oleh

Hari Kartini di Mata Dokter Aries Dwi Lestari

Iklan Demokrat

Ende, RNC – Hari Kartini diperingati setiap tanggal 21 April, sesuai dengan tanggal kelahiran Raden Ajeng Kartini pada tahun 1879 silam. Peringatan Hari Kartini berawal dari adanya Keputusan Presiden RI Nomor 108 Tahun 1964 pada 2 Mei 1964. Berdasarkan Kepres di masa Presiden Soekarno itu, R.A. Kartini ditetapkan sebagai Pahlawan Kemerdekaan Nasional.

Bagi dr. Aries Dwi Lestari Sp.Pd, peringatan Hari Kartini di tengah kondisi pandemi Covid-19 sungguh istimewa sekaligus sangatlah menantang. Sebab sebagai Direktur RSUD Ende, ia bersama tim kerja (seluruh tenaga kesehatan dan staf) ditantang untuk memberikan pelayanan yang terbaik. Meski tugas-tugas yang mereka embani sangat berisiko untuk terpapar virus corona. Belum lagi kalau muncul riak-riak protes dari keluarga pasien.

Iklan Dimonium Air

“Menjalankan tugas sebagai direktur rumah sakit di tengah pandemi sungguh menguras energi. Bersama tim kerja, kami harus menyelamatkan nyawa pasien yang terpapar covid. Di saat yang bersamaan, kami harus juga menjaga agar diri sendiri dan keluarga tidak terpapar,” ujarnya kepada RakyatNTT.com, Rabu (21/4/2021).

Selain sebagai Direktur RSUD Ende, dokter Aries juga adalah seorang ibu rumah tangga yang harus mengurus suami dan anak-anak. Jelas tidak mudah bagi kartini-kartini seperti beliau. Namun, semangat Kartini terus menginsipirasinya, sehingga ia bisa menjalankan tugas sebagai dokter merangkap direktur rumah sakit serta tugas sebagai ibu rumah tangga dengan happy.

“Pandemi melumpuhkan semua sektor, terlebih ekonomi. Jadi dalam situasi seperti ini, kaum perempuan tertantang untuk bertahan dan mencari solusi. Perempuan harus taktis dan pintar mensiasati situasi yang ada,” katanya.

“Peringatan Hari Kartini menyadarkan kita bahwa kaum perempuan bisa. Perempuan itu kuat,” sambung dokter spesialis penyakit dalam itu.

Belajar dari semangat R.A. Kartini, dokter Aries berharap kartini-kartini zaman sekarang harus bermental baja karena tidak ada lagi perbedaan gender. Yang terpenting, kaum perempuan jangan terjebak atau tenggelam pada emansipasi yang kebablasan. Berkembang maju dalam karir dan kedudukan sosial itu keharusan, tetapi jangan sampai mengabaikan tugas pokok sebagai seorang ibu. (rnc16)

Komentar

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

News Feed