oleh

Melihat Jejak-jejak CARE dan CIS Timor

SEPULUH tahun bukanlah waktu yang singkat untuk sebuah gerakan peduli bersesama dalam karya-karya kemanusiaan. Sepuluh tahun, kini sudah jadi sebuah kenangan.

Kenangan yang tak terlupakan baik oleh Yayasan Care Peduli (yang dulu bernama Care Internasional), CIS Timor maupun kelompok masyarakat dampingan yang berada di delapan desa dan dua kelurahan yang tersebar di Kabupaten TTS, Kabupaten Kota Kupang dan Kota Kupang.

Sepuluh tahun para pihak ini berinteraksi sosial dalam kerja-kerja kemanusiaan. Hari ini, kemesraan itu pun berlalu melalui acara Jejak-Jejak Pembelajaran yang dikemas dengan sangat bagus oleh IMR Spesialist Care Kupang, Agustinus Padju berkolaborasi dengan Tim PfR CIS Timor, Buche Ga (Wakil Direktur CIS), Roswitha Djaro (Koordinator Program dan Willy Fangidae, Knowledge Management Officer.

BACA JUGA: Mahasiswa Tani Oesapa Sukses Ubah Lahan Sampah jadi Lahan Sayuran

Acara ini dibuka oleh ibu Bona, CEO CARE Indonesia. Dalam sambutan pembukaannya beliau mengatakan bahwa “Care Indonesia dan CIS Timor sebagai mitra pelaksana telah mengimplementasikan Partnership for Resilience (Kemitraan untuk Ketangguhan) di Kabupaten Kupang, Kabupaten Timor Tengah Selatan dan Kota Kupang. Tahun 2020 adalah tahun kelima, sekaligus menjadi akhir kegiatan kami. Fokus kami pada fase kedua adalah membangun dialog dan berkolaborasi dengan pemerintah dan stakeholders terkait mulai dari level desa hingga nasional,” kata dia, Kamis (22/10/2020).

Hal ini dapat terlihat dengan presentasi kehadiran para peserta pembelajaran ini, di mana pesertanya mulai dari masyarakat desa hingga BAPPENAS Republik Indonesia. Kolaborasi stakeholders di berbagai tingkat mutlak perlu untuk mendukung pendekatan IMR (Integrated Risk Managment–Pengelolaan Resiko Terpadu).

Tujuan kegiatan selama periode ini adalah mempengaruhi dokumen-dokumen perencanaan desa ke dalam dokumen penunjang kebijakan seperti KLHS, RPJMD untuk mendukung tujuan pembangunan bekelanjutan di daerah.

“Capaian-capaian selama lima tahun itu menjadi model pembelajaran hari ini yang akan dibagi dan disebarluaskan karena kami yakin, tentu bermanfaat untuk program pembangunan keberlanjutan di daerah. Kami percaya, jejak-jejak pembelajaran Care-CIS tidak akan pernah berhenti, jejak-jejak Care dan CIS, tidak akan hilang,” demikian Bona menutupi sambutannya.

Selanjutnya, Buce Ga, Wakil Direktur mempresentasikan praktek-praktek baik yang telah dilaksanakan bersama CARE-CIS dan masyarakat dampingan. Praktek-praktek ini sebagai jejak-jejak kami yang hendak kami bagikan melalui testimoni para champions desa dan kelurahan, yang hendaknya menjadi model pembelajaran bersama pada momen ini.

Pembelajaran bersama yang dihadiri oleh delapan puluh tujuh peserta dari berbagai elemen itu menghadirkan beberapa pembicara, salah satunya adalah Wakil Walikota Kupang. Dalam paparan materinya beliau mengatakan bahwa CARE dan CIS Timor sangat tepat melakukan aksi-aksi kemanusiaan dari sisi ketangguhan bencana. “CARE dan CIS sudah sangat tepat melakukan aksi-aksi ini. Dan semuanya 100% bermanfaat untuk masyarakat,” kata Buce.

