oleh

Wali Kota Kupang Terima Penghargaan Kota Toleran Indonesia 2020

Iklan Covid Walikota Kupang

Kupang, RNC – Wali Kota Kupang, Dr. Jefri Riwu Kore, Kamis (25/2/2021) menerima Indeks Toleran Award 2020 dari SETARA Institute karena Kota Kupang terpilih sebagai Kota Toleran Indonesia 2020 bersama 9 kota lainnya dari total 94 kota di Indonesia.

Penghargaan diterima langsung Wali Kota Jeriko dalam acara peluncuran Laporan Indeks Kota Toleran (IKT) 2020 yang berlangsung di Ballroom Hotel Ashley, Jl. KH Wahid Hasyim, Jakarta. Acara ini juga disiarkan langsung via channel youtube dan aplikasi zoom.

Iklan Dimonium Air

IKT merupakan studi indexing atas praktik dan promosi toleransi di seluruh kota di Indonesia. IKT bertujuan untuk mendorong praktik-praktik toleransi di kota dan memajukan inisiatif kota dalam membangun ruang inklusif bagi seluruh anasir kebhinekaan di kota.

BACA JUGA: Dialog di Vihara Pubbaratana, Menteri Agama Kagumi Kerukunan di Kota Kupang

Melalui studi tersebut, SETARA Institute menyimpulkan bahwa 10 kota memiliki skor Indeks Toleransi Tertinggi dari 94 kota yang ada di Indonesia. SETARA Institute, dengan dukungan Badan Pembinaan Ideologi Pancasila (BPIP) dan Direktorat Jenderal Politik dan Pemerintahan Umum Kementerian Dalam Negeri, memberikan penghargaan (award) kepada 10 besar kota dengan skor indeks toleransi tertinggi.

Indikator-indikator penilaiannya adalah RPJMD (10%), kebijakan pemerintah kota tentang toleransi dan non diskriminasi (20%), peristiwa intoleransi dan pelanggaran kebebasan beragama (20%), dinamika masyarakat sipil (10%), tindakan pemerintah seperti pernyataan kepada publik (10%), tindakan nyata pemerintah (15%), heterogenitas agama (5%) dan inklusi sosial keagamaan (10%).

Berikut 10 besar kota dengan indeks toleransi tertinggi beserta skor masing-masing:

1. Salatiga: 6.717
2. Singkawang: 6.450
3. Manado: 6.200
4. Tomohon: 6.183
5. Kupang: 6.037
6. Surabaya: 6.033
7. Ambon: 5.733
8. Kediri: 5.583
9. Sukabumi: 5.546
10. Bekasi: 5.530

Peringkat Kota Kupang tahun 2020 naik dua peringkat dari tahun 2018 lalu yakni di peringkat ke-7.

Wali Kota Kupang, Dr. Jefri Riwu Kore dalam sambutannya mengatakan Kota Kupang telah membuat terobosan dengan membuat peraturan Wali Kota untuk pendirian rumah ibadah. Pasalnya, jika merujuk pada aturan yang sudah ada, maka umat Buddha di Kota Kupang tidak bisa beribadah karena harus memenuhi syarat jumlah penduduk dan sebagainya. “Kami membuat terobosan melalui aturan yang kami buat untuk memfasilitasi saudara-saudara kami bisa beribadah dengan baik,” kata Jeriko.

Jeriko juga mengatakan penghargaan ini menjadi motivasi bagi Kota Kupang untuk terus menjaga kerukunan dan dapat terus menjadi kota toleran ke depan.

Ia menambahkan, penghargaan ini menjadi motivasi bagi Pemerintah Kota Kupang untuk terus menjalin kerja sama dengan seluruh komponen masyarakat di Kota Kupang agar kerukunan dan persaudaraan yang terjaga selama ini tetap diperkuat sehingga dapat menjadi contoh bagi daerah lain.

Direktur SETARA Institute, Ismail Hasani mengatakan IKT dilakukan oleh masyarakat sipil dalam hal ini Setara Institute dan untuk ketiga kalinya selalu disupport oleh kemendagri dan BPIP.

BACA JUGA: Wali Kota Jeriko Launching Kampung Kerukunan, Dimulai dari Fatubesi

Menurutnya, hal ini merupakan ikhtiar yang dilakukan masyarakat sipil dan jejaring untuk mempromosikan praktik-praktik terbaik, kepemimpinan terbaik, kebijakan terbaik, dinamika masyarakat sipil terbaik di 94 kota di Indonesia.

Ini merupakan kerja akademik dan advokasi yang membutuhkan support luar biasa. Oleh karena itu, Setara Institute memberikan penghargaan kepada 10 kota terbaik berdasarkan indeks yang ada. “Ini adalah pilihan yang tidak mudah, tapi komitmen BPIP dan Kemendagri untuk memastikan ada proses berkelanjutan untuk daerah yang memiliki indeks toleransi yang rendah,” kata Hasani.

Ia juga menegaskan, Setara Institute tidak mengeluarkan indeks kota intoleran. Yang dikeluarkan adalah kota toleran. Oleh karena itu, tentu ada yang nomor satu, ada yang nomor 94. “Kami mencatat kota-kota yang indeksnya rendah terus bergerak dari papan tengah ke papan atas, seperti Bogor, Tanjungbalai dan kota-kota lain,” pungkasnya. (rnc01)

  • 9.7K
    Shares

Komentar

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

News Feed