Kisah Sukses Lukas Onak Narek
Mendengarnya bercerita via telepon itu, susah untuk memotong. Terutama ketika menyentuh tema yang ia suka, seperti berbisnis demi kemanusiaan atau bisnis generasi 4. Dari ujung telepon, tidak ada waktu untuk menyelah. Ia akan bercerita mengaitkan peristiwa demi pristiwa, menjadi satu rangkaian bermakna.
Itulah hasil telepon di hari ulang tahunya yang ke - 58, pada 20 April 1964. Kisah yang menarik seperti namanya untuk ditulis jadi refleksi kecil. Siapa tahu, cerita perjuangannya bisa menjadi inspirasi bagi banyak orang.
Sudah Merantau
Sejak tamat SMP Negeri Lewoleba (sekarang SMPN Nubatukan) tahun 1980, Lukas sudah merasakan kalau panggilan hidupnya akan lebih cocok bergelut di bidang swasta. Karena itu, ia masuk SMEA Kawula Karya Lewoleba.
Setahun kemudian, saat naik kelas 2, Lukas pindah ke SMEA Karya Ruteng. Di sana sudah ada saudarinya. Tetapi saat di Ruteng, Lukas yang selalu rajin ke gereja itu, mendapatkan tawaran dari P. Blasius Woda, SVD (orang Maumere yang mengajaknya menjadi koster, dan tinggal bersamanya di pastoran). Di situ Lukas melakoni hampir semua pekerjaan, mulai mengurus generator listrik, jadi koster, tukang kebun. Semuanya dilakoninya.
Tahun 1984, setelah tamat, Lukas kembali ke kampung. Di sana ia aktif dalam kegiatan Mudika (Muda-Mudi Katolik). Lukas bersama teman-temannya aktif dalam kegiatan drama dan aneka kegiatan kemasyarakatan. Hidup seperti itu, akhirnya menyadarkan Lukas bahwa ia terdorong untuk menjadi imam.
Jadilah tahun 1986, ia masuk Kelas Persiapan Atas (KPA) Seminari Hokeng hingga tamat tahun 1988. Selanjutnya Lukas menjadi frater SVD selama hampir 3 tahun. Karena sakit, niat itu akhirnya diurungkan.
Dari Ledalero, ex frater Lukas tidak langsung ke kampung. Ia ‘merantau’ di Bajawa. Ia lalu bekerja membantu Rm Lukas Lena, Pr di paroki, Ia membantu di Paroki MBC Bajawa. Pekerjaan yang ia sangat senang lakukan, dan hampir saja merasa kerasan untuk terus di Bajawa. Tetapi atas desakan mama, maka Lukas kembali ke Posiwatu. Di sana ia lanjutkan pekerjaan yang pernah ia lakukan sebelumnya dengan aktif, yakni menggerakan Mudika (OMK).
Tetapi kali ini tentu dilakukan dengan lebih baik, karena sudah punya pengalaman sebagai frater maupun pendampingan di MBC. Hal itu pula yang mendorong SMP Boto memintanya untuk ‘isi waktu’ jadi guru di SMP. Ia terima dan ia lakoni beberapa tahun, sebelum akhirnya pamit karena saat bersamaan Lukas giat di PDIP sebagai seorang kader militan.
Semangat Mengubah
Melihat perjalanan hidup, mungkin kata yang pas adalah bersemangat di tengah keterbatasan. Hal itu juga diakui Lukas. Kalau melihat kondisi terutama di kampung, maka susah membayangkan bahwa kondisi yang sederhana itu membuatnya memiliki cita - cita yang tinggi.
Di Kampung Posiwatu, suami dari Yosefina Natalia Leli Bediona ini, melihat peluang bisnis dan ia mendirikan kios yang bertahan hingga kini. Untuk ukuran orang kampung, kios itu cukup besar, karena bisa melayani kebutuhan orang kampung.
Di kampung, karena pergaulan yang luwes, Lukas masuk menjadi anggota Yayasan Kawela Satria Lembata.
Dari yayasan ini, Lukas dikirim mengikuti pelatihan di Sanres Maumere. Di sana, ia berkenalan dengan orang hebat, seperti Edu Sareng, Alex Longgingus (Bupati Sikka 2003 - 2008) yang menggodanya untuk terus tinggal di Maumere. Tetapi Lukas ingin kembali ke Lembata menggeluti apa yang ia rencanakan, meski kondisi itu tentu lebih sulit di Lembata.
Bersyukur dari pengalaman dengan orang - orang hebat di LSM, Lukas akhirnya mendapatkan dukungan untuk mendirikan yayasan sendiri: Solidaritas Anawim. Dengan yayasan ini, Lukas bisa mengadakan workshop dengan ratusan petani di Lembata, lalu mengundang tokoh - tokoh penting, salah satu pembicaranya dari Amerika.
Kesuksesan di yayasan pemberdayaan, seakan disambut oleh alam. Perubahan Lembata menjadi otonom, memberi kesempatan kepada Lukas untuk menjadi anggota DPRD Lembata (sebelumnya di Larantuka). Di situ, kiprah Lukas terlihat sangat positif, menanjak dan memberinya banyak hal. Secara ekonomi, pengalaman itu kemudian menderetkannya menjadi seorang pengusaha, dengan memiliki beberapa kendaraan operasional kerja, truk dan beberapa alat berat.
Terus Mengasah
Di tengah keberuntungan yang dimiliki, Lukas merasa materi tidak membuatnya puas dan berhenti berjuang. Ia harus terus belajar. Karena itu, ketika UNWIRA Kupang membuka cabang di Lembata, ia segera mendaftar di Fakultas Hukum. Latar belakang pendidikan filsafat, membuat Lukas merasa sangat pas mempelajari ilmu hukum yang sangat erat dengan logika. Itulah maka masa pendidikan itu dilewati dengan senang. Kajian yang dibuat menjadi sangat bermanfaat.
Empat tahun dilewati, akhirnya menjadikan Lukas menjadi lulusan terbaik ‘cum laude’ di fakultas hukum. Terhadap prestasi itu, Frans Lebu Raya, ketua DPD PDIP Provinsi NTT, sangat bangga saat acara wisuda. Ia membanggakan salah satu kadernya, hingga menjadi lulusan terbaik yang disambut applause dari peserta.
Upaya ini selalu menyadarkannya, orang harus terus mengasah kemampuannya agar tidak tumpul. Ibarat pisau, harus terus diasah. Tetapi seperti definisi asah, maka proses itu akan menajamkan kalau dihadapkan dengan benda keras sebagai tempat mengasah. Itulah prinsip yang selalu dipegang. Karena itu, Lukas menjadi seorang petarung yang tidak akan mundur, bila berhadapan dengan satu niat yang ia sudah pasang. Ia tidak akan mundur selangkah pun.
Hal itu terlihat, saat menjadi anggota DPRD Lembata. Diinformasikan, beberapa kali Lukas sangat emosional sampai menjungkir-balikan meja, hanya karena apa yang ia pikirkan bertabrakan dengan praktik yang terjadi. Hal itu terkesan sangat emosional tak terkontrol, tetapi justru menunjukkan baginya ada hal yang tidak bisa ditawar - tawar.
Kisah Menarik
Tidak hanya asah. Kita juga perlu ‘asuh’. Asuh berarti menawarkan kasih kepada orang lain. Itulah yang ia sangat jiwai dalam bisnis yang sedang ia geluti sekarang: teknologi nano. Terhadap bisnis ini, Lukas selalu menekankan bahwa inilah bisnis generasi 4. Bila generasi 1 pengobatan tradisional, dan generasi 2 adalah obat-obatan, lalu generasi 3 adalah pengobatan verbal, maka generasi 4 adalah generasi teknologi neno infra merah. Teknologi ini berpijak pada air sebagai ‘bahan utama’. Demikian selalu ditekankan ayah dari: Mario, Mariano Alexander, Ria, dan Rycha.
Lukas lalu mengaitkan air dalam Kitab Suci dan tradisi Kristen, menjadi sangat penting mulai dari Laut Merah, hingga pada masa Yesus. Air menjadi unsur sangat penting. Karena itu, teknologi Nano berbasis air, tidak lain mengangkat nilai yang sangat biblis dan sangat manusiawi. Terhadap bisnis ini, Lukas tidak menjadikan keuntungan sebagai hal utama. Baginya, bisnis itu hanya tambahan. Yang penting adalah melayani sesama.
Kisah yang sangat mendalam seperti inilah, yang membuat menarik kisah hidup Lukas. Tidak berlebihan kalau kisah hidupnya sejak awal, terutama menjadi koster di Ruteng, dan kemudian hidup di seminari menengah dan seminari tinggi, serta kehidupan bersama umat di Bajawa, Posiwatu dan Boto, mengingatkan kalau Lukas telah menimbah banyak kekuatan spiritual yang membuatnya berbeda. Kalau ia agak keras, terutama berkaitan dengan hal - hal prinsip, maka hal itu karena ia telah memiliki akar hidup yang telah membentuknya.
Tetapi, kekuatan itulah yang membuatnya juga sangat ‘nekad’. Bisnis yang ia geluti sekarang, bisa disebut bisnis yang nekat. Ia harus tinggalkan istri dan anak, untuk hidup ‘ngekos’ di daratan Timor, di Flores, dan di Lembata. Ia punya tekad, keadaan yang ada di sekitar tidak membuatnya menyerah. Ia tahu, apa yang digeluti adalah positif dan bisa memberi manfaat. Tekad itu pula yang menghasilkan aneka prestasi, yang mentornya diundang untuk ikut dalam program GERMAN ESCAPE (21 - 28 Oktober 2019), membuatnya bisa keliling Eropa.
Usaha demi usaha itu semakin memberikan kepercayaan. Banyak orang tertarik dengan bisnis. Ia cerita dengan bangga, bagaimana empat hakim agung di Jakarta, memesan termos Nano dari Lembata, pertanda terjadi perubahan yang besar karena orang dari Lembata justru mengirim produk itu ke Jakarta.
Tidak hanya itu. Bahkan beberapa orang di India, Taiwan, dan beberapa negara, justru menjalin bisnis (termasuk biji kelor) dari Lembata. Semuanya kembali menyadarkan, kalau tempat di mana seseorang berada, tidak menjadi pembatas kreativitas. Lukas telah buktikan, dari Lembata ia bisa ‘mengindonesia’ dan mendunia. Apakah kisah seperti itu tidak menarik? Justru sebaliknya, kisah menarik dari seorang ‘Narek’. Selamat sukses Lukas Onak Narek.
* Robert Bala



