Ada Raja Termanu di Kirab Agung Tingalan Dalem Jumenengan di Keraton Kasunanan Solo

Nusantaradibaca 332 kali

Solo, RNC - Acara Tingalan Jumenengan ke-19 Dalem Paku Buwono XIII Kasusunanan Surakarta, (Kamis (16/2/2026) dibuka dengan prosesi adat Alam Kemisir, dari kerajaan Kepaksian Pernong Sekala Brak, Lampung. Tari ini biasanya dipertunjukkan untuk sultan berjalan ke suatu acara. Acara ini dihadiri Raja Termanu (Rote Ndao-NTT), Vico Amalo dan sang permaisuri Actry Amalo.

Pimpinan majelis adat kerajaan nusantara (MAKN) yang dipimpin oleh Sultan Sekala Brak Kepaksian Pernong, Paduka Yang Mulia Sai Batin Puniakan Dalom Beliau Brigjen Pol (Purn) Pangeran Edward Syah Pernong hadir. Dan memberikan sambutan kedatangan.

“Ada 13 Kesultanan, dan 18 Ratu menghadiri Jumenengan ke-19 ini, sekaligus kedatangan kami untuk silaturahim. Semoga Kasunanan Surakarta jaya,” kata Pangeran Edward Syah Pernong, Kamis (16/2/2026) dilansir detikcom.

Sambutan itu diterima oleh anak lelaki tertua PB XIII, KGPH Hangabehi yang mewakili Lembaga Dewan Adat (LDA) Keraton Kasunanan Surakarta. Dia mengatakan, kedatangan MAKN merupakan kehormatan bagi Keraton Kasunanan Solo.

“Kami persilakan untuk memasuki Keraton Kasunanan Surakarta Hadiningrat, dan berkenan menuju tempat yang telah dipersiapkan. Dengan harapan menjadi saksi, dan berkenan mengikuti keseluruhan acara Jumenengan dari awal hingga akhir,” kata KGPH Hangabehi.

Berlangsung Meriah

Acara Tingalan Jumenengan ke-19 SISKS Paku Buwono XIII Kasunanan Surakarta ini dimeriahkan dengan pertunjukan tari Bedhaya Ketawang. Tari tersebut merupakan tarian khas untuk memperingati penobatan raja Keraton Kasunanan Solo.

Salah satu kerabat Keraton Kasunanan Surakarta, KPH Eddy Wirabhumi mengatakan tari Bedhaya Ketawang merupakan salah acara inti dari acara Jumenengan. Acara kemudian dilanjutkan dengan kirab budaya.

“Kalau normalnya durasi tarian Bedhaya Ketawang sekitar 1 jam 40 menit. Utamanya itu tari Bedhaya Ketawang, setelah selesai akan dilanjutkan kirab,” kata KPH Eddy kepada wartawan, Kamis (16/2/2026).

Kanjeng Eddy menuturkan, Bedhaya Ketawang merupakan tarian yang sangat sakral dan hanya boleh ditampilkan setahun sekali saat Jumenengan. Tari ini juga tidak boleh ditampilkan secara sembarangan.

“Harus di tempat yang khusus, tidak boleh dilakukan di mana-mana. Penarinya juga khusus, tidak boleh sembarang penari,” ujarnya.

Pantauan detikJateng, sejumlah tamu undangan tampak hadir dalam acara ini. Mulai dari Wakil Wali Kota Solo Teguh Prakosa, Mangkunegoro X, hingga Majelis Adat Kerajaan Nusantara (MAKN).

Kanjeng Eddy mengatakan, untuk tamu dari luar keraton diberikan undangan khusus. Sedangkan untuk pihak keluarga keraton hadir tanpa undangan.

Dia menambahkan, sejumlah raja atau sultan yang hadir meliputi Sultan dari Lampung, Merauke, Sumenep, Sumedang Larang, Pakualaman, Cirebon, NTT dan Kalimantan Timur.

“Tidak hanya Keraton Solo, tetapi kerajaan yang lain untuk menyambung kembali benang merah kita dengan kerajaan mana pun. Termasuk di dalamnya sendiri, kalau di dalam ini kuat, tali temali kuat, nanti akan membentuk suatu kekuatan untuk bangsa kita,” pungkasnya. (*/dtc/rnc)

Dapatkan update informasi setiap hari dari RakyatNTT.com dengan mendownload Apps https://rakyatntt.com

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *