Nong Alven, Bocah Penyadap Nira Lontar Dapat Bantuan

Sikkadibaca 162 kali

Maumere, RNC - Solideo Farm merupakan salah satu pusat peternakan ayam kampung unggulan Balai Penelitian Ternak (Balitnak) yang berlokasi di Kloangbolat, Desa Geliting, Kecamatan Kewapante, Kabupaten Sikka. Sebagai sebuah pusat peternakan ayam kampung, Solideo Farm berkomitmen menjalankan misi kemanusiaan bersama pemerintah dan masyarakat, serta menjalin hubungan kerja sama dengan berbagai pihak, demi keberlangsungan usaha tersebut.

Misi kemanusiaan yang diemban Solideo Farm, kini telah menyentuh banyak orang yang benar - benar membutuhkan. Bayi/balita stunting, gizi buruk, gizi kurang dan ibu hamil kekurangan kronik (bumil kek), menjadi target utama Pemberian Makanan Tambahan (PMT) melalui telor dan daging ayam kampung, hasil produksi Solideo Farm. Tak hanya itu, Orang Dengan Gangguan Jiwa (ODGJ), orang cacat dan orang yang kurang mampu pun, turut mendapatkan perhatian serius dari Solideo Farm selama ini.

Salah satunya adalah Angelus Nong Alven, bocah 10 tahun yang tinggal di gubuk sederhana, di Ili Getang, Kelurahan Beru, Kecamatan Alok Timur. Bocah ini tinggal bersama kakek, nenek dan kedua adiknya. Kakek dan nenek itu merupakan ayah dan ibu dari ibunya. Sementara kedua orang tuanya sedang mencari nafkah di Papua. Alven, demikian bocah itu disapa, sebenarnya tinggal di Desa Nelle Wutung, Kecamatan Nelle, sebab dia merupakan siswa Kelas IV SDK Delang. Namun karena masa liburan sekolah, sehingga dia tinggal sementara dengan kakek dan neneknya di gubuk itu.

Layaknya seperti orang dewasa, setiap pagi dan petang Alven turut membantu kakeknya memanjat pohon lontar, mengiris dan menyadap nira. Hasil sadapan nira lontar itu lalu diolah jadi minuman khas Sikka (Moke). Miras itu kemudian dijual untuk memenuhi kebutuhan hidup mereka.

Onwer Solideo Farm, Rofin Muda, merasa prihatin dan tergerak hatinya. Dia bersama keluarganya menyambangi gubuk itu, Minggu (17/7/2026), untuk berbagi kasih bersama Alven. Rofin memberikan bantuan sembako berupa beras, mie instant dan telor ayam kampung. “Pertama kali lihat berita Alven di televisi lokal, saya meneteskan air mata. Sungguh luar biasa perjuangan Alven, sehingga layak mendapatkan ini. Walaupun bantuan kami tidak seberapa, namun itu sudah komitmen saya bersama istri. Orang seperti inilah yang harus kita bantu,” kata Rofin.

Tak hanya memberikan bantuan sembako, keluarg Rofin juga memboyong Alven serta kedua adiknya, Martinus Nong Anjelo (7), dan Fransisko Lorenzo (4), menuju pusat perbelanjaan. Mereka dibelikan berbagai perlengkapan sekolah, dan istri Rofin, Maria Immaculata Herliana, juga menyisihkan biaya pendidikan kepada mereka.

Dirinya pun meminta Alven dan adiknya agar dapat bersekolah dengan baik dan rajin, serta selalu mendengarkan dan mematuhi nasehat dari kedua kakek neneknya tersebut. Walaupun dengan berbagai kekurangan, Rofin juga berjanji akan tetap berjuang untuk membantu dan mendorong mereka, demi sebuah pendidikan dan kehidupan yang layak.

Kakek Yakobus Idong (61), dan Nenek Katarina Tensia (59), merasa terharu menerima bantuan dari keluarga Rofin. “Selama ini kami belum pernah dapat bantuan dari siapapun, jadi bantuan ini sangat berati buat kami. Terima kasih buat Bapak Rofin Muda bersama keluarganya,” ucapnya dengan linangan air mata sambil memeluk Alven.

Yakobus Idong menuturkan, Alven sudah panjat pohon lontar sejak dia Kelas II SD. Aksinya itu dilakukan karena sering melihat tetangganya memanjat dan mengiris nira lontar. “Saya sering larang dia tidak panjat pohon lontar, karena masih anak - anak. Dia punya kemauan keras, dan saya selalu mengawasinya agar aman saat panjat hingga turun dari pohon lontar,” sebutnya. (rnc24)

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *