Kupang, RNC - Pemerintah Provinsi NTT menindaklanjuti arahan terkait kunjungan Presiden RI, Joko Widodo bersama Gubernur se-Indonesia ke Ibu Kota Negara (IKN) Nusantara.
Terkait agenda tersebut, Gubernur telah memerintahkan bupati di tiga kabupaten yakni Belu, Sumba Tengah dan Flores Timur untuk membawa satu kilogram tanah dari wilayahnya dan bupati di empat kabupaten yakni Alor, Sabu Raijua, Rote Ndao dan Lembata untuk membawa satu liter air dari wilayahnya. Pengambilan tanah dan air dilaksanakan dengan ritual/prosesi adat masing-masing daerah. Prosesi didokumentasikan (video dan foto) dan dinarasikan. Selanjutnya tanah dan air tersebut dibawa ke Kupang oleh bupati tanpa diwakilkan dengan berpakaian adat lengkap sesuai asal daerah pada Jumat (11/3/2026). Kemudian diserahkan kepada Gubernur untuk dibawa ke lokasi Ibu Kota Negara (IKN) Nusantara di Provinsi Kalimantan Timur.
Upacara dilaksanakan oleh para tua adat setempat disertai persembahan aneka hewan untuk mendapatkan restu leluhur. Tanah dan air diambil dari berbagai daerah dengan latar belakang budaya yang beragam di Provinsi Nusa Tenggara Timur.
Tanah merupakan persembahan tiga pulau besar yakni pulau Timor, Flores dan Sumba. Dari perbatasan dengan Negara Timor Leste, masyarakat Kabupaten Belu di dusun Halisikun, Desa Bakustulama, Kecamatan Tasifeto Barat menggali tanah dari leluhur sebanyak 77 kali dengan sebatang kayu suci Ai Suak.
Angka 77 ini merupakan simbol dukungan terhadap pendirian ibu Kota Negara Baru Nusantara yang dibangun bertepatan dengan usia Negara Kesatuan Republik Indonesia yang ke-77.
Dari ujung timur pulau Flores, sebongkah tanah diserahkan oleh masyarakat Lewotana Kabupaten Flores Timur. Tanah ini diambil dari kaki Gunung Ile Mandiri yang diyakini masyarakat setempat sebagai asal muasal manusia pertama yang menghuni kota Larantuka, ibu Kota Flores Timur.
Selanjutnya, segumpal tanah dari Kampung Anajika, Desa Anajika Kecamatan Umbu Ratu Nggai Barat, sebuah kampung tua dengan nilai historis budaya dan adat yang sangat kental, dipersembahkan secara tulus oleh masyarakat Kabupaten Sumba Tengah untuk menjadi fondasi pembangunan ibu kota baru Nusantara.
Selanjutnya air diambil dari pulau-pulau terluar di NTT. Masyarakat Adat Pitungbang, Kabupaten Alor mempersembahkan tetesan air dari Sumber Mata Air pegunungan Sey Palol. Masyarakat setempat mempercayainya sebagai air sakral yang merupakan karunia dari Tuhan Yang Maha Esa.
Dari beranda selatan, masyarakat Kabupaten Rote Ndao menyerahkan air dari sumber mata air Oemau yang merupakan sumber mata air terbesar di Rote Ndao. Kabupaten Sabu Raijua, daerah lainnya di batas Selatan NKRI juga mempersembahkan air dari sumber mata air Eimada Rai Jiwuwa sebagai simbol persatuan dan kesatuan dalam wadah Negara Kesatuan Republik Indonesia. Dan dari Kabupaten Lembata, mempersembahkan air kesejukan dan kedamaian untuk Indonesia dari Urumiten, satu-satunya sumber air untuk pertanian lahan basah di Kota Lewoleba, Ibu Kota Lembata.
Persembahan tanah dan air yang disatukan dengan ritual adat Timor Helong berkaitan dengan penyatuan tanah dan air disebut “BOIFANU” dari Provinsi Nusa Tenggara Timur memperteguh kebhinekaan dalam kesatuan Negara Kesatuan Republik Indonesia di Ibu Kota Negara-Nusantara.
Gubernur Nusa Tenggara Timur menyatakan dukungannya terhadap kebijakan pemerintah pusat terkait dengan penyatuan Nusantara yang dimulai dari pemindahan Ibu Kota Negara Nusantara. “Sebagai bentuk dukungan terhadap kebijakan Presiden Republik Indonesia, Bapak Joko Widodo untuk memindahkan Ibu Kota Negara dari Daerah Khusus Ibu Kota Jakarta ke Provinsi Kalimantan Timur, Pemerintah dan masyarakat Nusa Tenggara Timur menyerahkan tanah dan air dari rahim Flobamorata untuk disatukan dengan tanah dan air dari seluruh wilayah Negara Kesatuan Republik Indonesia,” ungkap Gubernur Viktor.
(*/rnc)
Download Apps RakyatNTT.com sekarang di https://rakyatntt.com













