oleh

Pemuda di Matim Dianiaya Sekelompok Preman, Polisi Diminta Bertindak Tegas

Iklan Demokrat

Borong, RNC – Silvester Rupang (21), pemuda asal Rujung, Desa Golo Munga Barat, menjadi korban penganiayaan sekelompok preman di Desa Nampar Tabang, Kecamatan Lamba Leda Utara, Kabupaten Manggarai Timur, Kamis (1/7/21) sore. Akibat penganiayaan itu Silvester mengalami luka di bagian leher dan lengan.

Kepada media ini Silvester menjelaskan, saat itu ia bersama kakaknya sementara pulang dari Reo, Kecamatan Reok, Kabupaten Manggarai. Namun di di perjalanan pulang, tepat di Kampung Cenop, ia melihat segerombolan orang yang sedang mengonsumsi minuman keras di persimpangan jalan.

Iklan Dimonium Air

Saat hendak lewat, seorang dari gerombolan tersebut yang diketahui bernama Ardi beranjak ke jalan lalu menghadang mereka. Ardi menahan motornya tanpa alasan yang jelas. Karena itu, ia menghentikan kendaraan, lalu mempertanyakan alasan penghadangan yang dilakukan Ardi.

“Saya harus menekan rem motor saya, karena takut menabrak pelaku. Lalu saya bilang, permisi kae pe’ang koe cekoen’ (Permisi kaka, tolong minggir sedikit), pelaku pun tidak terima dengan baik, pelaku lansung mencekik leher saya sambil berkata “apa maksud dau?” (Apa maksud kamu),” jelasnya.

Ia menjelaskan, pelaku melancarkan aksinya saat ia masih berada ada di atas motor. Saat itu ia hendak berhenti untuk memarkir motornya. Bukan melawan pelaku. Namun saat bersamaan, tiba-tiba teman pelaku bernama Rio datang dari arah depan lalu melompat dan menendang dada bagian kirinya.

“Saya dan kakak pun terjatuh sehingga saya mengalami luka di tangan sebelah kiri dan di bagian leher belakang. Setelah itu saya pun bangun seketika lalu berdiri. Lalu ada orang tua datang peluk saya dan berusaha menenangkan saya. Secara bersamaan Ardi sempat menendang di belakang punggung saya dan saya dalam posisi dipeluk. Sesudah itu saya diam dan bapa tua itu suruh untuk malanjutkan perjalanan kami,” jelasnya.

Baca Juga:  Tragis! Karyawan Koperasi di Sikka Aniaya Warga hingga Tewas

Usai kejadian itu, ia bersama kakaknya berinisiatif untuk menyelamatkan diri dan mendatangi rumah Kepala Desa Nampar Tabang, Hila Teguh. Kades Hila menyarankannya untuk melakukan visum.

“Kami bersama Kades Nampar Tabang bersama-sama pergi visum ke Puskesmas Weleng. Setelah itu kami melanjutkan masalah dengan cara proses hukum dan kami pun sudah melaporkan kejadian ini di Polsek Lamba Leda di Dampek dan polisi pun sudah menanggapi laporan kami dan masalahnya masih dalam proses hukum,” lanjutnya.

Silvester mengatakan, penganiayaan yang dialaminya bukanlah kali pertama. Setiap kali hendak lewat ia bersama temannya sering dihadang oleh para gerombolan preman itu. Mereka meminta uang dan bertindak sesuka hati. Jika tidak dilayani maka preman itu Tmtidak segan melakukan penganiayaan.

Oleh karena itu, ia meminta aparat Polres Manggarai Timur dan Polsek Lamba Leda, segera turun tangan untuk menindaklanjuti laporan yang telah disampaikan. Apabila tidak diproses, dikhawatirkan para pelaku akan kembali melakukan hal serupa pada warga lain. “Secepatnya pelaku harus segera ditangkap karena takut kejadian susulan. Bahkan terjadi kasus yang lebih besar,” ujarnya.

Sementara itu, seorang korban lain yang meminta identitasnya dirahasiakan mengatakan, ia bersama rekannya seringkali dihadang oleh oknum preman tersebut. Mereka dihadang saat hendak melintasi ruas jalan Benteng Jawa-Satar Teu. Bahkan pelaku tidak segan dan tanpa rasa malu meminta uang rokok kepada setiap pengguna jalan. “Kalau mereka mabuk, sering hadang kami dan minta uang rokok. Kami tidak bisa lawan karena mereka gerombolan,” ungkap sumber itu.

Bahkan kata dia, tidak jarang gerombolan preman tersebut, menghadang para pedagang yang hendak lewat. Mereka dengan bebas mengambil barang dagangan korban dengan cara mengancam dan menganiaya. “Kalau ada yang jual ikan, mereka ambil secara paksa, kami juga pasrah saja,” ujarnya.

Baca Juga:  Bupati Agas Akui Kemiskinan Ekstrem di Manggarai Timur Merata di Semua Kecamatan

Informasi yang dihimpun media ini, penghadangan terhadap pedagang keliling tersebut diakui oleh beberapa warga penjual ikan keliling asal Desa Golo Munga dan Golo Munga Barat.

Bahkan sebuah sumber menjelaskan di Desa Nampar Tabang pernah terjadi kasus pemukulan terhadap seorang Romo Pastor Paroki Weleng. Kasus pemukulan tersebut diduga melibatkan gerombolan preman itu.

(rnc23)

Komentar

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

News Feed