Selanjutnya, ia mengatakan bahwa untuk kerja-kerja kebencanaan butuh model pendekatan multi pihak alias pentahelix. Bencana tidak saja jadi urusan pemerintah, melainkan juga menjadi urusan pengusaha, akademisi, media massa dan masyarakat/LSM. Bila para pihak ini bergerak bersama-sama maka akan tercapai apa yang dinamakan kota/daerah tangguh. “Kota tangguh berarti, Kota yang tahan bencana, kecepatan pemulihan serta pelayanan publik yang cepat, tepat dan berbiaya murah. Itulah tiga ciri kota tangguh,” katanya menutupi pembicaraannya.

Pada sesi berikutnya, para champions dari tiga daerah memberikan testimoni tentang praktek-praktek baik yang telah dilakukan bersama Care dan CIS Timor. Praktek-praktek baik ini bagi Care dan CIS adalah jejak-jejak yang ditinggalkan sebagai sebuah model pembelajaran berkelanjutan bagi siapapun yang ingin belajar daripadanya.

Yanti Nunhitu, pengurus Forum Pengurangan Resiko Bencana (F-PRB) Kelurahan Oesapa menceritakan praktek baik yang dibuat bersama CARE dan CIS di kelurahan ini. Bahwa Forum PRB kelurahan berhasil bergandengan tangan dengan para pengusaha kecil dan menengah di kelurahan Oesapa untuk mendukung pengurangan resiko bencana. Forum PRB mengusulkan proposal kepada para pengusaha untuk meminta bantuan dana. Dana berhasil dikumpulkan sejumlah Rp 17 juta lebih. Dana tersebut sebagian besar digunakan untuk membiayai pembuatan tiga sumur resapan dan 100 lubang biopori. Bantuan pengusaha sangat bermanfaat karena dengan itu, meminimalisir kecelakaan, banjir dan genangan air yang setiap tahun tergenang setinggi lutut orang dewasa pada titik-titik tertentu.

Sementara itu, dari kabupaten TTS, Bapak Tenis Tuan mengatakan bahwa satu-satunya keberhasilan yang tidak dilupakan adalah sumur injeksi yang dibuat masyarakat bersama dengan CARE dan CIS Timor. Sumur injeksi ini ternyata menjadi model pembelajaran baik di desa itu sendiri maupun dari wilayah kecamatan lain. “Sumur injeksi sangat menolong kami di musim kering karena sekalipun kemarau panjang, kami masih memiliki persediaan air untuk kebutuhan pertanian hortikultura. Bila ada wilayah yang ingin mereplikasi model ini, kami siap membantu,” demikian Tenis Tuan mengakhiri testimoninya.

BACA JUGA: Kasus Kekerasan dalam Rumah Tangga Meningkat Selama Pandemi Covid-19

Terakhir, adalah testimoni dari Bapak Azer Naben, Kepala Desa Oelbiteno tentang pertanian yang ramah lingkungan. Kata dia, model pertanian ramah lingungan yang diajarkan oleh CARE dan CIS, pemerintah desa berkomitmen untuk mendukung praktek baik ini melalui Dana Desa.

Berbagai presentasi dan testimoni kemudian ditanggapi oleh Bappenas yang mengatakan bahwa praktek-praktek baik yang dilaksanakan oleh Care dan CIS menyumbang pada SDGs, teristimewa pada tujuan SDGs yang ketiga, kelima dan ketujuh belas. Ini sebuah hal yang luar biasa

Mba Nana mengakhiri pembelajaran bersama, yang dipandu oleh Juliana Ndolu, mengatakan jejak-jejak Care dan CIS bukanlah akhir dari semuanya, melainkan menjadi pekerjaan rumah bersama, dalam rangka menciptakan sebuah wilayah yang tangguh bencana. “Jejak-jejak ini kiranya dapat direplikasi oleh siapa saja yang menghendaki sebuah perubahan,” katanya. (*)

Komentar

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

News Feed