan yang berkualitas, tanpa mengabaikan nilai-nilai kristiani sebagai sebuah rumah sakit Katolik. (rnc09)









Komentar