oleh

Akibat Covid-19, 9 Kapal Wisata di Labuan Bajo Tenggelam

Labuan Bajo, RNC – Industri pariwisata menjadi salah satu sektor paling terdampak oleh pandemi Covid-19. Bahkan sejak isu kesehatan ini merebak di Indonesia pada Maret lalu, banyak agen perjalanan wisata terpaksa gulung tikar akibat pergerakan wisatawan dibatasi.

BACA JUGA: Buka Juli, Wisata Labuan Bajo Cuma untuk Warga NTT

Hal tersebut turut dirasakan para agen wisata yang berada di kawasan destinasi super prioritas, Labuan Bajo, Nusa Tenggara Timur. Beberapa waktu lalu, publik juga sempat dihebohkan oleh kabar tenggelamnya sejumlah kapal yang dulunya digunakan untuk mengangkut wisatawan menyisiri pulau-pulau di kawasan tersebut.

Kabar ini pertama kali dibagikan oleh seorang pengguna facebook dengan akun Sala Udink. Dalam unggahannya, Sala membagikan beberapa foto yang menampilkan detik-detik tenggelamnya kapal-kapal kayu di Labuan Bajo.

Berdasar keterangan yang ditulisnya, dalam kurun waktu dua bulan sudah ada 9 kapal yang tenggelam di tempat mereka berlabuh.

“Satu persatu sudah mulai tumbang, tenggelam, di tempat berlabuh. Dalam waktu kurang 2 bulan sudah ada 9 kapal yang tenggelam,” tulis Sala Udink.

Hal tersebut dibenarkan oleh Bang Jo, salah satu pengusaha agen wisata di Labuan Bajo. Menurut penuturannya, kondisi ini memang disebabkan oleh tidak adanya lagi aktivitas wisata akibat pandemi Covid-19.

“Kenapa tenggelam? Karena beberapa dari pemilik kapal itu adalah investor yang domisilinya di luar Labuan Bajo. Mungkin saja karena perusahaannya collapse, sehingga permintaan untuk mengurus kapal-kapal di Labuan Bajo tidak direspons dengan cepat,” kata Bang Jo saat dihubungi Okezone via sambungan telepon, Selasa (23/6/2020).

BACA JUGA: Kapal Phinisi yang Ditumpangi Wartawan Istana Tenggelam di Labuan Bajo

Bang Jo menambahkan, sebagian besar kapal wisata di Labuan Bajo itu berbahan dasar kayu, sehingga diperlukan perawatan yang rutin. Bahkan, kapal kayu ini harus dioperasikan paling tidak satu hari satu malam untuk mencegah kerusakan mesin dan bagian kapal lainnya.

“Tentunya ini membutuhkan biaya karena kapal baru bisa beroperasi kalau ada bahan bakar minyak (bbm). Di satu sisi, kapal juga rentan kemasukan air, sehingga harus dikuras secara berkala. Dan lagi-lagi itu membutuhkan biaya operasional,” tandas Bang Jo.

(okezone.com/rnc)

Komentar

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

News Feed