Ada Budaya Religi di Balik Tato “Lunat” Orang Dawan

Kota Kupangdibaca 823 kali

Kupang, RNC - “Lunat” atau yang diistilahkan lukisan permanen kuno pada tubuh orang Dawan - Timor, saat ini mulai dilirik sebagai salah satu kekayaan budaya yang harus dilestarikan, dan menjadi pengetahuan bagi generasi terkini dan masa depan.

Salah satu penggagasnya, yakni Lembaga Timor Indikator. Para orang muda ini menerangkan sejumlah pengetahuan, tentang kearifan lokal “Lunat” yang hampir memasuki masa kepunahan. Dan, hanya terbubuh ditubuh para kaum yang berusia lanjut. Peneliti dari Timor Indikator, Fransisco de KR A Jacob, saat mempresentasikan risetnya di Cafe Dekranasda NTT, Jumat (15/7/2026), mengungkapkan penelitian tentang tato kuno orang Dawan ini dilakukan di Kabupaten Timor Tengah Utara, Timor Tengah Selatan dan Kabupaten Kupang.

Risetnya terfokus pada praktik “Lunat” yang hilang. Sedangkan dari dokumen yang dimiliki museum Belanda pada masa dahulu, menyatakan secara menyeluruh masyarakat Timor sudah bertato. Dalam penelitian lapangan selama lebih kurang tiga bulan, Fransisco atau yang akrab disapa Ciko menyampaikan, ada sejumlah motif yang ditemukan. Motif tersebut pun mengungkap berbagai pengetahuan yang tentu bernilai religius budaya.

“Ada motif pohon, ada motif dari periuk tanah, tapi yang paling sering didapat itu motif cicak atau buaya. Karena itu berhubungan dengan mitologi asal mula terbentuknya Pulau Timor,” ungkapnya. Ciko menjelaskan, tato “Lunat” memiliki nilai religius pada masanya. Di mana, orang - orang Timor bertato sebagai bentuk ibadah terhadap kepercayaannya.

Simbol atau motif pun memiliki makna spiritual, misalnya motif hewan tokek bermakna kejujuran, sebab tokek walaupun tak terlihat, selalu bersuara dengan menyebut namanya, sehingga bisa diketahui setiap orang. Selain itu, ditemukan “Lunat” paling banyak terbubuh di tubuh wanita, mulai dari kaki, wajah, dada, perut hingga lengan. Hal ini menunjukkan suatu peran besar wanita yang dinilai sakral saat masa itu. Setiap wanita yang sudah berumah tangga, harus memiliki tato sebagai makna kasih sayang dan kehidupan.

Ciko memastikan, penelitian tato kuno orang Dawan ini sebagai langkah awal risetnya. Dia akan mengelilingi sejumlah daerah untuk mengetahui, seperti apa jenis dan pengetahuan dari lukisan permanen kuno yang ada di Nusa Tenggara Timur. Ia berharap, dari risetnya tersebut, generasi saat ini bisa memaknai kalau tato bukanlah suatu simbol kriminal, tetapi bagian dari budaya. Pasalnya, nilai tato memberikan banyak pengetahuan tentang makna suatu bangsa yang berbudaya. (rnc04)

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *