oleh

Gubernur VBL Diminta jadi Mediator Kasus Lanny Koroh vs UPG 45

Iklan Demokrat

Kupang, RNC – Perseteruan dosen UPG 1945, Dr. Lanny Koroh dengan rektor UPG 1945 dan Yayasan PGRI NTT menjadi topik diskusi Forum Academia NTT yang berlangsung di kantor Institute of Resource Governance and Social Change (IRGSC) Kupang, Senin (10/02/2020) sore.

Pada kesempatan itu, cendekiawan Pius Rengka mengusulkan agar Gubernur NTT Viktor Bungtilu Laiskodat berkenan menjadi mediator untuk menyelesaikan perseteruan tersebut. Diskusi ini dimoderatori oleh Rudy Rohi dan menghadirkan Dr. Lanny Koroh, Anggota Komisi V DPRD NTT Ana Waha Kolin, Peneliti IRGSC Dominggus Elcid Li, Eman Seran (Forum Academia NTT) dan Winston Neil Rondo.

Iklan Dimonium Air

Pius mengatakan kasus yang dihadapi oleh Lanny Koroh ini harus ditempuh juga melalui jalur mediasi, sehingga penyelesaian bisa berujung kepastian. Menurutnya, pendekatan yang harus dibangun menjurus pada pihak yang bisa memberikan jalan keluar dan memiliki peran kuat secara personal maupun kapabilitas sebagai seorang pemimpin. Oleh karena itu, pihak ketiga yang harus didekati dan menjadi mediator adalah Gubernur NTT Viktor Bungtilu Laiskodat.

“Kalau menurut saya langsung kepada VBL. Tujuan kita adalah bahwa persoalan selesai, tetapi ini kan persoalan sudah banyak tersebar di media sosial. Dan saya lihat Pak Sam itu tidak banyak berkomentar. Mungkin menurut saya bukan karena dia tidak mau berkomentar, tetapi tema yang mau dikomentari terlalu ringan buat dia. Jadi jangan salahkan dia juga,” jelasnya.

Ia menambahkan saat ini ada pihak yang dihadapi yakni seorang Rektor UPG 1945 Dr. David Selan dan Ketua Yayasan PGRI NTT Dr. Sam Haning. Mereka adalah citra pendidikan NTT. Maka dari hal tersebutlah Gubernur VBL memiliki peran agar dapat menempuh jalur damai. Pasalnya tuntutan Dr. Lanny adalah ingin diberhentikan dan keluar dari UPG 45.

Baca Juga:  Pabrik Rumput Laut di Semau Awetkan Rumput Laut tanpa Bahan Kimia

“Kita mau untuk memediasi ini. Perlu untuk mencari pihak ketiga. Menurut saya punya perasaan, pihak ketiga hanyalah VBL. Terserah mau duduk di mana. Pokoknya selesai, karena saya melihat bahwa ini cara yang dilakukan adalah cara damai,” ujar Pius. (rnc04)

Komentar

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

News Feed