Bupati Djafar: Warga Ende Siap Migrasi ke TV Digital

Endedibaca 364 kali

Ende, RNC - Kemenkominfo RI melalui Ditjen IKP, melaksanakan pertunjukan rakyat (Pertunra) di daratan Flores, NTT. Kegiatan ini merupakan lanjutan sosialisasi migrasi siaran TV analog, ke TV Digital. Kali ini, Kemenkominfo melakukan Pertunra di Kabupaten Ende. Merespon kegiatan Kemkominfo tersebut, Bupati Ende, Djafar H. Achmad mengungkapkan, Pemkab Ende, mengapresiasi Ditjen IKP yang terus berupaya membangun konektivitas dan infrastruktur teknologi informasi, melalui berbagai program di seluruh Indonesia, termasuk di Ende.

“Pemda mengapresiasi Kemkominfo yang menargetkan Indonesia terkoneksi dengan membangun infrastruktur telekomunikasi, di seluruh Indonesia termasuk di Ende,” ucap Bupati Djafar saat membuka Pertunra bertema “Siap TV Digital, Menuju Indonesia Terkoneksi, Semakin Digital Semakin Maju”, Sabtu (9/4/2026), di Hotel Shifa.

Bupati Djafar menjelaskan, perkembangan dunia teknologi saat ini semakin pesat dari waktu ke waktu. Hal ini ditandai dengan munculnya inovasi berbasis teknologi informasi yang membantu kebutuhan dan kelancaran kegiatan manusia. Pentingnya peran teknologi membawa peradaban manusia ke era digital. Berbagai sektor telah merambah dengan memanfaatkan teknologi informasi. Digital terbukti sangat berperan penting dalam berbagai kegiatan perekonomian serta penyelenggaraan pembangunan dalam berbagai bidang.

Bupati Djafar berharap, kegiatan ini dapat dimanfaatkan secara baik untuk memberi pencerahan. Tujuannya, agar masyarakat Ende semakin siap menyambut program migrasi ke siaran TV digital. Tentunya dengan mendukung seluruh perkembangan kemajuan, baik teknologi penyiaran televisi maupun dampak sosial ekonominya.

Selain itu, Bupati Djafar berharap bantuan dan dukungan dari Kemkominfo ke depannya, agar mendapatkan perhatian prioritas dalam berbagai program inovasi baru di daerahnya. Kegiatan Pertunra di Ende menghadirkan narasumber Agung Suprio, ketua KPI Pusat. Dalam pemaparannya, Agung menyampaikan TV itu adalah TV Free To Air (FTA) atau TV, yang setiap hari kita tonton di layar TV. Tayangan itu menggunakan sistem analog. Karenanya, tayangan tidak jernih, banyak semut. Itu khas TV analog.

Sedangkan TV digital lebih jernih. TV digital bukan internet. Untuk menayangkannya membutuhkan perangkat yang kenal dengan nama set top box. Ia menambahkan, jumlah siarannya lebih banyak daripada TV Analog. Set Top Box tidak diperlukan, manakala TV yang ada sudah mensupport sistem digital dengan ciri ada tulisan digital, bentuk flat (datar) dan memiliki sistem pemancar DVB-T/T2.

Sementara Plt. Kadis Kominfo Ende, Supriyanto, M.T. menjelaskan perihal perbedaan sistem analog dan digital. “TV Analog dapat diartikan sebagai TV yang bergantung pada frekuensi sinyal yang dikeluarkan pemancar. Semakin jauh posisi antena dari lokasi pemancar, semakin buruk gambar yang ditangkap,” ucap Supriyanto. Karenanya harus segera migrasi ke siaran TV Digital. Sebab dengan digital, spektrum frekuensi merupakan sumber daya terbatas, sehingga efisiensi menjadi keharusan. Jadi, pemanfaatan teknologi digital merupakan langkah penghematan frekuensi.

Hal senada dikatakan Ferdinandus Lidang Witi, SE, M. Kom. Praktisi media ini menandaskan, yang digital itu bukan TV, tapi siarannya yang dalam bentuk digital. “Hal ini ditandai dengan konsumen atau masyarakat penonton siaran TV Digital akan mendapatkan audio, video, dan data,” pungkas Ferdinandus. Ia mengajak semua pihak, agar mendukung program migrasi TV Digital ini, sebab berdasarkan regulasi akan ada peluang bertumbuhnya konten kreator lokal. “Yang paling penting adalah, dalam siaran digital ada peluang muatan konten lokal, jadi ada harapan terbentuknya TV lokal baru,” kata Ferdinandus. (rnc23)

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *