oleh

Saran Pakar Matematika: Percepat Tes Swab dan Terapkan PSBB

Sabun Herbal Cyrus

Kupang, RNC – Gugus Tugas Percepatan Penanganan covid-19 Provinsi Nusa Tenggara Timur telah melakukan rapat internal bersama seluruh gugus tugas tingkat kabupaten/kota. Rapat tersebut membahas upaya intervensi penyebaran covid-19 dan perkembangannya di NTT di Gedung Sasando, Rabu (20/5/2020).

Dalam rapat itu, pakar Matematika dari Australia Max Li menyarankan kepada Pemerintah Provinsi Nusa Tenggara Timur untuk menetapkan pembatasan sosial berskala besar (PSBB). Hal ini disampaikan Sekretaris I Gugus Tugas Provinsi NTT, drg. Dominikus Minggu Mere di Balai Dinas Kesehatan Provinsi NTT, Rabu (20/5/2020) siang.

Saat diwawancarai RakyatNTT.com, Dominikus menyampaikan bahwa dalam rapat bersama Forum Academia NTT, analis Matematika yang juga putra daerah NTT itu memprediksi penyebaran penularan virus corona di masyarakat hingga minggu ke-6 ini sebesar 1:3. Perbandingan tersebut bisa mencapai 81 kasus positif.

“Nah ternyata posisi kita itu hampir sama. Posisi kita hari ini sampai hari ini 76. Ini kan baru minggu ke-6, prediksinya hampir pasti,” kata Dominikus.

Dari prediksi tersebut, NTT bisa mengalami masa sulit dalam penanganan. Oleh karena itu, disarankan berdasarkan pengamatan matematis yakni segera menetapkan PSBB untuk mengintervensi penyebaran virus di tingkat lokal.

“Terutama berkaitan dengan pembatasan sosial dan kita harus lakukan upaya-upaya untuk mencegah agar tidak terjadi transmisi lokal, transmisi antarorang dan antarmasyarakat,” ungkapnya.

Kemudian terhadap pemeriksaan sample swab-PCR oleh Laboratorium Molekuler RSUD W.Z. Johannes memakan waktu 2 hari, segera dipercepat waktu pemeriksaan untuk diketahui hasilnya. “Supaya penanggulangannya bisa cepat dilakukan dan lebih baik penanganannya,” ujarnya.

Dominikus juga mengatakan, terkait PSBB sangat penting diterapkan, salah satunya adalah Kota Kupang. Alasannya transmisi lokal positif corona yang meningkat. Ia mengungkapkan hasil tracing orang yang terkonfirmasi kontak langsung dengan pasien meninggal beberapa waktu lalu sudah mencapai lebih dari 100 orang.

“Kota Kupang ini yang harus dijaga betul. Kita tidak inginkan kalau akan ada lagi transmisi lokal yang ada baik yang kedua maupun ketiga nanti kita kan alami kesulitan,” tandasnya. (rnc04)

Komentar

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

News Feed