oleh

Hening 24 Jam, Inilah Makna Hari Raya Nyepi

Iklan Covid Walikota Kupang

Denpasar, RNC – Bali menjadi sorotan tiap Hari Raya Nyepi. Pulau yang mayoritasnya beragama hindu itu akan hening dalam penyembahan.

Hari Raya Nyepi merupakan tahun baru umat Hindu yang berdasar pada penanggalan caka (kalender). Penanggalan ini sudah ada sejak 78 masehi.

Iklan Dimonium Air

Berbeda, itulah Nyepi. Kalau tahun baru agama selalu ramai dan semarak, Nyepi mencolok dengan kesunyiannya.

Ya, seperti namanya, Nyepi dilakukan dengan cara berdiam diri. Umat hindu akan berada di rumah, tidak melakukan aktivitas apa pun di luar rumah.

Dirangkum detikTravel, Nyepi adalah permohonan kepada Tuhan untuk menyucikan Bhuana Ali (alam manusia) dan Bhuana Agung (alam semesta).

Hai Raya Nyepi tak hanya dilakukan satu hari saja. Sebelum dan sesudah Nyepi, ada rangkaian ritual yang harus dilakukan.

1. Melasti, Tawur, Pengrupukan

Dua hari sebelum Nyepi, umat Hindu melakukan persembahyangan di laut maupun danau, sembari menyucikan segala benda sakral dari Pura.

Menurut kepercayaan Hindu, laut dan danau merupakan sumber air suci (Tirta Amerta) yang mampu menyucikan berbagai hal kotor (dalam diri manusia serta alam).

Tidak hanya upacara Melasti, dalam rangkaian Hari Raya Nyepi juga ada Tawur yang dilaksanakan sehari sebelum Nyepi, dengan menyiapkan sesajen (caru) di rumah masing-masing.

Rangkaian hari raya Nyepi diikuti pengrupukan atau Mecaru, yaitu menebar nasi Tawur di sekeliling rumah sambil memukul kentongan hingga gaduh.

Makna dari pengrupukan ini bermaksud untuk mengusir Buta Kala yang ada di sekitaran tempat tinggal. Prosesi Mecaru khususnya di Bali turut dimeriahkan dengan pawai ogoh-ogoh berwujud Buta Kala, yang menggambarkan sifat buruk manusia seperti tamak atau jahat.

BACA JUGA: Ucapkan Selamat Hari Raya Nyepi, Wali Kota: Perkokoh Persaudaraan Kita

Baca Juga:  Seluruh Civitas Unwar Bali Bangga Simon Nahak jadi Bupati Malaka

Di akhir ritual,ogoh-ogoh tersebut dilenyapkan dengan cara dibakar sebagai bentuk membersihkan sifat buruk.

2. Nyepi

Setelah Mecaru, keesokan harinya memasuki puncak Hari Raya Nyepi yang berlangsung selama 24 jam dan tidak ada aktivitas seperti biasa.

Pada Hari Penyepian (Catur Brata),umat Hindu tidak boleh menyalakan api, tidak boleh berpergian, tidak boleh berkegiatan apapun serta tidak boleh mencari hiburan.

Saat Hari Raya Nyepi, suasana lingkungan pun akan seperti kota mati, sunyi, sepi, hingga tidak ada cahaya lampu yang menerangi. Hal ini juga berlaku untuk wisatawan lokal maupun mancanegara, apabila sedang berkunjung ke Bali saat Nyepi maka harus ikut serta menghormati aturan tersebut.

Tujuan dari Penyepian ini sebagai bentuk introspeksi atau menyucikan diri, dengan melepas semua hal yang berhubungan dengan kehidupan duniawi dalam sehari penuh.

Saat Nyepi, bagi yang mampu disarankan berpuasa 24 jam, tapa, yoga maupun semadi untuk merenungi dosa-dosa sekaligus memberi kesiapan diri menyambut tahun baru.

3. Ngembak Geni

Setelah Penyepian, ada ritual Ngembak Geni, yaitu umat Hindu melakukan Dharma Shanti atau mengunjungi keluarga dan tetangga untuk saling memaafkan satu sama lain.

Dharma Shanti ini sama seperti Lebaran, supaya menjadi lebih bersyukur, memaafkan segala kekeliruan di tahun sebelumnya dan memulai lembaran baru dengan hati yang bersih.

Berdasarkan pengertian kehinduan, Dharma Shanti adalah filsafat Tattwamasi yang memandang semua manusia di penjuru bumi sebagai ciptaan Ida Sanghyang Widhi Wasa.

Secara kodratnya, manusia harus saling menyayangi serta hidup dalam kerukunan dan kedamaian. Tradisi Ngembak Geni merupakan penutup dari rangkaian Hari Raya Nyepi umat Hindu yang berlangsung di Bali, pada setiap tahunnya.

(*/dtc/rnc)

Komentar

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

News Feed