oleh

Formapp Mabar: Komodo Minta Ditolong Masyarakat

Jakarta, RNC – Komodo vs truk, begitulah bunyi foto viral yang beredar di medsos. Menurut orang-orang sana, komodo sudah sangat terganggu dan minta bantuan.

Foto tersebut diketahui berada di Loh Buaya, Pulau Rinca. Pulau Rinca memang ditutup untuk pembangunan wisata superpremium pertama di Indonesia.

detikTravel menghubungi Ketua Forum Masyarakat Peduli dan Penyelamat Pariwisata Manggarai Barat (Formapp Mabar), Aloysius Suhartim Karya, untuk mengetahui apa yang terjadi di sana.

“Terkait viralnya foto itu, jadi itu viral karena ada benda asing yaitu ekskavator, truk dan tronton yang berinteraksi dengan komodo di habitat aslinya. Ini kan sesuatu yang anomali, ganjil dan aneh,” ujarnya.

Dalam satu frame itu terlihat bahwa sebuah unit truk berhadap-hadapan langsung dengan komodo, sang penghuni taman nasional. Terlihat pula sopir truk yang naik ke atas truk karena komodo.

“Tapi kami merasa bangga juga, ini hanya satu dari jutaan peristiwa yang akan terjadi di kawasan pembangunan,” tegasnya.

Wacana pembangunan wisata super premium sebelumnya memang sudah diwarnai dengan pro dan kontra. Aloysius mengatakan bahwa selama ini para masyarakat dan pegiat pariwisata sudah menolak adanya pembangunan di Pulau Rinca.

BACA JUGA: Komodo vs Truk, #SaveKomodo Bergema di Medsos

“Interpretasi dari foto tersebut komodo, sang pemilik rimba minta tolong atau bantuan kepada masyarakat Indonesia. Mereka menolak kehadiran alat-alat berat dan ide man made tourism,” ujar Aloysius berapi-api.

Aloysius mengaku bahwa sejak adanya wacana pembangunan wisata superpremium ini, pemerintah menunjukkan sikap resistensi. Pemerintah terlihat jelas menolak untuk merespons segala bentuk protes yang dilakukan oleh masyarakat.

“Komodo itu bukan punya warga Labuan Bajo, bukan cuma warga NTT, tapi milik Indonesia. Komodo, satu-satunya hewan purba yang tersisa di Indonesia, mengetahui rumahnya diobrak-abrik oleh pemerintah dan merasa terganggu,” ujarnya.

“Kami berharap semua orang di seluruh dunia menandatangani petisi dan menolak pembangunan di geopark. Sehingga taman nasional yang kita ketahui sebagai kawasan konservasi tetap pada pada marwahnya,” tutur Aloysius.

(*/dtc/rnc)

Komentar

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

News Feed