oleh

Anggota DPRD NTT ini Wujudkan Mimpi Bocah Penyandang Disabilitas di Matim

Iklan Demokrat

Borong, RNC - Anggota DPRD NTT, Yeni Veronika memberikan bantuan kursi roda untuk Yohanes Devilje Laja, anak penyandang disabilitas asal Desa Benteng Pau, Kecamatan Elar Selatan, Kabupaten Manggarai Timur (Matim), Minggu (8/8/2026).

Di hadapan keluarga Yohanes saat menyerahkan bantuan kursi roda, Yeni mengaku mendapat informasi tentang kondisi bocah berusia 8 tahun itu lewat pemberitaan di berbagai media online. Hatinya kemudian tergerak sehingga ia berniat datang ke kediaman Yohanes untuk menyerahkan bantuan sekaligus melihat kondisi Yohanes dan keluarganya secara langsung.

Iklan Dimonium Air

“Sebagai seorang ibu, saat baca berita, hati saya tergerak. Saya kemudian berembuk dengan empat anak saya. Ternyata mereka sangat setuju untuk memberikan kursi roda,” ungkap istri mantan Bupati Manggarai, almarhum Deno Kamelus.

Yeni mengatakan, selama ini dia dan keluarga telah banyak menerima rezeki dari Tuhan. Rezeki yang diterima itu wajib dibalas dengan berbuat amal dan kebaikan terhadap sesama. Secara khusus bagi mereka yang sangat membutuhkan seperti Yohanes.

“Bantuan yang saya berikan itu memang rezekinya Yohanes. Hanya kebetulan Tuhan titipkan lewat saya,” katanya.

Menurut Yeni, selain Yohanes, orangtua dari bocah itu juga sangat membutuhkan pertolongan. Sebab rumah pasangan Vinsensius Jala (29) dan Roswita Nelci (28), orangtua Yohanes, tergolong tidak layak huni. Ukurannya kecil, hanya 4×4 meter. Berlantai tanah dan berdinding pelepah bambu.

“Kondisi ini perlu mendapatkan sentuhan dari pemerintah, baik pemerintah desa, kabupaten atau provinsi,” tandasnya politisi PAN itu.

“Kali ini saya hanya berikan kursi roda, harapannya nanti ke depan itu, kita berpikir bahwa bagaimana bisa membantu agar mereka bisa dapat rumah bantuan. Saya sendiri akan berusaha komunikasikan dengan berbagai pihak terkait,” tutupnya.

Baca Juga:  Bupati Agas Akui Kemiskinan Ekstrem di Manggarai Timur Merata di Semua Kecamatan

Usai menerima bantuan kursi, Yohanes berbicara dengan suara gagap. Kata-kata yang dilontarkan kurang jelas. Namun wajah polosnya tersenyum seperti memberi kesan bahwa ia sangat gembira mendapatkan kursi roda itu. Setidaknya, besok dan seterusnya, ia bisa bergerak bebas keliling rumah.

Ayah Yohanes, Vinsensius Jala mengisahkan, selama empat bulan pertama sejak lahir pada tahun 2013, Yohanes menghabiskan malam dengan menangis. Kendati demikian, ia dan sang istri sabar menghadapi semuanya. Mereka terus merawat anak sulungnya itu dengan penuh kasih sayang.

Beberapa bulan kemudian, gerak tubuh Yohanes tanpak kaku. Tidak seperti bayi pada umumnya. Di situlah Vinsensius dan istri sadar bahwa Yohanes mengalami keterbatasan fisik.

“Saat dia berusia 1 tahun 8 bulan, kami sudah tahu bahwa dia memang tidak bisa jalan. Mungkin keterbatasan itu sejak lahir tapi kita kan tidak tahu,” ungkap Vinsensius.

Vinsensius bersama Istri tak hilang akal. Keduanya bertekad menyembuhkan sang buah hati. Berbagai upaya dilakukan, mulai dengan mencari obat kampung (obat tradisional) dan menemui dukun. Namun semua usaha tidak berhasil.

Pernah terbersit di pikiran untuk mengantarkan Yohanes ke rumah sakit. Namun niat itu diurungkan karena keterbatasan dana. Apalagi saat itu mereka belum memiliki kartu BPJS. Mereka akhirnya pasrah sehingga Yohanes tumbuh dengan keterbatasan fisik (tidak bisa berjalan) sampai saat ini.

Yohanes sempat mengutarakan keinginannya untuk memiliki kursi roda. Merespon permintaan anaknya, Vinsensius sempat mengajukan proposal ke Dinas Sosial Kabupaten Matim. Namun belum dijawab hingga sekarang. Ia juga berencana membeli kursi roda. Namun uang yang dikumpulkannya tak pernah cukup untuk membeli satu buah kursi roda. Maklum, pendapatannya hanya cukup untuk memenuhi kebutuhan makan dan minum sekeluarga.

Baca Juga:  Resmikan Kantor Kas di Borong, Bank NTT Salurkan CSR Rp300 Juta

“Tiga tahun lalu kami ke Ruteng untuk membeli kursi roda, sampai di atas kita tanya kursi rodanya ternyata Rp 1.700.000. Sementara uang yang dipersiapkan waktu itu hanya satu juta. Uangnya kurang sehingga kami tidak beli kursi itu,” cerita Vinsensius.

Bagi Vinsensius dan istri, bantuan dari Yeni Veronika seperti doa yang terkabul. Keinginan Yohanes kini terwujud. Vinsensius tak henti-hentinya mengucapkan terima kasih kepada Yeni.

“Saya berharap, Yang Maha Kuasa bisa melihat jasa dari ibu Yeni Veronika ini. Terus terang, kami tidak bisa membalas jasa baiknya dia. Hanya kepada Tuhan saja kami serahkan semua ini,” tutupnya (rnc23)

Komentar

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

News Feed