oleh

Warga NTT Ini Lolos Kecelakaan Sriwijaya Air lantaran Harga Swab yang Mahal

Kupang, RNC – Salah satu warga Noelbaki, Kabupaten Kupang, NTT, yang ada dalam daftar manifes pesawat Sriwijaya Air SJ182 adalah Paulus Yulius Kollo. Beruntung ia batal berangkat menggunakan penerbangan Sriwijaya Air.

Dilansir dari Kompas.com, Paulus bersama salah satu rekan kerjanya Indra Wibowo lolos dari peristiwa maut itu. Awalnya mereka hendak berangkat dari Makassar, Sulawesi Selatan menuju Pontianak. Paulus bekerja di salah satu perusahaan telekomunikasi terkemuka di Indonesia.

Perusahaannya yang membeli tiket pesawat untuk dia dan temannya. Karena tidak ada penerbangan langsung, sehingga keduanya transit di Jakarta. Paulus dan rekannya berangkat dari Makassar ke Jakarta menggunakan hasil tes biasa.

BACA JUGA: Empat Warga Asal NTT Ada di Daftar Manifest Sriwijaya Air

Untuk masuk ke Pontianak diwajibkan menunjukkan hasil swab. Namun karena biaya swab yang sangat mahal menyurutkan ninat Paulus dan rekannya itu untuk menumpang Sriwijaya Air. Keduanya memutuskan berangkat ke Pontianak dari Jakarta menggunakan kapal. “Itu betul nama saya. Kemarin saya mau ke Pontianak, tapi karena ada sedikit kendala maka saya cancel tiket,” ungkap Paulus melalui pesan singkat, Minggu (10/1/2021) seperti dilansir Kompas.com.

Paulus mengaku baru mengetahui terkait kecelakaan Sriwijaya Air saat baru mendapat sinyal. Dia diberitahu oleh keluarga dan pimpinan tempat dia bekerja. Saat ini Paulus dan temannya masih berada di tengah laut. “Saya dan teman Indra ada dalam manifes pesawat, tapi kami berdua batal terbang. Sekarang kami berada dalam kapal dan satu jam lagi berlabuh di pelabuhan,” ungkap Paulus.

BACA JUGA: Pramugari Ini Beri Pesan Terakhir lewat Instagram Story

Paulus mengatakan, namanya masih tertera dalam manifes pesawat, karena saat batal berangkat, mereka tidak menginformasikan kepada pihak Sriwijaya Air. “Syukur dan puji Tuhan, ini sudah rencana Tuhan untuk itu semua,” kata Paulus.

Dia meminta keluarganya di Kupang untuk tetap tenang dan tidak perlu khawatir karena dirinya baik-baik saja. “Tadi malam juga, semua keluarga di Kupang telepon saya. Cuma tidak masuk, gara-gara tidak ada jaringan karena di tengah laut,” kata dia. (kompas/rnc)

Komentar

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

2 komentar

  1. Saran saya untuk semua pihak.. bahwa kondisi bandara Sukarno Hatta saat ini merupkan bendara yang sangat luas.
    Kejadian jatuhnya pesawat terjadi secara beruntun pada area yang hampir sama….
    Ini menu jukn bahwa perlu afa pendekatan secara mistik dengan para penguasa wilaya banten…
    Percya atau tidak percaya bahwa saat ini ada kekuatan gaib jhudusnya penguasa daerah banten yang bgitu marah karena adanya ketidak leluasa bagi alam gaib untuk beraktivitas sejak di perluas bandara tanpa ada kominikasi dengan mereka dlm hal ijin. Makanya amarah para makluk gaob banteng merasa marah sehingga kekuatan alam gaib tentu memibta korban … dan secara fakta su dua pesawat yg jatuh utk membuat kita sadar …. bgmna sikap kita yang sudah menguasai lokasi mereka.

News Feed