oleh

Gede Pasek: Sistem Pemilu 2024 Berubah, Hanura Mulai Atur Strategi Baru

Iklan Demokrat

Kupang, RNC – DPD Partai Hati Nurani Rakyat (Hanura) Provinsi Nusa Tenggara Timur menggelar Musyawarah Daerah (Musda) III yang berlangsung di Hotel Neo by Aston Penfui, Kota Kupang, Kamis(13/02/2019) siang.

Hadir dalam acara pembukaan, Sekretaris Daerah Provinsi NTT Ir. Ben Polo Maing, Ketua DPRD NTT yang juga Ketua DPD PDIP NTT, Emelia Nomleni, Sekretaris Jenderal Partai Hanura Gede Pasek Suardika, Ketua DPD Partai Gerindra NTT Ir. Esthon Foenay, M.Si, seluruh pengurus DPD dan DPC Hanura NTT.

Iklan Dimonium Air

Dalam sambutannya, Sekjen Partai Hanura, Gede Pasek Suardika menyampaikan Musda tersebut menjadi motor pergerakan partai Hanura. “Saya merasa senang dengan amanah pasca Munas yang lalu, dimana saya diamanahkan menjadi Sekjen. Kita mencoba untuk mengembalikan marwah Hanura lima tahun lagi,” katanya.

Ia mengaku, pada Pemilu 2019 lalu dengan segala polemik internal dan ruwetnya sistem pemilu, partai tidak mampu melewati parlementary threshold. Namun perlu diketahui bahwa Hanura mengantongi 807 kursi pada DPRD tingkat provinsi dan kabupaten/kota se-Indonesia.

Oleh karena itu, Gede mengajak seluruh kader untuk tetap semangat berjuang untuk menghadapi Pemilu tahun 2024 mendatang. Saat ini sudah tergambar tidak akan digelar pemilihan secara serentak. “Pilihannya adalah pemilu pusat, pemilu lokal atau Pemilu eksekutif dan Pemilu legislatif. Kira-kira seperti itu desain pemilu 2024. Nah, karena pilihannya ada dua, maka Pemilu eksekutif yakni Pilpres bersama Pilkada di 2024, dan pemilu legislatif yakni DPR, DPD dan DPRD di tahun 2024 yang berbeda bulan,” pungkasnya.

Ia menambahkan melalui musda ini diharapkan dapat mengakomodir setiap kader dan bakal calon kepala daerah guna membangun satu komitmen yang baik bagi masa depan pembangunan daerah ini.

Baca Juga:  Data Covid-19 RI 25 September: Jateng Tertinggi, NTT 64 Kasus

“Dengan sistem yang berbeda ini, kader-kader sudah bisa mempersiapkan diri dari sekarang. Jadi itu yang bisa saya sampaikan bahwa desain pemilu yang akan datang tidak bisa bersama-sama lagi, dikarenakan banyak korban yang jatuh akibat urusan tersebut, baik petugas penyelenggaranya, petugas pengamanannya baik juga caleg yang berkompetisi. Dari pertemuan seluruh sekjen partai, semua sepakat untuk digelar secara terpisah dan pemisahan ini secara langsung merubah cara main di lapangan,” jelas Sekjen. (rnc04)

Komentar

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

News Feed