oleh

Jurrasic Park, Wisata Superpremium yang Ancam Habitat Komodo

Iklan Covid Walikota Kupang

Kupang, RNC – Pro kontra tentang pembangunan Jurrasic Park di kawasan Taman Nasional Komodo, tepatnya di Pulau Rinca, Manggara Barat, NTT menjadi perbincangan hangat pada forum diskusi Himpunan Mahasiswa Pariwisata Indonesia (HMPI) Solution: Discussion Out Loud yang bertajuk Jurrasic Park, Wisata Super Premium, Komodo Dalam Bahaya?.

Acara HMPI Solution tersebut diselenggarakan secara daring pada Sabtu (5/12/2020) yang diikuti sekira 100 peserta. Ada 4 narasumber, masing-masing perwakilan mahasiswa dari tiap wilayah dan insan pers.

Iklan Dimonium Air

Kepala Bidang Kesejahteraan dan Advokasi HMPI, Lalu Abdul Azus, dalam acara pembukaan diskusi daring mengatakan bahwa kegiatan dimaksud merupakan aksi aspirasi mahasiswa terhadap Wisata Super Premium yang membahayakan spesies Komodo. “Kami mengamati bahwa keinginan pemerintah untuk mempercantik taman nasional ala Jurrasic park tersebut terbentur adanya kekhawatiran akan keberlangsungan hidup hewan komodo itu sendiri dan menjadi tolak ukur negara lain terhadap Indonesia untuk melestarikannya,” kata Abdul.

Senada dengan itu, Aloysius Suhartim selaku Ketua Forum Masyarakat Peduli dan Penyelamat Pariwisata Manggarai Barat (Formabb MaBar) yang juga seorang ranger atau pemandu wisata di Taman Nasional Komodo, mengimbau agar pemerintah meninjau kembali kebijakan yang telah dikeluarkan tentang pembangunan di pulau Rinca.

BACA JUGA: Formapp Mabar: Komodo Minta Ditolong Masyarakat

“Selama ini Komodo tetap eksis itu karena tidak ada campur tangan manusia. Kalau rumahnya atau habitatnya dihancurkan dan diganti maka komodo akan stress, tidak mau makan dan ujung-ujungnya mati,” kata Aloysius.

Menurutnya, pembangunan itu adalah tindakan pengrusakan yang permanen dan tidak bisa diganti. Komodo bisa punah karena komodo itu spesies langka yang bisa punah karena iklim, perburuan liar, penetrasi asing yang merubah habitat dan karakter. Hal yang terakhir ini yang memungkinkan komodo nantinya hanya tinggal cerita.

Ketika ditanya tentang makna superpremium menurutnya, superpremium yang dimaksud yakni pariwisata yang berbasis alam, budaya dan masyarakat adat. Pariwisata harus memutuskan rantai kemiskinan, mensejahterakan masyarakat lokal dan mempekerjakan masyarakat. (rnc07)

  • 31
    Shares

Komentar

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

2 komentar

News Feed