Kupang, RNC - Bakal calon Gubernur NTT, Yohanis Fransiskus Lema atau akrab disapa Ansy Lema saat ini belum memiliki pasangan calon wakil gubernur. Sejumlah nama pun mencuat untuk diduetkan dengan eks juru bicara Ahok tersebut.
Berikut beberapa nama yang beredar di media sosial yang dipasangkan dengan Ansy Lema.
1. Refafi Gah
Sosok yang satu ini adalah politisi Partai Hanura. Ia menjabat Ketua DPD Partai Hanura Provinsi NTT. Ia juga merupakan anggota DPRD Provinsi NTT periode 2019-2026 dan baru terpilih kembali menjadi anggota DPRD Provinsi NTT periode 2026-2029. Ia terpilih dari daerah pemilihan 3 meliputi seluruh wilayah Pulau Sumba.
2. Anita Gah
Politisi Partai Demokrat ini kini menjabat anggota DPR RI. Sepak terjangnya di politik tidak diragukan lagi. Setidaknya sudah tiga periode ia mewakili masyarakat dapil NTT 2 di Senayan. Pada Pemilu 2026, Anita kembali terpilih di dapil yang sama.
3. Bobby Liyanto
Di jagat Maya juga tersebar sejumlah flyer bergambar Ansy Lema dan Bobby Liyanto. Sosok Bobby tidak asing lagi di NTT. Ia dikenal sebagai salah satu raja properti NTT. Melalui bendera Sejahtera Group ia menghadirkan ribuan rumah subsidi di seantero NTT. Kini pengusaha muda NTT ini menjabat Ketua Kamar Dagang Industri (Kadin) NTT.
4. El Asamau
Nama El Asamau fenomenal saat perhelatan Pemilu 2026 lalu. Betapa tidak, ia menghentak publik dengan kampanye-kampanye kreatifnya saat menjadi calon anggota DPD RI. Walau tidak terpilih, namun jumlah suaranya sangat signifikan. Mencapai lebih dari 200 ribu suara yang tersebar merata di seluruh NTT. Sosok muda mantan birokrat ini pun menjadi salah satu idola kaum milenial.
5. Merry Kolimon
Salah satu nama yang ikut mencuat ke publik adalah mantan Ketua Sinode GMIT, Pdt. Merry Kolimon. Pdt. Merry selama dua periode memimpin GMIT dan juga aktif dalam berbagai pergerakan kemanusiaan di NTT sekaligus sebagai akademisi. Ia pun dinilai sangat layak mendampingi Ansy Lema memimpin NTT lima tahun ke depan.
Walau begitu, hingga saat ini PDIP sebagai partai pengusung Ansy Lema belum menetapkan siapa figur yang mendampingi Ansy Lema. Termasuk kepastian partai yang akan berkoalisi dengan PDIP. Partai Hanura disebut-sebut akan masuk gerbong PDIP. Demikian pula dengan PAN dan Perindo.
Lalu bagaimana dengan calon wakil? Ansy Lema kepada awak media pekan lalu di Kupang mengaku sedang melakukan komunikasi dengan bakal cawagub yang akan mendampinginya dan pada saat yang tepat akan diumumkan kepada publik. Ia mengaku telah mempertimbangkan bacawagub yang akan mendampinginya berdasarkan berbagai aspek.
Ansy lantas menjelaskan, pemimpin yang “Takut akan Tuhan” adalah pemimpin yang memimpin dengan hikmat Tuhan. Takut akan Tuhan adalah permulaan hikmat. Artinya, figur cawagub selalu berusaha mencari dan menemukan kehendak Tuhan ketika merencanakan, memutuskan dan melaksanakan kebijakan-kebijakan publik. Bekerja tulus mewujudkan kesejahteraan, keadilan dan kemanusiaan adalah prinsip-prinsip yang sejalan dengan ajaran Tuhan.
Ansy menjelaskan, pemimpin yang “Takut akan Tuhan” selalu mencari tuntunan ilahi dalam mengemban setiap tugas akan memotivasi seorang pemimpin dalam mengejawantahkan nilai-nilai spiritualitas dalam pelayanan kepada masyarakat.
“Inilah prinsip “TAS” pertama, yaitu spiritualitas dalam kepemimpinan publik. Jika memulai sesuatu dilandasi dengan tuntunan ilahi, maka seorang pejabat publik akan terdorong untuk selalu melayani kebutuhan sesama, solider, berempati pada kepentingan umum, dan berpihak pada mereka yang lemah dan terabaikan,” jelas anggota Komisi IV DPR RI ini.
Kriteria “TAS” kedua, lanjut Ansy, adalah memiliki integritas. Integritas menyangkut relasi antara pemimpin dengan eutamaan karakter atau nilai-nilai (values) yang hidup dalam diri pemimpin.
“Jadi cawagub yang memiliki integritas adalah pemimpin yang jujur, bersih, berani, rela berkorban, taat konstitusi, tulus, dan lurus. Ini penting supaya kami siap pasang badan, kerja profesional, dan mengabdi kepada siapa saja tanpa pandang bulu,” tegas Ansy.
Kriteria “TAS” ketiga adalah kapasitas. Kapasitas berhubungan dengan kompetensi, dalam arti pemimpin harus memiliki visi yang jelas dan terukur, mampu menjalankan visi dengan meyakinkan serta mampu mencari solusi atas berbagai halangan.
Karena itu, Ansy menekankan Cawagub harus mengerti tentang persoalan NTT, potensi NTT, mengkoordinasikannya untuk menemukan solusi, serta mampu mewujudkannya dalam kebijakan lewat kerja nyata di lapangan.
“Bicara kapasitas dan kompetensi adalah bicara soal “isi kepala” pemimpin (quality of discourse) dan kecerdasan teknokratik. Ia tidak hanya berpikir, tetapi mampu menjalankan pikirannya tersebut dalam kerja-kerja nyata dengan output yang jelas dan terukur,” jabar Ansy.
Kriteria “TAS” keempat, sambung Ansy, adalah cawagub harus memiliki jaminan potensi elektabilitas. Elektabilitas menyangkut relasi antara pemimpin dengan konstituen, karena berkaitan dengan politik representasi atau legitimasi tingkat keterpilihan figur cawagub di masyarakat.
“Saya percaya cawagub yang Takut akan Tuhan, berintegritas, dan berkapasitas dapat meningkatkan elektabilitasnya, yang memberi insentif elektoral kepada saya. Artinya, keunggulan politik nilai akan terkonversi menjadi politik angka elektoral. Keunggulan nilai dan karakter personal cawagub akan membuatnya bersinar, dan kemudian mendongkrak elektabilitas,” ujarnya.
Selain empat kriteria “TAS”, Juru Bicara Basuki Tjahaja Purnama (Ahok) dalam Pilkada DKI Jakarta 2017 ini berharap, figur cawagub juga harus memiliki semangat inklusif, toleran dan merangkul keberagaman.
Ansy beralasan, pemimpin inklusif sangat penting karena NTT adalah miniatur NKRI. Provinsi di tenggara Indonesia ini memiliki keanekaan budaya, bahasa, dan agama. Maka figur yang dibutuhkan untuk menjadi pemimpin adalah seseorang yang mampu merangkul kebhinekaan dan hadir di tengah keanekaragaman tersebut. Pemimpin adalah perekat kebhinekaan, bukan peretak keberagaman.
“Yang mampu memahami dan menghargai orang lain yang berasal dari latar belakang berbeda. Cawagub harus pandai merajut tenun kebhinekaan di NTT,” sambung Ansy.
Politisi yang akrab disapa dengan panggilan Kaka Ansy itu juga berharap cawagub memiliki perhatian dan kepedulian terhadap isu perempuan dan kesetaraan gender, kesehatan dan pendidikan, pertanian dan perikanan, pemberdayaan milenial dan gen Z serta peningkatan kualitas sumber daya manusia di NTT.
“Selain itu, cawagub harus memiliki keberpihakan kepada konservasi ekologi yang melibatkan masyarakat adat, pro investasi yang ramah ekologis dan prorakyat, serta mendukung penuh pembukaan lapangan kerja baru,” papar Ansy.
Ansy percaya, cawagub yang memiliki rekam jejak spiritualitas, integritas dan kapasitas dapat membentuk pasangan dwitunggal yang solid, kompak, siap, dan memiliki komitmen untuk mempercepat pembangunan di NTT. (rnc)
Ikuti berita terkini dan terlengkap di WhatsApp Channel RakyatNTT.com







